Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden sutra berwarna gading, Bella menggeliat pelan. Ia menarik selimutnya, berusaha bersembunyi, mencoba mencuri beberapa menit kedamaian pagi hari. Namun, aroma lilin aromaterapi melati dan cahaya pagi perlahan merenggutnya kembali ke realitas. Realitas yang mengintimidasi. Saat matanya terbuka sepenuhnya, dua wanita berseragam hitam-putih sudah berdiri di sisi tempat tidurnya. Tangan mereka terlipat rapi, kepala sedikit menunduk. "Selamat pagi, Nyonya Bella." Suara mereka terdengar serempak, datar, dan terlatih. Bella refleks memegangi dadanya yang berdegup kencang. "Ya ampun ...," gumamnya lirih, mencoba mengatur napas. "Kalian berdua hampir membuatku jantungan." Irene dan Tasya, kedua pelayan pribadinya, hanya saling bertukar pandang sekilas. "Mohon maaf jika kami mengejutkan Anda, Nyonya." jawab Irene. Bella mengembuskan napas panjang, membiarkan tubuhnya tenggelam kembali ke tumpukan bantal bulu angsa. Sebulan yang lalu,
Ler mais