Di bawah remang cahaya lampu jalan, Arvin Laksita bersandar di pintu mobil sambil mengisap puntung rokok terakhirnya.Dia lalu menginjak puntung rokok itu hingga padam. Dalam waktu lima menit, Arvin memeriksa ponselnya sepuluh kali dan membalas sembilan pesan suara dari wanita di ujung sana.Pesan terakhirnya adalah untuk memberi tahu sahabatku, yang juga adik perempuannya, Luna Laksita, bahwa dia sudah mengantarku pulang dengan selamat.Arvin meletakkan ponselnya, lalu menoleh dan tersenyum menatapku.Jelas sekali, mengobrol dengan wanita lain itu membuatnya sangat bahagia.Oleh karena itu, nada bicara Arvin padaku juga terasa jauh lebih santai."Aurelia, kamu sudah dewasa. Kamu mengerti soal berpisah baik-baik di dunia orang dewasa, 'kan?"Arvin mengacak rambutku, bersikap begitu mesra, seakan kami tidak sedang membicarakan topik "perpisahan" yang seserius ini.Memang benar, Arvin tidak pernah sekalipun serius kepadaku.Bahkan, termasuk kejadian lima tahun lalu, saat aku mabuk dan ak
続きを読む