"Sam..." panggil Seraphine lagi, kali ini ini dengan suara yang lebih lembut. Ia menggeser duduknya, merapatkan tubuhnya pada tubuh telanjang dada suaminya, lalu menangkup wajah tampan Samudera dengan kedua tangannya yang hangat, memaksa pria itu untuk menatapnya. Samudera memilih memejamkan mata, menikmati sentuhan itu. "Aku nggak mau bahas dia, Sera. Tolong," ujar Samudera, suaranya terdengar bergetar oleh perpaduan antara ego, amarah, dan rasa dikhianati. "Aku ke sini buat kamu. Aku mau tenang sama kamu. Jangan sebut nama dia di kamar ini." "Samudera Adikara," Seraphine menyebut nama lengkap suaminya dengan nada yang sangat serius. "Dengerin aku dulu. Tolong liat aku." Samudera akhirnya menatap Seraphine. “Apa, Sayang? Kamu mau belain dia?” suaranya terdengar pahit. “Kamu kasihan liat dia ngemis-ngemis minta maaf kayak gitu setelah apa yang dia simpen di belakang aku selama bertahun-tahun?” “Enggak, Sayang,” ujar Seraphine lembut, menangkup rahang tegas suaminya. “Aku nggak
더 보기