Mag-log in"Ini tidak pantas."
Tesa berputar seraya menatap Duke, ia berhasil menyusuri koridor dan akhirnya menemukan pintu ganda di balik ruang duduk yang mengarah ke taman.Di luar udara lumayan dingin, dan jelas salju mungkin akan segera turun."Kenapa kau memintaku keluar di saat kita sedang di ruang makan?"Duke sedang menyandarkan punggungnya di salah satu dinding dengan lengan terlipat di depan dada. Lalu perlahan berdiri tegak.Ia mendekati Tesa. "ApKematian Lady Jasmine yang mendadak ternyata membawa duka bukan hanya pada Diana tapi masyarakat di Hila.Mereka sempat mendengar tentang berita penembakan tetapi tidak berani mendekat karena ada Duke. Saat pengumuman Lady Jasmine meninggal disampaikan. Berbondong-bondong orang datang untuk melayat. Namun yang Tesa sadari adalah cerita mereka tentang sang Lady selalu sama."Lady Jasmine adalah orang yang perhatian." Selama menjadi tahanan rumah, beliau banyak membantu para janda, manula dan anak-anak untuk berkegiatan membaca dan menulis. "My Lady terima kasih atas jasamu.""My Lady pergilah dalam damai.""Aku akan merindukanmu My Lady.""Kami akan menjaga buku-buku yang kau berikan dan akan terus belajar membaca dan menulis. Terima kasih karena sudah bersama kami My Lady."Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang mereka ucapkan saat melayat. Hal itu membuat tangisan Diana sulit berhenti. Di antara semua orang, dialah
"Aku bermimpi Lord Veldam." Lady Jasmine suaranya sangat lemah. Tiga hari telah berlalu sejak penembakan. Tesa mengetahui dari suaminya bahwa si penembak sudah tertangkap. Dan pria itu berasal dari ibu kota Kirk yang sengaja dikirim untuk membunuh keturunan mantan komandan. Saat ini Lady Jasmine masih kesulitan, ia tertidur dengan posisi tengkurap dengan kain yang melintang di punggungnya. Tesa duduk di pinggir ranjang, mendengarkan dia bicara."Kurasa dia sangat dendam padaku, bertahun-tahun aku selingkuh. Dia tidak pernah tahu apapun, katakanlah bahwa aku sangat pintar atau justru dia sebenarnya tidak peduli padaku."Tesa diam menyimak."Tapi Veldam adalah pria yang baik, meski sepanjang hidupnya dia sibuk bekerja, dia tidak pernah luput dari tugasnya sebagai seorang suami. Pria sepertinya tidak akan kutemukan lagi sekalipun aku sangat cantik."Ia terbatuk kecil, lamanya tidur dengan posisi seperti itu membuat pernafasan Lady Jasmine s
Gabriel mendekap erat Garret di dadanya, putranya baru saja tertidur setelah berjam-jam menangis. Sayangnya Garret pasti akan terbangun jika Gabriel meletakkannya di kasur. Putranya sangat ketakutan, dan ia tidak mau dengan siapapun selain Papanya. Tidak dengan Raina, Diana, atau bahkan Romeo. Garret menolak mereka semua dan hanya ingin dipeluk oleh Gabriel. Ragnar sudah pergi beberapa jam lalu bersama prajurit dan rombongan Romeo mengejar si penembak. Dan Gabriel yakin pria itu tidak akan bisa lolos. Gabriel memerintahkan padanya harus membawa pria itu hidup-hidup. Dan sekarang, berjam-jam sudah berlalu, matahari mulai terbenam namun Tesa dan dokter Dixon belum juga keluar dari kamar tempat Lady Jasmine diobati. Pintu itu tertutup rapat, hanya Rose dan dokter Shiloh yang bolak-balik keluar masuk, pontang-panting membawa peralatan, dan di antara semua kesibukan itu, mereka tidak bicara. "Nanti," sahut dokter Shiloh ketika
"Kenapa kalian baru keluar? Aku sudah penuh dengan lumpur!" Garret berseru saat melihat orang tuanya muncul di pagi harinya ketika bermain golf.Ia kesal karena berkali-kali didzholimi oleh Paman rubah, dan itu menyebalkan bolanya tidak bisa bergulir jauh, saat ia mengayun dengan kuat, tubuhnya ikut berayun dan terjungkal ke depan.Sangat tidak terhormat!Tesa mesam-mesem, ia tidak berani melirik ke arah suaminya di saat seperti ini karena semua orang bisa curiga."Maafkan aku Garret.""Papa ada urusan penting," jawab Gabriel dengan sikap diplomatis. Nada suaranya sangat berbeda saat di kamar tadi, lebih berwibawa, lebih tegas, dan wajahnya pun kelihatan datar. Inikah pria yang sejak kemarin sore dan semalam tidak melepaskannya barang sebentar? Pria yang membuat Tesa lemas bahkan untuk menopang kakinya sendiri?Pipi Tesa bersemu panas."Apa kau melakukan yang terbaik Garret?" tambah suaminya itu."Tentu saja bol
"A-aku sudah membelitanya, lukanya juga tidak terlalu dalam. Besok pun kau akan lebih baik asal tidak terkena air," sahut Tesa berusaha tenang. Jujur Tesa tidak tahu harus menaruh tangannya di mana dan akhirnya ia menyentuh kedua bahu kekar Gabriel. Ibu jari suaminya terasa mengusapi pinggang Tesa, dan ia harus menunduk menahan diri agar tidak mendesah atau merespon."Kurasa ada sakit yang lain yang tidak bisa kujelaskan," sahut Gabriel lembut. "Aku harus memasak untuk–""Sebentar saja Duchess."Namun Tesa takut sekali, ia seperti kelinci yang terjebak, tidak mampu bergerak sementara jemari Gabriel kini menyelipkan anak rambutnya yang lepas dari sanggulan ke balik daun telinga.Tubuh Tesa bergetar pelan dengan sentuhan tangan Gabriel yang kasar tetapi gerakannya sangat hati-hati.Gabriel pandai membuat kakinya lemas bagaikan pudding cherry. "Duke, lepaskan aku, yang lain bisa melihat.""Siapa maksudmu?" tanya suaminya i
Lady Jasmine menyadari ada yang janggal dari putra dan menantunya ketika melihat mereka berdekatan.Ketika sarapan misalnya, Tesa sengaja menyiapkan peralatan makan dan mengambilkan lauk pauk di meja. Dan saat tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan milik Gabriel, dia langsung menarik tangan itu. Tetapi wajahnya memerah karena malu. Sementara Gabriel akan berdeham salah tingkah dengan berpura-pura bertanya apakah Garret butuh lauk itu juga.Hal ini terus berlanjut sampai mereka saling membersihkan jendela. Gabriel akan dengan senang hati mengangkat ember berisi air yang berat untuk dibawa di dekat Tesa sementara menantunya itu tetap sibuk mengelap kaca. Dan saat airnya harus diganti, dia akan mengedipkan matanya pada ember. Lalu Gabriel segera mengangkut dan membuangnya serta memberikan Tesa ember baru dengan air bersih.Semua itu mereka lakukan tanpa bicara. Seakan Tesa berusaha keras untuk memusuhi Gabriel sementara Gabriel terus menempel di
"Ragnar." Pria itu tidak terburu-buru mengangkat kepala. Pembawannya tenang. Ia adalah sahabat sekaligus teman Gabriel di barak angkatan laut. Sayangnya, luka di kaki Ragnar akibat pertempuran laut utara telah membuatnya cedera. Dan karena itu ia didepak dari militer.Itulah se
"Kurasa aku tidak suka topi itu.""Kau menganggapnya buruk?""Kepalaku terlalu kecil Duke, kalau mengenakannya aku akan terlihat seperti anak anjing yang hilang."Gabriel mengangkat alis, namun sudut bibirnya berkedut. Dengan gerakan terhormat ia meletakkan kembali bend
Mathius banyak sekali mendapatkan informasi setelah kembali berkunjung dari kediaman kerabatnya. Dan semua kabar itu, membuatnya murung. Duke sudah berjanji akan memperlakukan Tesa dengan pantas. namun kejadian penembakan di halaman telah menggores kepercayaan Mathius."Di mana Duke seka
"Duke?" Tesa buru-buru ke halaman, begitu membuka pintu hawa dingin langsung menampar wajahnya. Ia menahan napas, matanya menyipit lalu melihat Duke di tengah-tengah lapangan. Pria itu berdiri tegak. Ia sadar bahwa Duke marah karena semalam Tesa menola







