Share

74: Rambut Panjang

Author: Titi Chu
last update publish date: 2026-04-18 18:00:56

"Ini tidak pantas."

Tesa berputar seraya menatap Duke, ia berhasil menyusuri koridor dan akhirnya menemukan pintu ganda di balik ruang duduk yang mengarah ke taman.

Di luar udara lumayan dingin, dan jelas salju mungkin akan segera turun.

"Kenapa kau memintaku keluar di saat kita sedang di ruang makan?"

Duke sedang menyandarkan punggungnya di salah satu dinding dengan lengan terlipat di depan dada. Lalu perlahan berdiri tegak.

Ia mendekati Tesa. "Ap
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   104: Kematian

    Kemewahan di kastil Veldam masih tersisa meski pagi sudah menjelang.Para bangsawan berkeliling kastil, beberapa ada yang duduk di taman, menikmati sarapan dengan suara obrolan ceria sambil tertawa."Kau lihat gadis yang semalam menggunakan veil? Kudengar dia sebenarnya buruk rupa, setidaknya itulah yang kudengar dari Lady Alphen. Itu sebabnya dia menyembunyikan wajahnya ..." Seorang gadis bangsawan terdengar mencemooh tertawa."Lucu sekali, tapi Duke sepertinya sangat menyukai gadis itu.""Ah, dari mana kau tahu?""Ada yang melihat mereka berbicara di taman. Bukankah itu sangat tidak pantas? Kenapa mereka hanya berdua? Kurasa skandal baru saja terjadi.""Luar biasa, apakah Duke ...""Hei, apa yang kalian lakukan?" Monica mendengar semuanya, ia berderap cepat menuju ke teman, ke sebuah tenda piknik sarapan para bangsawan.Betapa situasi ini telah membuatnya sakit kepala. Monica berharap bahwa ciumannya dengan Du

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   103: Bukan Mata-Mata

    Posisinya yang lebih rendah membuat Tesa merasa rentan. Ia buru-buru berdiri, tangannya mengepal kuat, amarah menggelenggak. Sikap permusuhan yang Duke berikan telah membuatnya defensif. Tesa melepas kedua heels pemberian Duke, kendati tubuhnya lebih pendek, dia tetap berdiri tegak, membiarkan kakinya yang telanjang menyentuh lapisan paving block yang dingin. "Aku yakin itu bukan urusanmu Tuan Duke." Suaranya keras dengan mendongak, menatap pria itu. Gabriel tetap datar. "Kenapa kau sangat marah saat aku hanya mengutarakan apa yang baru saja kudengar?" "Tidak sopan menguping." "Katakan itu pada dirimu sendiri, Tesa." Perlahan, Gabriel memiringkan kepala. Bibirnya bergaris tipis, mencemooh. "Jadi itulah namamu, benar?" "Aku yang lebih dulu ada di sana!" Tesa menyembur garang, ia tidak akan menyerah pada pria ini. Duke salah paham tapi tingkahnya benar-benar tidak masuk akal. Dan m

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   102: Lamaran Pernikahan

    Kenapa Duke melakukannya?Pertanyaan itu terus terngiang di kepala Tesa selagi mencari jalan keluar.Ia berderap meninggalkan pesta, lalu meninggalkan aula kastil Veldam. Dingin menusuk kulitnya saat melewati taman, hingga tiba-tiba suara itu datang."Tesa?"Tesa nyaris berjengit, kemudian mengembuskan napas lega ketika menyadari pria itu dokter Mathius."Tu-tuan dari mana kau?"Dokter Mathius berbau seperti kuda, rambutnya berantakan, dan ia menggunakan mantel merah tebal."Bukankah aku yang harusnya bertanya begitu?" tanya Mathius balik. Ia melirik ke belakang Tesa, tempat aula Veldam masih menguarkan musik ceria. "Kau benar-benar datang ke pesta?""Ya-ya, aku pikir, tidak ada salahnya jika aku datang, bukan? Aku harus mencari tahu orang yang mengirimkan surat.""Dan kau sudah tahu?"Mata Tesa berkabut sejenak karena perasaan yang memberat, namun suaranya tegas. "Tidak Tuan."Dokter

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   101: Pikiran Dangkal

    Bagaimana mereka bisa di sini? Bagaimana mungkin kecepatan mereka bisa menyamai kecepatan langkahnya?Tesa telah melarikan diri secepat kilat, namun mereka bahkan tidak sulit untuk langsung keluar dari aula."Pesta ini sangat cantik, aku suka dengan lilin-lilinnya, bunganya..." Suara Monica perlahan mendayu lembut. Wanita itu memejamkan mata seraya menarik napas panjang, lalu menoleh pada Duke. "Kau menikmatinya Duke?""Sangat." Gabriel mengangguk.Tesa semakin mundur. Mereka hanya dipisahkan pagar dengan tanaman rambat yang mengelilingi, sehingga suara mereka terdengar jelas. "Setelah ini kita hanya perlu menyiapkan pesta pernikahan, orang tuaku juga akan datang dari Falkenburg." Monica melanjutkan. "Saat kau terluka, kupikir hari ini tidak akan terjadi.""My Lady, maafkan aku." Suara Gabriel sangat menenangkan. Ia sering membicarakan sang tunangan. Pria itu pasti sangat bahagia karena kini akhirnya bertemu dengan Monica.

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   100: Dari Selatan

    Rasa gugup membebani punggung Tesa selagi pandangannya yang memburam dari balik veil menyapu sekitar.Duke telah mengancam akan membunuhnya jika berani kabur. Dan Tesa tidak berani menceritakan hal ini pada dokter Mathius. Tesa sudah banyak merepotkan, harusnya dia tidak banyak mengeluh. Terlebih, dia sendirilah yang harus meluruskan kesalahpahaman ini pada Duke.Seorang Lady mendekatinya selagi Tesa berjalan dengan canggung. "Kau..." Wanita itu sangat cantik dan kelihatannya tertarik dengan siapa wanita di balik veil tipis itu. "Dengan siapa kau datang ke sini, Lady?""Aku tamu jauh Yang Mulia.""Tamu jauh?" ulangnya. "Apakah kau putri bangsawan dari Selatan?"Degup jantung Tesa seperti memukul hebat dari balik tulang rusuknya. Ia menelan ludah. Untuk meyakinkan Lady itu, Tesa terbata-bata menjawab. "Be-benar Yang Mulia, aku datang sebagai perwakilan dari Selatan.""Ah, siapa namamu?" Wanita itu mengulurkan tangannya y

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   99: Kau Datang

    Monica berdiri di tepi ruangan, memegang gelas sherry dengan anggun. Gaun lavender yang ia banggakan jatuh sempurna di tubuhnya, dan di lehernya berkilau kalung zamrud pemberian Duke, batu hijau besar yang menangkap cahaya lilin setiap kali ia bergerak.Beberapa gadis bangsawan mengelilinginya, tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan.Monica tersenyum sopan, sesekali menanggapi. Namun matanya terus melirik pintu lengkung masuk.Kartu dansanya masih kosong, ia menolak beberapa bangsawan yang ingin mengajaknya berdansa karena ingin Duke menjadi yang pertama.Dan sekarang, musik sudah mulai dimainkan. Beberapa pasangan telah turun ke lantai dansa, rok berputar seperti bunga yang bermekaran.Tapi Duke belum nampak batang hidungnya."Apakah Duke belum datang?" tanya salah satu gadis di sampingnya.Monica tertawa kecil, mencoba terlihat santai. "Dia pasti sedang ditahan urusan penting." Kendati demikian, jemarinya menggengga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status