مشاركة

74: Rambut Panjang

مؤلف: Titi Chu
last update تاريخ النشر: 2026-04-18 18:00:56

"Ini tidak pantas."

Tesa berputar seraya menatap Duke, ia berhasil menyusuri koridor dan akhirnya menemukan pintu ganda di balik ruang duduk yang mengarah ke taman.

Di luar udara lumayan dingin, dan jelas salju mungkin akan segera turun.

"Kenapa kau memintaku keluar di saat kita sedang di ruang makan?"

Duke sedang menyandarkan punggungnya di salah satu dinding dengan lengan terlipat di depan dada. Lalu perlahan berdiri tegak.

Ia mendekati Tesa. "Ap
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   168: Dunia Baru

    Kematian Lady Jasmine yang mendadak ternyata membawa duka bukan hanya pada Diana tapi masyarakat di Hila.Mereka sempat mendengar tentang berita penembakan tetapi tidak berani mendekat karena ada Duke. Saat pengumuman Lady Jasmine meninggal disampaikan. Berbondong-bondong orang datang untuk melayat. Namun yang Tesa sadari adalah cerita mereka tentang sang Lady selalu sama."Lady Jasmine adalah orang yang perhatian." Selama menjadi tahanan rumah, beliau banyak membantu para janda, manula dan anak-anak untuk berkegiatan membaca dan menulis. "My Lady terima kasih atas jasamu.""My Lady pergilah dalam damai.""Aku akan merindukanmu My Lady.""Kami akan menjaga buku-buku yang kau berikan dan akan terus belajar membaca dan menulis. Terima kasih karena sudah bersama kami My Lady."Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat yang mereka ucapkan saat melayat. Hal itu membuat tangisan Diana sulit berhenti. Di antara semua orang, dialah

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   167: Pecah

    "Aku bermimpi Lord Veldam." Lady Jasmine suaranya sangat lemah. Tiga hari telah berlalu sejak penembakan. Tesa mengetahui dari suaminya bahwa si penembak sudah tertangkap. Dan pria itu berasal dari ibu kota Kirk yang sengaja dikirim untuk membunuh keturunan mantan komandan. Saat ini Lady Jasmine masih kesulitan, ia tertidur dengan posisi tengkurap dengan kain yang melintang di punggungnya. Tesa duduk di pinggir ranjang, mendengarkan dia bicara."Kurasa dia sangat dendam padaku, bertahun-tahun aku selingkuh. Dia tidak pernah tahu apapun, katakanlah bahwa aku sangat pintar atau justru dia sebenarnya tidak peduli padaku."Tesa diam menyimak."Tapi Veldam adalah pria yang baik, meski sepanjang hidupnya dia sibuk bekerja, dia tidak pernah luput dari tugasnya sebagai seorang suami. Pria sepertinya tidak akan kutemukan lagi sekalipun aku sangat cantik."Ia terbatuk kecil, lamanya tidur dengan posisi seperti itu membuat pernafasan Lady Jasmine s

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   166: Harapan Hidup

    Gabriel mendekap erat Garret di dadanya, putranya baru saja tertidur setelah berjam-jam menangis. Sayangnya Garret pasti akan terbangun jika Gabriel meletakkannya di kasur. Putranya sangat ketakutan, dan ia tidak mau dengan siapapun selain Papanya. Tidak dengan Raina, Diana, atau bahkan Romeo. Garret menolak mereka semua dan hanya ingin dipeluk oleh Gabriel. Ragnar sudah pergi beberapa jam lalu bersama prajurit dan rombongan Romeo mengejar si penembak. Dan Gabriel yakin pria itu tidak akan bisa lolos. Gabriel memerintahkan padanya harus membawa pria itu hidup-hidup. Dan sekarang, berjam-jam sudah berlalu, matahari mulai terbenam namun Tesa dan dokter Dixon belum juga keluar dari kamar tempat Lady Jasmine diobati. Pintu itu tertutup rapat, hanya Rose dan dokter Shiloh yang bolak-balik keluar masuk, pontang-panting membawa peralatan, dan di antara semua kesibukan itu, mereka tidak bicara. "Nanti," sahut dokter Shiloh ketika

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   165: Lumpur

    "Kenapa kalian baru keluar? Aku sudah penuh dengan lumpur!" Garret berseru saat melihat orang tuanya muncul di pagi harinya ketika bermain golf.Ia kesal karena berkali-kali didzholimi oleh Paman rubah, dan itu menyebalkan bolanya tidak bisa bergulir jauh, saat ia mengayun dengan kuat, tubuhnya ikut berayun dan terjungkal ke depan.Sangat tidak terhormat!Tesa mesam-mesem, ia tidak berani melirik ke arah suaminya di saat seperti ini karena semua orang bisa curiga."Maafkan aku Garret.""Papa ada urusan penting," jawab Gabriel dengan sikap diplomatis. Nada suaranya sangat berbeda saat di kamar tadi, lebih berwibawa, lebih tegas, dan wajahnya pun kelihatan datar. Inikah pria yang sejak kemarin sore dan semalam tidak melepaskannya barang sebentar? Pria yang membuat Tesa lemas bahkan untuk menopang kakinya sendiri?Pipi Tesa bersemu panas."Apa kau melakukan yang terbaik Garret?" tambah suaminya itu."Tentu saja bol

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   164: Perlu Dipuaskan

    "A-aku sudah membelitanya, lukanya juga tidak terlalu dalam. Besok pun kau akan lebih baik asal tidak terkena air," sahut Tesa berusaha tenang. Jujur Tesa tidak tahu harus menaruh tangannya di mana dan akhirnya ia menyentuh kedua bahu kekar Gabriel. Ibu jari suaminya terasa mengusapi pinggang Tesa, dan ia harus menunduk menahan diri agar tidak mendesah atau merespon."Kurasa ada sakit yang lain yang tidak bisa kujelaskan," sahut Gabriel lembut. "Aku harus memasak untuk–""Sebentar saja Duchess."Namun Tesa takut sekali, ia seperti kelinci yang terjebak, tidak mampu bergerak sementara jemari Gabriel kini menyelipkan anak rambutnya yang lepas dari sanggulan ke balik daun telinga.Tubuh Tesa bergetar pelan dengan sentuhan tangan Gabriel yang kasar tetapi gerakannya sangat hati-hati.Gabriel pandai membuat kakinya lemas bagaikan pudding cherry. "Duke, lepaskan aku, yang lain bisa melihat.""Siapa maksudmu?" tanya suaminya i

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   163: Belum Lebih Baik

    Lady Jasmine menyadari ada yang janggal dari putra dan menantunya ketika melihat mereka berdekatan.Ketika sarapan misalnya, Tesa sengaja menyiapkan peralatan makan dan mengambilkan lauk pauk di meja. Dan saat tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan milik Gabriel, dia langsung menarik tangan itu. Tetapi wajahnya memerah karena malu. Sementara Gabriel akan berdeham salah tingkah dengan berpura-pura bertanya apakah Garret butuh lauk itu juga.Hal ini terus berlanjut sampai mereka saling membersihkan jendela. Gabriel akan dengan senang hati mengangkat ember berisi air yang berat untuk dibawa di dekat Tesa sementara menantunya itu tetap sibuk mengelap kaca. Dan saat airnya harus diganti, dia akan mengedipkan matanya pada ember. Lalu Gabriel segera mengangkut dan membuangnya serta memberikan Tesa ember baru dengan air bersih.Semua itu mereka lakukan tanpa bicara. Seakan Tesa berusaha keras untuk memusuhi Gabriel sementara Gabriel terus menempel di

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   150: Banteng

    Gabriel tidak memiliki masalah dalam mengingat wajah orang, dan sialnya di antara semua orang yang membantunya kenapa orang itu harus Romeo?Gabriel ingin denial bahwa ia tidak peduli dengan adik tirinya itu. Tetapi nyatanya Gabriel memang peduli. Bukan karena dia ingin memeluknya tapi d

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   149: Paman Rubah

    Gabriel melihatnya. Saat asap yang membumbung tinggi itu perlahan mulai mereda. Di depannya sebuah siluet sosok jangkung tengah memanggul Garret dan mencoba menarik istrinya.Pandangan Gabriel yang semula melemah sontak menajam.Tanpa ragu, ia mengokang senapan membidik pria ber

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   147: Dibuntuti

    "Aku harus membawanya ini sudah menjadi kesayanganku Paman Sirkus.""Yah, tidak ada yang tidak memperbolehkan kau membawa itu.""Dan tidak di dalam peti.""Kau bisa memeluknya, Garret."Garret mendengkus kecil kemudian melompat masuk ke dalam kereta kuda, mende

  • Putri Buangan Jadi Kesayangan   146: Ikrar Suci

    Gabriel tidak bisa menahan diri.Rencana pernikahan mereka bergeser, entah apa yang ada di pikirannya. Tiba-tiba saat sedang menikmati dinner di salah satu restoran kalangan kelas atas. Gabriel meminta mereka untuk secepatnya menikah di Kirk."Perjalanan ke Breda sangat jauh, it

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status