Share

Bab 2

Auteur: Aman
Aku buru-buru memalingkan muka, takut dia akan melihat mataku yang tiba-tiba memerah.

"Aku mengerti. Terima kasih sudah mengantarku pulang malam ini, Kak."

"Sudah larut, aku naik duluan ya."

Saat aku melangkahkan kaki untuk pergi, tiba-tiba saja pergelangan tanganku dicengkeram olehnya.

Arvin menghapus air mataku dengan lembut. Ekspresi wajahnya seakan berkata, "Sudah kuduga.".

"Gampang menangis begini, kenapa nggak mencoba berusaha sedikit lagi biar bisa tetap di sisiku?"

"Siapa tahu, demi Luna, aku masih mau membujukmu beberapa saat."

Arvin mengatakannya dengan nada mengejek, tetapi aku tidak bisa lagi percaya padanya.

Di saku kanan kemejanya, tercetak bentuk persegi. Itu adalah kotak kondom yang dia siapkan untuk digunakan bersama wanita lain.

Aku melangkah mundur, berusaha sekuat tenaga agar suaraku terdengar tenang.

"Nggak perlu, Kak. Selamat bersenang-senang malam ini."

Setelah berkata seperti itu, aku tidak lagi melihat ekspresi Arvin, langsung berjalan melewatinya dan memasuki kompleks perumahan.

Aku berjalan dengan begitu cepat. Napasku yang memburu membentuk kepulan uap putih di tengah malam yang dingin.

Kupikir aku tidak akan menangis lagi. Namun, saat aku membuka pintu dengan kunci dan masuk ke rumah, lalu melihat ke bawah dari balkon ….

Arvin masih berdiri di tempat yang sama dan tampak termenung.

Aku tahu, dia sedang menunggu lampu kamarku menyala, barulah dia akan pergi dengan tenang.

Akan tetapi, atas dasar apa dia bisa menyakitiku tanpa ampun di satu sisi dan di sisi lain merasa tidak bersalah saat bersikap baik padaku?

Aku menutup tirai balkon, duduk bersimpuh di lantai dan akhirnya tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak menangis tersedu-sedu.

Aku menangis hingga air mataku hampir mengering, menumpahkan semua rasa sakit dan tidak adil yang kupendam selama bertahun-tahun ini.

Ponselku berbunyi, ada pesan masuk dari Arvin.

[Aurelia, mumpung masih muda, pergilah keluar dan lihatlah dunia seluas-luasnya.]

[Laki-laki di dunia ini ada begitu banyak, jangan cuma terpaku padaku saja.]

[Lalu, cepatlah istirahat.]

Di tengah kegelapan malam, tiga baris pesan yang berderetan di layar itu tampak makin lucu saat terus dipandangi.

Tiba-tiba, aku merasa semua ini begitu tidak berarti. Seakan-akan, obsesi yang kupendam di lubuk hati selama lima tahun ini, mendadak luruh begitu saja hanya karena tiga kalimat ini.

Aku menyeka air mataku. Jemariku mengetik beberapa kata di layar, lalu mengirimkannya.

[Oke, aku akan melakukannya.]

Setelah berpikir sejenak, aku menelepon ibuku.

"Halo, Bu. Aku setuju menikah dengan Ricky, tujuh hari lagi."

Setelah menutup telepon dengan ibuku, seluruh tubuhku seakan kehilangan tenaga dan aku ambruk di tempat tidur.

Meski sudah berulang kali memperingatkan diri sendiri untuk tidak mengenang masa lalu, logikaku menurutinya, tetapi tidak dengan hatiku.

Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengingat masa lalu, mengingat pertemuan pertamaku dengan Arvin saat Luna memperkenalkannya padaku.

Aku ingat, hari itu Arvin mengenakan setelan baju olahraga hitam. Saat dia melakukan tembakan tiga angka, semua gadis di lapangan berteriak histeris untuknya.

Namun, Arvin justru berlari ke arahku dan mengambil air yang baru kuminum setengah dari tanganku.

Dia bertanya pada Luna, "Ini adik yang mana? Kenapa aku belum pernah melihatnya?"

Tidak akan ada orang yang tidak jatuh hati pada pertemuan pertama seperti itu.

Begitu juga denganku.

Tanpa ragu sedikit pun, aku membiarkan diriku terjerumus ke dalamnya.

Demi Arvin, aku memutuskan hubungan dengan keluargaku. Demi Arvin pula, aku tidak menuntut status apa pun dan rela menjadi kekasih rahasianya selama lima tahun.

Namun, belakangan aku baru tahu bahwa pertemuan pertama yang kukira seperti drama romansa itu, ternyata bukan sesuatu yang istimewa.

Arvin mengatakan hal yang sama kepada setiap wanita yang dia temui.

"Apa? Kamu mau menikah?"

Tiga hari setelah berpisah dengan Arvin, Luna yang mendengar kabar putusnya hubunganku, sengaja mengajakku keluar untuk makan. Namun, dia tidak menyangka akan mendengar berita sebesar itu.

Luna duduk di sampingku dan menatapku dengan cemas.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 10

    Aku menyenggol lengan Ricky."Kamu dengar semuanya?""Hmm.""Kalau begitu, apa kamu merasa nggak senang? Aku sudah menjelaskan begitu banyak padanya padanya."Ricky tersenyum tipis. "Nggak. Justru bagus kalau kamu sudah memperjelas semuanya dengannya.""Aku tahu, kamu nggak akan melakukan sesuatu yang melampaui batas."Berbeda dengan Arvin yang selalu bersikap agresif ….Ricky bagaikan mentari di waktu pagi, selalu hangat dan menenangkan.Rasa hangat kembali menyeruak di dalam hatiku. Aku berbisik pelan kepadanya, mengucapkan terima kasih."Terima kasih, Sayang.""Apa?"Tubuh Ricky langsung menegang.Aku memalingkan wajah ke samping, merasa terlalu malu untuk kembali menatapnya."Aku bilang, terima kasih, Sayang."Dia tidak salah dengar dan ini juga bukan mimpi ….Suara Ricky bergetar."Boleh panggil sekali lagi?""Aduh, kamu bener-bener nyebelin! Sayang, Sayang, Sayang ….""Sudah cukup, 'kan?"Ricky tidak mampu berkata-kata.Wajahnya menjadi merah padam. Dia tidak bisa berkata-kata un

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 9

    Begitu melihatku keluar, Arvin langsung tertegun untuk sesaat."Aurelia."Arvin terlihat begitu kuyu, benar-benar berbeda dari sosok penuh semangat yang ada dalam ingatanku.Aku pun menghela napas, menyadari bahwa aku tidak akan bisa menghindari kerumitan ini begitu saja."Ada apa?"Aku menghentikan langkah, tidak lagi berjalan mendekat ke arahnya.Arvin berdiri di bawah anak tangga, sementara aku berdiri tegak di atasnya.Dia menengadah menatapku."Kamu nggak mau lagi memanggilku Kakak?"Aku tertawa kecil. "Kurasa nggak perlu lagi."Itu kan hanya panggilan untuk merayu.Sudah putus, buat apa memanggilnya seperti itu lagi?Padahal dahulu, Arvin paling suka saat aku memanggilnya Kakak.Gurat kepedihan muncul di mata Arvin. Dia menatapku seakan ingin bicara, tetapi ragu.Setelah beberapa saat bergulat dengan perasaannya, Arvin pun akhirnya menyerah dan angkat bicara, "Aurelia, kalau aku minta maaf padamu, bisakah kita berbaikan?""Ke depannya, aku akan memperlakukanmu dengan baik, gimana

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 8

    "Aku benar-benar menyukaimu.""Tapi aku tahu, selama beberapa tahun belakangan ini, kamu sebenarnya …."Ricky tertegun sejenak, lalu menatap mataku dengan raut serius."Aurelia, aku bisa menunggumu. Tapi, tolong jangan biarkan aku menunggu terlalu lama, ya?"Aku menatap Ricky dengan perasaan campur aduk.Aku tidak pernah menyangka bahwa Ricky benar-benar menyukaiku.Dahulu, demi Arvin, aku bertengkar hebat dengan keluargaku dan bersikeras menuntut pembatalan pertunangan.Saat itu, tatapan mata Ricky tampak acuh tak acuh. Dia hanya membalas dengan satu kata, "Oke."Aku mengira, Ricky tidak menyukaiku.Tidak pernah terpikir olehku bahwa dia menyimpan perasaan yang tidak terucapkan ini.Emosi di lubuk hatiku makin meluap. Setelah terdiam cukup lama, aku pun memberinya jawaban yang paling serius."Oke."Di matanya seakan ada kembang api yang tiba-tiba meledak, yang berkilau dengan indah.Kami berdua saling bertatapan untuk waktu yang lama. Lalu, setelah itu, dia dengan lembut memelukku den

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 7

    "Nggak ada hubungannya denganmu."Ricky melambaikan tangannya."Satpam!""Tolong antar Pak Arvin keluar.""Aurelia, kamu benar-benar hebat!"Arvin menyentak tangan satpam yang hendak menahannya. Wajahnya penuh amarah."Baiknya, kamu nggak menyesali hal ini."Setelah melontarkan ancaman itu, Arvin berbalik dan pergi tanpa menoleh sedikit pun.Barulah, para tamu di ruangan mulai sadar dari keterkejutan mereka. Suara bisik-bisik pun mulai terdengar riuh di sana-sini.Meski biasanya aku tidak terlalu peduli dengan pandangan orang, menghadapi situasi seperti ini tetap saja membuatku merasa malu dan kesal.Ricky menyadari rasa tidak nyamanku. Dia pun menyematkan cincin ke jari manisku dengan ekspresi yang begitu serius.Kemudian, Ricky menepuk punggung tanganku dan berbisik pelan, "Jangan khawatir, biar aku yang mengurusnya."Aku pun mulai tenang dan hanya menganggap kejadian ini sebagai sebuah insiden kecil.Setelah Arvin pergi, pernikahan pun berlangsung dengan lancar.Saat seluruh rangkai

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 6

    Di atas panggung pelaminan, aku dan Ricky sedang mengucapkan janji pernikahan kami.Saat pembawa acara menyerahkan mikrofon kepadaku dan bertanya apakah aku bersedia menikah dengan Ricky, tiba-tiba terdengar keributan dari arah pintu."Dia nggak mau!"Arvin menendang pintu aula hingga terbuka, lalu bergegas melangkah ke tengah panggung.Mengenakan setelan jas hitam yang dibuat khusus, Arvin bahkan terlihat lebih mirip pengantin pria dibandingkan Ricky."Aurelia, jangan main-main lagi.""Aku nggak suka lelucon seperti ini."Sorot mata Arvin tampak dalam dan dia menatapku dengan begitu tajam."Aku nggak sedang bercanda denganmu.""Seperti yang kamu lihat sendiri, aku akan menikah."Saat aku menatapnya, detak jantung Arvin sempat terhenti untuk sesaat.Wajahku yang jelita itu kini dirias dengan begitu sempurna. Penampilanku benar-benar berbeda dari apa yang ada dalam ingatannya.Arvin pun merasa bahwa pada saat ini, aku bukan lagi sekadar adik yang selama ini selalu ditanggapinya dengan a

  • Lima Tahun Penantian dalam Sunyi   Bab 5

    Aku menarik napas dalam-dalam, mengangkat kaki, lalu melangkah melewati gelang yang hancur itu dengan penuh tekad.…Beberapa hari berikutnya, aku pindah kembali ke rumah lama Keluarga Faresta untuk fokus mempersiapkan pernikahanku.Tiga hari sebelum pernikahan, aku dan pihak hotel menetapkan seluruh detail acara.Manajer hotel memberitahuku bahwa semua bunga mawar untuk dekorasi lokasi pernikahan sudah diganti dengan bunga matahari."Pak Ricky bilang, bunga favorit Anda adalah bunga matahari. Dia ingin memberikan yang terbaik untuk Anda."Perasaan hangat menyelimuti hatiku. Aku pun mengirimkan pesan kepada Ricky yang masih berada di luar negeri.[Bunga mataharinya sangat cantik. Aku sangat menyukainya. Terima kasih.]Di saat yang bersamaan, Arvin memperbarui status di media sosialnya.Dalam foto itu, dia sedang mengajak Della berlibur di tepi pantai.Cahaya matahari, hamparan pasir, perjalanan ke pantai yang pernah aku mohon dengan teramat sangat kepada Arvin selama lima tahun, tetapi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status