แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Aman
"Biasanya Kakak yang paling melindungi Aurelia, 'kan? Kenapa hari ini Kakak jadi gampang marah begini? Semua orang terlihat salah di mata Kakak."

Luna masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku menghentikannya.

"Sudahlah Luna, itu nggak penting."

Setelah berkata seperti itu, tanpa memedulikan ekspresi wajah Arvin yang tampak muram, aku berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.

Di luar kamar mandi, aku melihat wajah Della dari pantulan cermin.

Dia berdiri di belakangku, matanya penuh provokasi.

"Kamu ya, yang sering disebut Arvin sebagai orang yang mengejarnya selama lima tahun itu?"

"Kamu tahu bagaimana dia menggambarkan dirimu? Dia bilang, kamu sangat mengerikan, kayak bayangan yang nggak bisa disingkirkan."

Meski aku sudah berusaha keras melepaskan masa lalu, mendengar penilaian yang begitu merendahkan itu, tetap saja membuat hatiku berdenyut sakit.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan badan.

"Benarkah? Kalau begitu, aku harap waktu yang kamu habiskan di sisinya bisa lebih lama dariku."

Raut kemenangan di wajah Della langsung membeku. Wajah cantiknya mulai tampak berkerut kesal.

Tiba-tiba, dia menarik tanganku dan tersenyum aneh.

"Bukankah cuma lima tahun? Pada akhirnya, bukankah kamu tetap ditendang pergi oleh Arvin dari sisinya seperti mengusir seekor anjing?"

"Aurelia, orang yang akan menemani Arvin sampai akhir, cuma aku!"

Saat Arvin tiba, yang dia lihat adalah aku yang baru saja mendaratkan tamparan keras di wajah Della.

"Arvin, aku cuma mau minta maaf pada Kak Aurelia. Aku nggak tahu kenapa Kak Aurelia, dia …."

Della memegangi pipinya. Air matanya menggenang di pelupuk matanya. Dia terlihat begitu rapuh dan mengundang rasa iba.

Ekspresi Arvin tampak acuh tak acuh. Dia menatapku dan hanya menanyakan satu hal.

"Kamu memukulnya?"

Telapak tanganku terasa perih berdenyut-denyut. Demi menjebakku, Della benar-benar tega berlaku kejam pada dirinya sendiri.

Aku menengadah dan menatap mata Arvin. "Gimana kalau aku bilang nggak?"

Arvin menatapku lekat-lekat. Dia terdiam cukup lama, lalu tiba-tiba tertawa.

"Aurelia, kamu sekarang benar-benar makin suka membangkang, ya?"

"Kamu berbohong. Kamu bahkan membohongiku dengan bilang kalau kamu mau menikah?"

"Kalau kamu memang mau menikah, apa suamimu tahu kalau kamu cemburu karena laki-laki lain, sampai memukul wanita lain?"

Suasana hati Arvin sepertinya sedang sangat baik. Satu tangannya mengangkat dagu Della, lalu ibu jarinya mengelus pelan pipi wanita itu.

"Wajah secantik ini jangan sampai cacat. Ayo, kuantar kamu ke rumah sakit."

Dia merangkul Della dan hendak pergi.

"Tunggu sebentar." Aku memanggilnya.

Arvin berbalik dan mengangkat alis ke arahku.

Aku berjalan menghampiri Arvin, lalu menadahkan tanganku.

"Kembalikan gelang pemberianku."

Yang kumaksud adalah gelang kayu yang melingkar di pergelangan tangan Arvin.

Butiran kayu itu aku haluskan sendiri satu demi satu dengan tanganku waktu aku masih muda. Dahulu, Arvin selalu memakainya ke mana pun dia pergi.

Senyum di wajah Arvin langsung membeku. Dia mengerutkan keningnya rapat-rapat dan menatapku tanpa suara.

Suasana di sekitar langsung terasa menekan, serupa ketenangan sesaat sebelum badai besar melanda. Della juga ketakutan hingga tidak berani mengeluarkan suara.

Tiba-tiba, Arvin tertawa pelan.

Dia mengangkat pergelangan tangannya, lalu pura-pura bertanya, "Gelang rongsokan ini? Kebetulan, aku memang sudah lama nggak menginginkannya lagi."

Setelah berkata seperti itu, Arvin menarik gelang itu dengan paksa hingga tali merah yang kuat itu meninggalkan bekas goresan merah di pergelangan tangannya.

Gelang itu pun dilemparkannya ke lantai tanpa belas kasihan. Butiran kayu yang tercerai-berai memantul ke sana kemari di atas lantai, menimbulkan suara benturan yang teredam.

"Ambil sendiri."

Setelah melontarkan kata-kata yang dingin itu, Arvin membopong Della dan buru-buru melangkah pergi.

Aku menunduk, menatap butiran kayu yang berserakan di lantai.

Tadinya, aku ingin memberi akhir yang indah pada perasaan sukaku di masa muda. Namun, sekarang tampaknya, hal itu sudah tidak diperlukan lagi.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 10

    Aku menyenggol lengan Ricky."Kamu dengar semuanya?""Hmm.""Kalau begitu, apa kamu merasa nggak senang? Aku sudah menjelaskan begitu banyak padanya padanya."Ricky tersenyum tipis. "Nggak. Justru bagus kalau kamu sudah memperjelas semuanya dengannya.""Aku tahu, kamu nggak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas."Berbeda dengan Arvin yang selalu bersikap agresif ….Ricky bagaikan mentari di waktu pagi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat kembali menyeruak di dalam hatiku. Aku berbisik pelan kepadanya, mengucapkan terima kasih."Terima kasih, Sayang.""Apa?"Tubuh Ricky langsung menegang.Aku memalingkan wajah ke samping, merasa terlalu malu untuk kembali menatapnya."Aku bilang, terima kasih, Sayang."Dia tidak salah dengar dan ini juga bukan mimpi ….Suara Ricky bergetar."Boleh panggil sekali lagi?""Aduh, kamu bener-bener nyebelin! Sayang, Sayang, Sayang ….""Sudah cukup, 'kan?"Ricky tidak mampu berkata-kata.Wajahnya menjadi merah padam. Dia tidak bisa berkata-kata un

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 9

    Begitu melihatku keluar, Arvin langsung tertegun untuk sesaat."Aurelia."Arvin terlihat begitu kuyu, benar-benar berbeda dari sosok penuh semangat yang ada dalam ingatanku.Aku pun menghela napas, menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghindari kerumitan ini begitu saja."Ada apa?"Aku menghentikan langkah, tidak lagi berjalan mendekat ke arahnya.Arvin berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berdiri tegak di atasnya.Dia menengadah menatapku."Kamu nggak mau lagi memanggilku Kakak?"Aku tertawa kecil. "Kurasa nggak perlu lagi."Itu kan hanya panggilan untuk merayu.Sudah putus, buat apa memanggilnya seperti itu lagi?Padahal dahulu, Arvin paling suka saat aku memanggilnya Kakak.Gurat kepedihan muncul di mata Arvin. Dia menatapku seakan ingin bicara, tetapi ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan perasaannya, Arvin pun akhirnya menyerah dan angkat bicara, "Aurelia, kalau aku minta maaf padamu, bisakah kita berbaikan?""Ke depannya, aku akan memperlakukanmu dengan baik, gimana

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 8

    "Aku benar-benar menyukaimu.""Tapi aku tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, kamu sebenarnya …."Ricky tertegun sejenak, lalu menatap mataku dengan raut serius."Aurelia, aku bisa menunggumu. Tapi, tolong jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, ya?"Aku menatap Ricky dengan perasaan campur aduk.Aku tidak pernah menyangka bahwa Ricky benar-benar menyukaiku.Dahulu, demi Arvin, aku bertengkar hebat dengan keluargaku dan bersikeras menuntut pembatalan pertunangan.Saat itu, tatapan mata Ricky tampak acuh tak acuh. Dia hanya membalas dengan satu kata, "Oke."Aku mengira, Ricky tidak menyukaiku.Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia menyimpan perasaan yang tidak terucapkan ini.Emosi di lubuk hatiku makin meluap. Setelah terdiam cukup lama, aku pun memberinya jawaban yang paling serius."Oke."Di matanya seakan ada kembang api yang tiba-tiba meledak, yang berkilau dengan indah.Kami berdua saling bertatapan untuk waktu yang lama. Lalu, setelah itu, dia dengan lembut memelukku den

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 7

    "Nggak ada hubungannya denganmu."Ricky melambaikan tangannya."Satpam!""Tolong antar Pak Arvin keluar.""Aurelia, kamu benar-benar hebat!"Arvin menyentak tangan satpam yang hendak menahannya. Wajahnya penuh amarah."Baiknya, kamu nggak menyesali hal ini."Setelah melontarkan ancaman itu, Arvin berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.Barulah, para tamu di ruangan mulai sadar dari keterkejutan mereka. Suara bisik-bisik pun mulai terdengar riuh di sana-sini.Meski biasanya aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang, menghadapi situasi seperti ini tetap saja membuatku merasa malu dan kesal.Ricky menyadari rasa tidak nyamanku. Dia pun menyematkan cincin ke jari manisku dengan ekspresi yang begitu serius.Kemudian, Ricky menepuk punggung tanganku dan berbisik pelan, "Jangan khawatir, biar aku yang mengurusnya."Aku pun mulai tenang dan hanya menganggap kejadian ini sebagai sebuah insiden kecil.Setelah Arvin pergi, pernikahan pun berlangsung dengan lancar.Saat seluruh rangkai

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 6

    Di atas panggung pelaminan, aku dan Ricky sedang mengucapkan janji pernikahan kami.Saat pembawa acara menyerahkan mikrofon kepadaku dan bertanya apakah aku bersedia menikah dengan Ricky, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu."Dia nggak mau!"Arvin menendang pintu aula hingga terbuka, lalu bergegas melangkah ke tengah panggung.Mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus, Arvin bahkan terlihat lebih mirip pengantin pria dibandingkan Ricky."Aurelia, jangan main-main lagi.""Aku nggak suka lelucon seperti ini."Sorot mata Arvin tampak dalam dan dia menatapku dengan begitu tajam."Aku nggak sedang bercanda denganmu.""Seperti yang kamu lihat sendiri, aku akan menikah."Saat aku menatapnya, detak jantung Arvin sempat terhenti untuk sesaat.Wajahku yang jelita itu kini dirias dengan begitu sempurna. Penampilanku benar-benar berbeda dari apa yang ada dalam ingatannya.Arvin pun merasa bahwa pada saat ini, aku bukan lagi sekadar adik yang selama ini selalu ditanggapinya dengan a

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 5

    Aku menarik napas dalam-dalam, mengangkat kaki, lalu melangkah melewati gelang yang hancur itu dengan penuh tekad.…Beberapa hari berikutnya, aku pindah kembali ke rumah lama Keluarga Faresta untuk fokus mempersiapkan pernikahanku.Tiga hari sebelum pernikahan, aku dan pihak hotel menetapkan seluruh detail acara.Manajer hotel memberitahuku bahwa semua bunga mawar untuk dekorasi lokasi pernikahan sudah diganti dengan bunga matahari."Pak Ricky bilang, bunga favorit Anda adalah bunga matahari. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Anda."Perasaan hangat menyelimuti hatiku. Aku pun mengirimkan pesan kepada Ricky yang masih berada di luar negeri.[Bunga mataharinya sangat cantik. Aku sangat menyukainya. Terima kasih.]Di saat yang bersamaan, Arvin memperbarui status di media sosialnya.Dalam foto itu, dia sedang mengajak Della berlibur di tepi pantai.Cahaya matahari, hamparan pasir, perjalanan ke pantai yang pernah aku mohon dengan teramat sangat kepada Arvin selama lima tahun, tetapi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status