แชร์

Lima Tahun Penantian dalam Sunyi
Lima Tahun Penantian dalam Sunyi
ผู้แต่ง: Aman

Bab 1

ผู้เขียน: Aman
Di bawah remang cahaya lampu jalan, Arvin Laksita bersandar di pintu mobil sambil mengisap puntung rokok terakhirnya.

Dia lalu menginjak puntung rokok itu hingga padam. Dalam waktu lima menit, Arvin memeriksa ponselnya sepuluh kali dan membalas sembilan pesan suara dari wanita di ujung sana.

Pesan terakhirnya adalah untuk memberi tahu sahabatku, yang juga adik perempuannya, Luna Laksita, bahwa dia sudah mengantarku pulang dengan selamat.

Arvin meletakkan ponselnya, lalu menoleh dan tersenyum menatapku.

Jelas sekali, mengobrol dengan wanita lain itu membuatnya sangat bahagia.

Oleh karena itu, nada bicara Arvin padaku juga terasa jauh lebih santai.

"Aurelia, kamu sudah dewasa. Kamu mengerti soal berpisah baik-baik di dunia orang dewasa, 'kan?"

Arvin mengacak rambutku, bersikap begitu mesra, seakan kami tidak sedang membicarakan topik "perpisahan" yang seserius ini.

Memang benar, Arvin tidak pernah sekalipun serius kepadaku.

Bahkan, termasuk kejadian lima tahun lalu, saat aku mabuk dan akhirnya tidur bersamanya.

Setelah tersadar sepenuhnya, Arvin bersandar di kepala tempat tidur sambil mengisap sebatang rokok. Kepulan asapnya mengaburkan ekspresi wajahnya yang tampak meremehkan. "Suka padaku?"

Aku mengangguk dengan gugup. Namun, yang kudapat hanyalah tawa kecil darinya.

"Boleh saja. Kalau begitu, kita bersama."

"Tapi, jangan kasih tahu Luna. Aku takut kalau Luna tahu, dia akan mengejarku dengan pisau."

Arvin mengatakannya dengan begitu santai, tetapi bodohnya, aku menganggap kata-katanya itu serius.

Sejak saat itu, aku tetap berada di sisi Arvin, tak ubahnya seperti sebuah aksesori yang tidak berharga.

Kupikir seiring berjalannya waktu, Arvin akan memperlakukanku secara berbeda. Namun, kenyataan membuktikan bahwa aku sudah salah besar.

Arvin masih saja terus berganti-ganti wanita, sementara aku, hanyalah mainan penghibur di saat dia merasa bosan.

Aku menundukkan pandanganku. Dari sudut mataku, aku melihat Arvin kembali sibuk membalas pesan di ponselnya.

Padahal, orang yang dia beri nama kontak "Pacar" itu, baru saja meminta nomor WhatsApp-nya di meja bar dua hari yang lalu.

Aku sekuat tenaga menahan rasa perih yang meluap di dalam hati, menarik napas dalam-dalam beberapa kali dan barulah aku berani melontarkan pertanyaan yang selama lima tahun ini hanya tertahan di benakku, "Arvin, kenapa cuma aku yang nggak bisa jadi pacarmu?"

Arvin tertegun sejenak, lalu menjawab dengan nada yang seakan merasa tertekan, "Bukannya nggak bisa …. Hanya saja, setelah hari aku setuju untuk bersamamu, aku langsung merasa menyesal."

"Selama lima tahun ini, aku juga sudah mencoba memandangmu sebagai wanita pada umumnya, tapi aku nggak bisa melakukannya."

"Rasanya kayak … semua orang bisa saja jadi pacarku, kecuali kamu."

Di jalanan yang sunyi itu, untuk pertama kalinya Arvin bersikap begitu serius kepadaku. Sepasang matanya yang memantulkan bayanganku itu tampak begitu penuh kasih, tetapi di saat yang sama, terasa begitu tidak berperasaan.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 10

    Aku menyenggol lengan Ricky."Kamu dengar semuanya?""Hmm.""Kalau begitu, apa kamu merasa nggak senang? Aku sudah menjelaskan begitu banyak padanya padanya."Ricky tersenyum tipis. "Nggak. Justru bagus kalau kamu sudah memperjelas semuanya dengannya.""Aku tahu, kamu nggak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas."Berbeda dengan Arvin yang selalu bersikap agresif ….Ricky bagaikan mentari di waktu pagi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat kembali menyeruak di dalam hatiku. Aku berbisik pelan kepadanya, mengucapkan terima kasih."Terima kasih, Sayang.""Apa?"Tubuh Ricky langsung menegang.Aku memalingkan wajah ke samping, merasa terlalu malu untuk kembali menatapnya."Aku bilang, terima kasih, Sayang."Dia tidak salah dengar dan ini juga bukan mimpi ….Suara Ricky bergetar."Boleh panggil sekali lagi?""Aduh, kamu bener-bener nyebelin! Sayang, Sayang, Sayang ….""Sudah cukup, 'kan?"Ricky tidak mampu berkata-kata.Wajahnya menjadi merah padam. Dia tidak bisa berkata-kata un

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 9

    Begitu melihatku keluar, Arvin langsung tertegun untuk sesaat."Aurelia."Arvin terlihat begitu kuyu, benar-benar berbeda dari sosok penuh semangat yang ada dalam ingatanku.Aku pun menghela napas, menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghindari kerumitan ini begitu saja."Ada apa?"Aku menghentikan langkah, tidak lagi berjalan mendekat ke arahnya.Arvin berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berdiri tegak di atasnya.Dia menengadah menatapku."Kamu nggak mau lagi memanggilku Kakak?"Aku tertawa kecil. "Kurasa nggak perlu lagi."Itu kan hanya panggilan untuk merayu.Sudah putus, buat apa memanggilnya seperti itu lagi?Padahal dahulu, Arvin paling suka saat aku memanggilnya Kakak.Gurat kepedihan muncul di mata Arvin. Dia menatapku seakan ingin bicara, tetapi ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan perasaannya, Arvin pun akhirnya menyerah dan angkat bicara, "Aurelia, kalau aku minta maaf padamu, bisakah kita berbaikan?""Ke depannya, aku akan memperlakukanmu dengan baik, gimana

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 8

    "Aku benar-benar menyukaimu.""Tapi aku tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, kamu sebenarnya …."Ricky tertegun sejenak, lalu menatap mataku dengan raut serius."Aurelia, aku bisa menunggumu. Tapi, tolong jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, ya?"Aku menatap Ricky dengan perasaan campur aduk.Aku tidak pernah menyangka bahwa Ricky benar-benar menyukaiku.Dahulu, demi Arvin, aku bertengkar hebat dengan keluargaku dan bersikeras menuntut pembatalan pertunangan.Saat itu, tatapan mata Ricky tampak acuh tak acuh. Dia hanya membalas dengan satu kata, "Oke."Aku mengira, Ricky tidak menyukaiku.Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia menyimpan perasaan yang tidak terucapkan ini.Emosi di lubuk hatiku makin meluap. Setelah terdiam cukup lama, aku pun memberinya jawaban yang paling serius."Oke."Di matanya seakan ada kembang api yang tiba-tiba meledak, yang berkilau dengan indah.Kami berdua saling bertatapan untuk waktu yang lama. Lalu, setelah itu, dia dengan lembut memelukku den

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 7

    "Nggak ada hubungannya denganmu."Ricky melambaikan tangannya."Satpam!""Tolong antar Pak Arvin keluar.""Aurelia, kamu benar-benar hebat!"Arvin menyentak tangan satpam yang hendak menahannya. Wajahnya penuh amarah."Baiknya, kamu nggak menyesali hal ini."Setelah melontarkan ancaman itu, Arvin berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.Barulah, para tamu di ruangan mulai sadar dari keterkejutan mereka. Suara bisik-bisik pun mulai terdengar riuh di sana-sini.Meski biasanya aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang, menghadapi situasi seperti ini tetap saja membuatku merasa malu dan kesal.Ricky menyadari rasa tidak nyamanku. Dia pun menyematkan cincin ke jari manisku dengan ekspresi yang begitu serius.Kemudian, Ricky menepuk punggung tanganku dan berbisik pelan, "Jangan khawatir, biar aku yang mengurusnya."Aku pun mulai tenang dan hanya menganggap kejadian ini sebagai sebuah insiden kecil.Setelah Arvin pergi, pernikahan pun berlangsung dengan lancar.Saat seluruh rangkai

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 6

    Di atas panggung pelaminan, aku dan Ricky sedang mengucapkan janji pernikahan kami.Saat pembawa acara menyerahkan mikrofon kepadaku dan bertanya apakah aku bersedia menikah dengan Ricky, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu."Dia nggak mau!"Arvin menendang pintu aula hingga terbuka, lalu bergegas melangkah ke tengah panggung.Mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus, Arvin bahkan terlihat lebih mirip pengantin pria dibandingkan Ricky."Aurelia, jangan main-main lagi.""Aku nggak suka lelucon seperti ini."Sorot mata Arvin tampak dalam dan dia menatapku dengan begitu tajam."Aku nggak sedang bercanda denganmu.""Seperti yang kamu lihat sendiri, aku akan menikah."Saat aku menatapnya, detak jantung Arvin sempat terhenti untuk sesaat.Wajahku yang jelita itu kini dirias dengan begitu sempurna. Penampilanku benar-benar berbeda dari apa yang ada dalam ingatannya.Arvin pun merasa bahwa pada saat ini, aku bukan lagi sekadar adik yang selama ini selalu ditanggapinya dengan a

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 5

    Aku menarik napas dalam-dalam, mengangkat kaki, lalu melangkah melewati gelang yang hancur itu dengan penuh tekad.…Beberapa hari berikutnya, aku pindah kembali ke rumah lama Keluarga Faresta untuk fokus mempersiapkan pernikahanku.Tiga hari sebelum pernikahan, aku dan pihak hotel menetapkan seluruh detail acara.Manajer hotel memberitahuku bahwa semua bunga mawar untuk dekorasi lokasi pernikahan sudah diganti dengan bunga matahari."Pak Ricky bilang, bunga favorit Anda adalah bunga matahari. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Anda."Perasaan hangat menyelimuti hatiku. Aku pun mengirimkan pesan kepada Ricky yang masih berada di luar negeri.[Bunga mataharinya sangat cantik. Aku sangat menyukainya. Terima kasih.]Di saat yang bersamaan, Arvin memperbarui status di media sosialnya.Dalam foto itu, dia sedang mengajak Della berlibur di tepi pantai.Cahaya matahari, hamparan pasir, perjalanan ke pantai yang pernah aku mohon dengan teramat sangat kepada Arvin selama lima tahun, tetapi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status