แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Aman
"Aurelia, meski aku nggak tahu siapa pacar yang kamu sembunyikan selama lima tahun ini, kamu nggak bisa begitu saja menikahi sembarang orang cuma demi pria yang nggak guna!"

Aku tersenyum tipis. "Mana mungkin aku selemah itu? Menikah itu keputusan yang sudah kupertimbangkan masak-masak."

"Lagi pula, dia bukan sembarang orang. Bisa dibilang dia itu … yah, teman lama keluarga. Hanya saja, kami sudah lama nggak ketemu."

Aku tidak berbohong. Daripada menyebutnya sebagai pernikahan bisnis dengan Ricky Haryanto, ini lebih seperti memenuhi janji perjodohan masa kecil yang direncanakan orang tua kami.

Andai Arvin tidak muncul di tengah jalan, kurasa aku sudah sejak lama menjadi istri Ricky.

Kekhawatiran di mata Luna tidak berkurang. Dia benar-benar tulus memikirkanku.

Aku mencubit pipinya.

"Sudahlah, jangan khawatir. Di hari pernikahanku nanti, kamu harus datang jadi pendamping pengantinnya, ya."

"Pendamping pengantin apa?"

Pintu ruangan didorong hingga terbuka dan Arvin melangkah masuk dengan santai.

Teman wanita di belakangnya sudah berganti lagi.

Sesuai dengan perkataannya, posisi di sampingnya bisa ditempati oleh siapa pun, kecuali aku.

Arvin berdiri tegak di tengah ruangan. Pandangannya menyapu sekeliling sebelum akhirnya tertuju padaku.

"Siapa yang mau menikah?"

Aku menahan Luna yang hendak menjawab, lalu menyahut sambil bergumam, "Bukan apa-apa, kenapa Kakak ke sini?"

Gadis muda di belakang Arvin melangkah keluar dengan raut wajah yang tampak polos dan tanpa dosa.

"Aku yang minta Arvin membawaku ke sini. Aku ingin bertemu dengan keluarga dan teman-temannya."

"Halo semuanya, aku Della Radika."

Entah itu hanya perasaanku saja atau bukan, aku merasa tatapan Della yang tertuju padaku menyiratkan permusuhan yang tidak jelas asalnya.

Luna yang berkepribadian blak-blakan tanpa berpikir panjang langsung menarik Della ke samping untuk memilih lagu.

Arvin duduk di sampingku. Di bawah temaram lampu, dia menggoyang-goyangkan gelas anggur di tangannya.

"Sudah mulai cari pacar?"

Aku meliriknya sekilas.

"Apa Kakak begitu peduli dengan kehidupan cintaku?"

Arvin tertawa kecil. Dia mendekat ke arahku dan menatapku dengan tatapan penuh minat.

"Bukankah ini tindak lanjut dari layanan purnajualku?"

"Kalau kamu benar-benar nggak bisa menemukan pacar, aku bisa bantu mencarikan beberapa kandidat untukmu."

"Tenang saja, mereka pasti nggak akan sepertiku."

"Paling nggak, dia nggak akan membiarkanmu mengantarkan kondom waktu kamu sedang demam dan nggak akan membawa begitu banyak wanita ke hadapanmu."

"Aku jamin, dia akan setia padamu sepenuhnya, gimana?"

Aku tersentak. Tanganku tanpa sadar mencengkeram erat gelasku.

Ternyata, Arvin bukannya tidak tahu bahwa apa yang pernah dia lakukan di masa lalu akan menyakitiku.

Dia hanya tidak peduli, atau mungkin ... dia hanya menganggapku sebagai lelucon.

Aku menenggak habis minuman di gelasku dalam sekali teguk, lalu menoleh dan menatap Arvin sambil tersenyum.

"Nggak usah repot-repot, Kak. Aku sudah mau menikah."

Suasana di dalam ruangan langsung hening dan terasa aneh.

Arvin mengerutkan keningnya rapat-rapat. Tatapan matanya yang dalam menyiratkan secercah kemarahan.

Dia angkat bicara, nadanya terdengar kaku, "Aurelia, aku nggak suka lelucon seperti ini."

Aku membalasnya dengan senyuman, tidak terburu-buru untuk menjelaskan.

Tepat di saat itu, Della datang menghampiri sambil membawa segelas minuman.

Entah sengaja atau tidak, langkah kakinya mendadak limbung dan seluruh isi minuman di gelasnya tumpah membasahi tubuhku.

Della segera menutup mulutnya dan berkata dengan nada manja, "Aduh, aku benar-benar ceroboh. Kamu nggak apa-apa kan, Kak?"

Wajah Arvin tampak muram. Dia melirikku dengan dingin.

"Apa hubungannya denganmu? Dia sendiri yang duduk di sini menghalang-halangi jalan."

"Kak, apa-apaan sih? Apa hubungannya ini dengan Aurelia?"

Luna segera pasang badan dan melindungiku di belakangnya.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 10

    Aku menyenggol lengan Ricky."Kamu dengar semuanya?""Hmm.""Kalau begitu, apa kamu merasa nggak senang? Aku sudah menjelaskan begitu banyak padanya padanya."Ricky tersenyum tipis. "Nggak. Justru bagus kalau kamu sudah memperjelas semuanya dengannya.""Aku tahu, kamu nggak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas."Berbeda dengan Arvin yang selalu bersikap agresif ….Ricky bagaikan mentari di waktu pagi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat kembali menyeruak di dalam hatiku. Aku berbisik pelan kepadanya, mengucapkan terima kasih."Terima kasih, Sayang.""Apa?"Tubuh Ricky langsung menegang.Aku memalingkan wajah ke samping, merasa terlalu malu untuk kembali menatapnya."Aku bilang, terima kasih, Sayang."Dia tidak salah dengar dan ini juga bukan mimpi ….Suara Ricky bergetar."Boleh panggil sekali lagi?""Aduh, kamu bener-bener nyebelin! Sayang, Sayang, Sayang ….""Sudah cukup, 'kan?"Ricky tidak mampu berkata-kata.Wajahnya menjadi merah padam. Dia tidak bisa berkata-kata un

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 9

    Begitu melihatku keluar, Arvin langsung tertegun untuk sesaat."Aurelia."Arvin terlihat begitu kuyu, benar-benar berbeda dari sosok penuh semangat yang ada dalam ingatanku.Aku pun menghela napas, menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghindari kerumitan ini begitu saja."Ada apa?"Aku menghentikan langkah, tidak lagi berjalan mendekat ke arahnya.Arvin berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berdiri tegak di atasnya.Dia menengadah menatapku."Kamu nggak mau lagi memanggilku Kakak?"Aku tertawa kecil. "Kurasa nggak perlu lagi."Itu kan hanya panggilan untuk merayu.Sudah putus, buat apa memanggilnya seperti itu lagi?Padahal dahulu, Arvin paling suka saat aku memanggilnya Kakak.Gurat kepedihan muncul di mata Arvin. Dia menatapku seakan ingin bicara, tetapi ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan perasaannya, Arvin pun akhirnya menyerah dan angkat bicara, "Aurelia, kalau aku minta maaf padamu, bisakah kita berbaikan?""Ke depannya, aku akan memperlakukanmu dengan baik, gimana

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 8

    "Aku benar-benar menyukaimu.""Tapi aku tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, kamu sebenarnya …."Ricky tertegun sejenak, lalu menatap mataku dengan raut serius."Aurelia, aku bisa menunggumu. Tapi, tolong jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, ya?"Aku menatap Ricky dengan perasaan campur aduk.Aku tidak pernah menyangka bahwa Ricky benar-benar menyukaiku.Dahulu, demi Arvin, aku bertengkar hebat dengan keluargaku dan bersikeras menuntut pembatalan pertunangan.Saat itu, tatapan mata Ricky tampak acuh tak acuh. Dia hanya membalas dengan satu kata, "Oke."Aku mengira, Ricky tidak menyukaiku.Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia menyimpan perasaan yang tidak terucapkan ini.Emosi di lubuk hatiku makin meluap. Setelah terdiam cukup lama, aku pun memberinya jawaban yang paling serius."Oke."Di matanya seakan ada kembang api yang tiba-tiba meledak, yang berkilau dengan indah.Kami berdua saling bertatapan untuk waktu yang lama. Lalu, setelah itu, dia dengan lembut memelukku den

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 7

    "Nggak ada hubungannya denganmu."Ricky melambaikan tangannya."Satpam!""Tolong antar Pak Arvin keluar.""Aurelia, kamu benar-benar hebat!"Arvin menyentak tangan satpam yang hendak menahannya. Wajahnya penuh amarah."Baiknya, kamu nggak menyesali hal ini."Setelah melontarkan ancaman itu, Arvin berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.Barulah, para tamu di ruangan mulai sadar dari keterkejutan mereka. Suara bisik-bisik pun mulai terdengar riuh di sana-sini.Meski biasanya aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang, menghadapi situasi seperti ini tetap saja membuatku merasa malu dan kesal.Ricky menyadari rasa tidak nyamanku. Dia pun menyematkan cincin ke jari manisku dengan ekspresi yang begitu serius.Kemudian, Ricky menepuk punggung tanganku dan berbisik pelan, "Jangan khawatir, biar aku yang mengurusnya."Aku pun mulai tenang dan hanya menganggap kejadian ini sebagai sebuah insiden kecil.Setelah Arvin pergi, pernikahan pun berlangsung dengan lancar.Saat seluruh rangkai

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 6

    Di atas panggung pelaminan, aku dan Ricky sedang mengucapkan janji pernikahan kami.Saat pembawa acara menyerahkan mikrofon kepadaku dan bertanya apakah aku bersedia menikah dengan Ricky, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu."Dia nggak mau!"Arvin menendang pintu aula hingga terbuka, lalu bergegas melangkah ke tengah panggung.Mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus, Arvin bahkan terlihat lebih mirip pengantin pria dibandingkan Ricky."Aurelia, jangan main-main lagi.""Aku nggak suka lelucon seperti ini."Sorot mata Arvin tampak dalam dan dia menatapku dengan begitu tajam."Aku nggak sedang bercanda denganmu.""Seperti yang kamu lihat sendiri, aku akan menikah."Saat aku menatapnya, detak jantung Arvin sempat terhenti untuk sesaat.Wajahku yang jelita itu kini dirias dengan begitu sempurna. Penampilanku benar-benar berbeda dari apa yang ada dalam ingatannya.Arvin pun merasa bahwa pada saat ini, aku bukan lagi sekadar adik yang selama ini selalu ditanggapinya dengan a

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 5

    Aku menarik napas dalam-dalam, mengangkat kaki, lalu melangkah melewati gelang yang hancur itu dengan penuh tekad.…Beberapa hari berikutnya, aku pindah kembali ke rumah lama Keluarga Faresta untuk fokus mempersiapkan pernikahanku.Tiga hari sebelum pernikahan, aku dan pihak hotel menetapkan seluruh detail acara.Manajer hotel memberitahuku bahwa semua bunga mawar untuk dekorasi lokasi pernikahan sudah diganti dengan bunga matahari."Pak Ricky bilang, bunga favorit Anda adalah bunga matahari. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Anda."Perasaan hangat menyelimuti hatiku. Aku pun mengirimkan pesan kepada Ricky yang masih berada di luar negeri.[Bunga mataharinya sangat cantik. Aku sangat menyukainya. Terima kasih.]Di saat yang bersamaan, Arvin memperbarui status di media sosialnya.Dalam foto itu, dia sedang mengajak Della berlibur di tepi pantai.Cahaya matahari, hamparan pasir, perjalanan ke pantai yang pernah aku mohon dengan teramat sangat kepada Arvin selama lima tahun, tetapi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status