LOGINSuasana rumah megah di Kawasan Jakarta Selatan itu benar-benar terasa ramai oleh kehadiran The Inner Circle—teman-teman circle sosialita Seraphine sejak masa SMA. Ruang tengah yang didominasi marmer italia dan furniture minimalis karya desainer eropa itu kini berubah menjadi pusat keramaian. Suara melengking Gisela, nyanyian-nyanyian dari Anya, dan denting gelas kristal yang saling beradu memenuhi setiap sudut ruangan.Seraphine Swarna Kirana, yang kini sudah menanggalkan gaun silk hitamnya dan berganti dengan piyama sutra berwarna champagne, duduk di sofa panjang sambil mengamati sahabat-sahabatnya. Di atas meja marmer di depannya, terhampar kemewahan yang dipesan secara impulsif: tumpukan kotak sushi premium dari Senopati, Wagyu A5 yang masih hangat, truffle fries yang aromanya memenuhi ruangan, hingga botol-botol wine dan champagne dari cellar pribadi Samudera yang harganya cukup untuk membeli sebuah mobil kota."Sera! Gila, ini Krug Clos d'Ambonnay? Suami lo beneran biarin kita mi
Samudera duduk di tepi ranjang hotelnya di Amsterdam, menatap room chatnya dengan Seraphine. Sejak menutup panggilan, Seraphine mengabaikan seluruh pesannya. Membuat Samudera berdecak dan mengacak rambutnya frustasi.Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 15.15 di Belanda. Itu berarti di Jakarta sudah pukul 20.15 malam. Hanya butuh 45 menit sebelum pukul 9 malam—waktu dimana Seraphine bilang dia akan berangkat ke bar."Gila, gue nggak bisa begini," gumam Samudera. Ia berdiri, mondar-mandir di kamar hotelnya yang luas. “Dia pasti beneran berangkat kalau gue nggak telepon sekarang," gumam Samudera.Ia mengabaikan rasa pusing yang tersisa dari penerbangan Berlin-Amsterdam. Pikirannya hanya satu: Seraphine tidak boleh berada di Blue Terrace malam ini tanpa dirinya.Ia menekan tombol panggilan video. Ditolak.Ia menekan lagi. Ditolak lagi.Hingga pada panggilan kelima, layar itu akhirnya terhubung.Wajah Seraphine muncul di layar. Samudera nyaris menahan napas. Seraphine sedang berada di depan
Di Jakarta, hari sudah memasuki sore hari dengan semburat jingganya yang memasuki kaca jendela ruangan Seraphine Swarna Kirana. Ia baru saja menyelesaikan rapat koordinasi terakhirnya di hari itu. Helaan napas lega keluar dari mulutnya, sambil menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang empuk, memutar lehernya yang terasa kaku. Ponselnya yang tergeletak di atas meja bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk. Begitu melihat nama pengirimnya: Suami, sudut bibir Seraphine terangkat tanpa disadari. Samudera: Obat sama supnya sudah habis. Enak banget, makasih ya Nyonya Wicaksana. Maaf buat semalam... gue beneran di luar kendali. Tapi satu hal yang perlu lo tau, bagian 'The Muse' itu... itu satu-satunya bagian yang paling jujur dari semua racauan gue. Gue siap kasih penjelasan lengkap, tapi syaratnya, gue harus jelasin itu sambil peluk lo di rumah. Amsterdam sebentar lagi mendarat. I love you, Sera. Seraphine tertegun, dadanya berdesir hangat. “Sambil peluk lo di rumah katanya?” gumamnya p
Pesawat jet pribadi Motion13 baru saja meninggalkan landasan pacu Berlin Brandenburg Airport, membelah awan menuju Amsterdam. Di dalam kabin, suasana sedikit lebih tenang daripada biasanya. Aroma kopi hitam yang kuat menyeruak, berusaha mengusir sisa-sisa hangover yang masih menggelayuti beberapa member. Samudera duduk di kursi paling pojok, mengenakan kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang sembab dan kepalanya yang masih terasa seperti dipukul palu godam. Di sampingnya, Sekala sedang asyik mengunyah jeruk kupas, matanya sibuk menonton variety show di tabletnya. Samudera berdeham pelan, suaranya parau. "La." Sekala menoleh, melepas sebelah earbud-nya. "Ya, Bang? Kenapa? Mau jeruk? Biar segeran dikit mualnya." Samudera menoleh pelan, matanya sedikit sayu karena sisa hangover. "La... gue mau tanya. Semalem, pas kita minum-minum di suite, gue ngomong apa aja ke kalian sebelum gue balik ke kamar?" Sekala berhenti mengupas jeruknya, matanya berkedip jenius. "Hmm, nggak banya
Seraphine baru saja memasuki kantornya di Jakarta. Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Seperti biasa, di mejanya sudah tersedia buket bunga tulip putih dan baki berisi sarapan sehat yang dikirimkan oleh asisten Samudera.Namun, ada yang berbeda hari ini. Ada sebuah kartu kecil lagi."I heard you felt lonely last night. I’m sorry I wasn’t there to hug you back to sleep. But look at these tulips, they stand tall even in the cold, just like you. Eat your breakfast, Sera. I’ll be watching from Berlin. - Sam"Seraphine tersenyum tipis, jarinya menyentuh kelopak bunga yang lembut. Ia mengambil ponselnya, hendak mengirim pesan, namun ia teringat bahwa di Berlin sekarang masih pagi dan Samudera pasti sedang beristirahat.Ya. Setelah sukses di kota-kota sebelumnya—London, Manchester, dan Paris. Saat ini Motion13 melanjutkan tur eropanya di Berlin, Jerman.Ia menghela napas, duduk di kursi kebesarannya. Ia memikirkan tentang koper perak yang ia lihat di layar tadi. Seraphine bukan wanita bodoh.
Hari ini adalah jadwal keberangkatan Motion13 menuju Berlin. Suasana lobi hotel jauh dari kata tenang. Puluhan koper besar sudah tertata rapi di dekat pintu keluar, siap dimuat ke dalam bus menuju terminal jet pribadi.Samudera turun dari lift dengan langkah tegap, masih mengenakan jaket shearling hitam pemberian Seraphine yang kini menjadi benda kesayangannya. Namun, ada satu pemandangan yang membuat para member dan staf agensi tertegun sejenak. Samudera menarik satu koper tambahan bermerek Rimowa dengan edisi terbatas yang masih terlihat sangat baru,"Bang, itu koper siapa lagi?" tanya Danendra sambil menunjuk koper yang didorong oleh seorang staf di belakang Samudera untuk masuk ke bagasi bus. "Perasaan pas berangkat dari Jakarta, jatah koper kita cuma dua per orang biar nggak overweight di jet."Samudera hanya melirik koper itu dengan senyum tipis. “Koper gue. Gue baru beli tadi malem di butik deket hotel.”Mahesa yang sedang memanggul tas kameranya langsung mendekat, matanya meny
Seraphie masih mematung, menatap daun pintu kayu itu dengan kekesalan yang melupa. Di samping kakinya, piyama sutra berwarna navy itu tergeletak disana. “Lima menit?” gumam Seraphine, suaranya parau. “Lo bener-bener gila, Samudera.”Seraphine mencoba bergerak. Tetapi denyutan ngilu masih terasa di
Seraphine terengah di bawah kungkungan tubuh Samudera, dadanya naik turun dengan cepat, tidak beraturan. Rambutnya yang berantakan tersebar di atas sprei sutra abu-abu. “Sam… lepas… ini udah kelewatan,” gumam Seraphine, suaranya parau antara pengaruh alkohol dan debaran jantung yang menggila. Ia m
Seraphine terdiam, namun matanya masih berkilat penuh emosi yang campur aduk. Ia bisa merasakan deru napas Samudera yang stabil, sangat kontras dengan detak jantungnya yang berpacu cepat sejak tadi. “Lo gila,” desis Seraphine akhirnya, suaranya sedikit bergetar. “Lo pikir dengan duit segini, lo bi
Samudera keluar dari kamar, setelah perdebatan di atas ranjang tadi dan akhirnya Seraphine bergantian masuk ke kamar mandi. Dia berjalan menuju ruang tengah, rambutnya masih basah dan hanya mengenakan celana pendek hitam serta baju putih. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Seraphine turun ke lanta







