Mag-log inBab 33Setelah mengantarkan Samudera, Seraphine kembali ke mode CEO yang dingin di kantor kebesarannya. Pukul delapan pagi, ia sudah duduk tegak di kantornya, memimpin rapat terkait ekspansi klinik di Surabaya dengan ketegasan yang biasanya. Namun, saat ia melirik ke arah jam digital di kantornya, fokusnya sedikit goyah. Gema kalimat “I love you” yang terus berputar seperti piringan hitam rusak di kepalanya, ia mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan dokumen ekspansi klinik, berusaha bersikap seolah semuanya normal.Namun, ketenangan itu hancur saat jarum jam menunjukkan pukul dua siang.Pintu ruang kerjanya terbuka tanpa ketukan formal. Alice Wicaksana melangkah masuk dengan anggun, mengenakan kacamata hitam dari lini terbaru desainer ternama dan tas tangan yang harganya bisa membeli satu unit mobil menengah."Seraphine, Sayang! Oh my God, menantuku yang malang," Mama Alice langsung menghambur dan memeluk Seraphine erat, memberikan kecupan di kedua pipinya sebelum Seraphine sempat
Bab 32Samudera menutup pintu mobilnya dengan helaan napas berat. Ia berdiri sejenak di samping mobil, merapikan penampilannya sejenak dan menarik napas panjang udara pagi Jakarta yang lembap. Di tangannya, ia menjinjing sebuah tas besar berisi paket-paket yang sudah disiapkan oleh Seraphine semalam.Begitu Samudera mendekat ke arah kerumunan member, suasana langsung pecah. Dua belas pria dengan visual luar biasa yang sedang mengantuk itu mendadak segar saat melihat pemimpin mereka datang dari arah mobil pribadi, bukan dari asrama."Woy! Pengantin baru dateng!" teriak Daksa suaranya yang menggelegar membuat beberapa staf menoleh. Ia langsung menghampiri Samudera dengan gaya hiperaktifnya yang khas.“Gimana, Bang? Berat ya kakinya mau ngelangkah?” goda Sekala."Gila ya, Bang Sam. Gue kira lo bakal telat karena... ya tahu sendirilah, tenaga abis buat yang lain," goda Mahesa, menyeringai lebar sambil memamerkan tinggi badannya yang menjulang di samping Samudera.Samudera mendengus, namun
Alarm di nakas kamar mereka, berbunyi tepat pukul 04.00 pagi. Samudera adalah yang pertama kali membuka mata. Ia tidak langsung mematikan alarm, melainkan menatap langit-langit kamar sejenak. Menyadari bahwa dalam hitungan jam, ia tidak akan lagi mencium aroma vanilla dan sandalwood yang kini menjadi candunya. Samudera menoleh pada wanita di pelukannya. “Sera… bangun, Sayang,” bisik Samudera tepat di telinga istrinya. Kemudian Samudera mengecup bahu Seraphine yang terbuka. Seraphine mengerang pelan. Ia bergerak sedikit, meringis saat otot-otot di pinggang dan pahanya memprotes gerakan tiba-tiba itu. Memori tentang "malam perpisahan" yang brutal namun manis semalam seketika membanjiri otaknya, membuat wajahnya panas meski hari masih buta. Seraphie membuka mata perlahan. “Jam berapa?” "Jam empat lewat sedikit. Gue harus di agensi jam enam buat kumpul bareng anak-anak sebelum ke bandara," Samudera mengusap pipi Seraphine lembut. "Gue yang nyetir ke agensi, atau lo mau Pak Nanang y
Lampu tidur di sudut ruangan masih menyisakan pendar jingga yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di langit-langit kamar. Suasana hening, hanya ada deru halus AC dan suara napas Samudera yang mulai stabil di sampingnya. Namun, bagi Seraphine Swarna Kirana, keheningan ini justru terasa bising. Pikirannya berlarian seperti mesin yang kehilangan rem.Seraphine masih terjaga. Ia berbaring miring, membelakangi Samudera, meski lengan kokoh pria itu masih melingkar protektif di pinggangnya, menarik tubuhnya untuk tetap menempel pada dada bidang yang hangat itu. Kulit mereka masih bersentuhan, menyisakan jejak-jejak panas dari pergulatan intens beberapa saat lalu.“Apa yang baru aja gue lakuin?”Pertanyaan itu berputar berkali-kali di kepalanya. Seraphine, CEO dingin dalam negosiasi bisnis, kini merasa asing dengan dirinya sendiri.Ia menatap lengan Samudera di perutnya.Dua kali.Dalam rentang kurang dari seminggu, ia telah menyerahkan benteng pertahanannya kepada pria
Samudera menunduk, mulai mencium istrinya. Awalnya, ciuman itu terasa seperti sebuah tantangan—kasar dan penuh tuntutan. Seraphine sempat menahan napas, tangannya mengepal di kemeja Samudera, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya. Namun, saat lidah Samudera menyapu bibirnya, pertahanan itu runtuh seketika.Seraphine membalas. Ia bukan tipe wanita yang pasif. Jemarinya naik ke tengkuk Samudera, menarik pria itu lebih dalam ke dalam pagutannya. Suara kecipak halus memenuhi keheningan kamar, bercampur dengan napas mereka yang mulai memburu. Ciuman itu berpindah, turun ke rahang tegas Samudera, lalu ke leher jenjang Seraphine yang selalu menjadi titik lemahnya."Sam... pelan-pelan..." gumam Seraphine hampir tidak terdengar saat tangan Samudera mulai menanggalkan pakaian yang menghalangi kulit mereka.Keringat bercucuran di pelipis Samudera. Di bawahnya, Seraphine tampak cantik sekali dengan pipinya yang merona, bibirnya yang bengkak karena ciuman-ciuman menuntut, dan matanya sayu.
H-1 sebelum keberangkatan Motion13 ke London. Rumah besar itu biasanya terasa sunyi, namun malam ini atmosfernya berbeda. Di lantai dua, tepatnya di walk-in closet Samudera yang luas, dua koper besar ukuran extra large dengan merek rimowa sudah terbuka lebar di atas lantai.Seraphine berlutut di depan salah satu koper. Tangannya yang ramping bergerak lincah menata kantong-kantong jaring transparan. Sejak dua hari lalu, ia seolah mengambil alih tugas manajer Samudera dalam hal packing. Sebagai seorang wanita yang terbiasa mengatur strategi bisnis, Seraphine membawa ketelitian itu ke dalam koper suaminya."Sam, suplemen herbal ini diminum tiap pagi sebelum latihan. Jangan sampai lewat. Stamina lo bakal anjlok kalau cuma ngandelin kopi," ujar Seraphine tanpa menoleh. Ia sedang memasukkan botol-botol kecil berisi cairan ginseng merah ke dalam kompartemen khusus.Samudera, yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan celana joging abu-abu tanpa atasan, bersandar di bingkai pintu. Ia m
Seraphine terengah di bawah kungkungan tubuh Samudera, dadanya naik turun dengan cepat, tidak beraturan. Rambutnya yang berantakan tersebar di atas sprei sutra abu-abu. “Sam… lepas… ini udah kelewatan,” gumam Seraphine, suaranya parau antara pengaruh alkohol dan debaran jantung yang menggila. Ia m
Bab 21Jarum jam digital di dasbor menunjukkan pukul 23.15Suasana di dalam kabin SUV hitam itu begitu pekat, lebih gelap dari malam Jakarta yang sedang diguyur gerimis tipis. Samudera mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih.Di sampingnya, Seraphine menyandarkan kepala pada kaca jen
Sore itu, Seraphine telah menyelesaikan beberapa rapat sejak tadi pagi. Ia memijat tengkuknya yang terasa pegal. Namun pikirannya terus melayang ke kejadian pagi tadi. Serratus juta, usapan di kepala, dan aroma maskulin Samudera yang seolah menempel di kulitnya. Ia meraih ponselnya. Ada sebuah grup
Malam kedua di rumah baru mereka dimulai dengan suasana yang jauh lebih "waspada" dibandingkan malam sebelumnya. Jika semalam Seraphine hanya masuk ke kamar dengan keraguan, malam ini ia masuk dengan sebuah misi. Di pelukannya, ia membawa tiga buah bantal sofa panjang yang tadi siang baru saja diki







