ログイン"Mau nggak?" Aku tidak sengaja mengirim pesan tentang janji manikur dan pedikur ke kakak laki-laki sahabatku, padahal seharusnya pesan itu untuk sahabatku sendiri. Sepuluh menit kemudian, aku menerima balasan dari kakaknya: [Mireya ada di bawah, turunlah.] Aku tidak menyangka, selain usianya yang sudah matang, ternyata bagian lain miliknya juga besar. Malam itu, gairah meluap dan semuanya nyaris lepas kendali. Setelah tersadar, dia berjanji akan bertanggung jawab kepadaku. Dia sangat memanjakanku. Apa pun yang kuminta, selalu dia penuhi. Akan tetapi, ada satu syarat, yaitu aku tidak boleh mengaku bahwa aku adalah kekasihnya di depan umum. Lima tahun kemudian, dia pulang membawa seorang wanita. Sambil merangkul pinggang wanita itu, dia menyuruhku memanggilnya "Kakak Ipar". Aku bertanya kepadanya, "Kalau dia kakak iparku, lalu apa arti lima tahun penantianku untukmu?" Pria itu tersenyum santai, tetapi kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat sekujur tubuhku terasa membeku. "Menunggu? Memangnya aku pernah memintamu untuk menunggu?" "Aurelia Faresta, ke depannya, jangan pernah lagi mencintai orang dengan begitu tulus kayak gini. Itu sungguh mengerikan." Ternyata, seluruh cinta yang kuberikan dengan segenap jiwa ragaku, hanyalah sebuah beban yang ingin dia hindari. Aku pun mulai mencoba untuk tidak lagi mencarinya, belajar untuk melepaskannya dan akhirnya … pergi meninggalkannya. Namun, seminggu kemudian, saat aku sedang mengucapkan janji suci pernikahan dengan pria lain …. Sosok pria yang dahulu begitu arogan dan penuh gairah itu, kini berdiri di bawah altar dengan mata yang memerah.
もっと見るAku menyenggol lengan Ricky."Kamu dengar semuanya?""Hmm.""Kalau begitu, apa kamu merasa nggak senang? Aku sudah menjelaskan begitu banyak padanya padanya."Ricky tersenyum tipis. "Nggak. Justru bagus kalau kamu sudah memperjelas semuanya dengannya.""Aku tahu, kamu nggak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas."Berbeda dengan Arvin yang selalu bersikap agresif ….Ricky bagaikan mentari di waktu pagi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat kembali menyeruak di dalam hatiku. Aku berbisik pelan kepadanya, mengucapkan terima kasih."Terima kasih, Sayang.""Apa?"Tubuh Ricky langsung menegang.Aku memalingkan wajah ke samping, merasa terlalu malu untuk kembali menatapnya."Aku bilang, terima kasih, Sayang."Dia tidak salah dengar dan ini juga bukan mimpi ….Suara Ricky bergetar."Boleh panggil sekali lagi?""Aduh, kamu bener-bener nyebelin! Sayang, Sayang, Sayang ….""Sudah cukup, 'kan?"Ricky tidak mampu berkata-kata.Wajahnya menjadi merah padam. Dia tidak bisa berkata-kata un
Begitu melihatku keluar, Arvin langsung tertegun untuk sesaat."Aurelia."Arvin terlihat begitu kuyu, benar-benar berbeda dari sosok penuh semangat yang ada dalam ingatanku.Aku pun menghela napas, menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghindari kerumitan ini begitu saja."Ada apa?"Aku menghentikan langkah, tidak lagi berjalan mendekat ke arahnya.Arvin berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berdiri tegak di atasnya.Dia menengadah menatapku."Kamu nggak mau lagi memanggilku Kakak?"Aku tertawa kecil. "Kurasa nggak perlu lagi."Itu kan hanya panggilan untuk merayu.Sudah putus, buat apa memanggilnya seperti itu lagi?Padahal dahulu, Arvin paling suka saat aku memanggilnya Kakak.Gurat kepedihan muncul di mata Arvin. Dia menatapku seakan ingin bicara, tetapi ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan perasaannya, Arvin pun akhirnya menyerah dan angkat bicara, "Aurelia, kalau aku minta maaf padamu, bisakah kita berbaikan?""Ke depannya, aku akan memperlakukanmu dengan baik, gimana
"Aku benar-benar menyukaimu.""Tapi aku tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, kamu sebenarnya …."Ricky tertegun sejenak, lalu menatap mataku dengan raut serius."Aurelia, aku bisa menunggumu. Tapi, tolong jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, ya?"Aku menatap Ricky dengan perasaan campur aduk.Aku tidak pernah menyangka bahwa Ricky benar-benar menyukaiku.Dahulu, demi Arvin, aku bertengkar hebat dengan keluargaku dan bersikeras menuntut pembatalan pertunangan.Saat itu, tatapan mata Ricky tampak acuh tak acuh. Dia hanya membalas dengan satu kata, "Oke."Aku mengira, Ricky tidak menyukaiku.Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia menyimpan perasaan yang tidak terucapkan ini.Emosi di lubuk hatiku makin meluap. Setelah terdiam cukup lama, aku pun memberinya jawaban yang paling serius."Oke."Di matanya seakan ada kembang api yang tiba-tiba meledak, yang berkilau dengan indah.Kami berdua saling bertatapan untuk waktu yang lama. Lalu, setelah itu, dia dengan lembut memelukku den
"Nggak ada hubungannya denganmu."Ricky melambaikan tangannya."Satpam!""Tolong antar Pak Arvin keluar.""Aurelia, kamu benar-benar hebat!"Arvin menyentak tangan satpam yang hendak menahannya. Wajahnya penuh amarah."Baiknya, kamu nggak menyesali hal ini."Setelah melontarkan ancaman itu, Arvin berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.Barulah, para tamu di ruangan mulai sadar dari keterkejutan mereka. Suara bisik-bisik pun mulai terdengar riuh di sana-sini.Meski biasanya aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang, menghadapi situasi seperti ini tetap saja membuatku merasa malu dan kesal.Ricky menyadari rasa tidak nyamanku. Dia pun menyematkan cincin ke jari manisku dengan ekspresi yang begitu serius.Kemudian, Ricky menepuk punggung tanganku dan berbisik pelan, "Jangan khawatir, biar aku yang mengurusnya."Aku pun mulai tenang dan hanya menganggap kejadian ini sebagai sebuah insiden kecil.Setelah Arvin pergi, pernikahan pun berlangsung dengan lancar.Saat seluruh rangkai












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.