LOGINSudah tiga hari sejak insiden pertengkaran hebat antara Seraphine dan Samudera. Malam itu waktu Tokyo, Motion13 baru saja menyelesaikan konser Day 1 mereka di Tokyo Dome. Lebih dari lima puluh ribu pasang mata bersorak riuh pada penampilan idol mereka yang tanpa celah.Dan Samudera sebagai leader dan rapper dalam grup, benar-benar tidak menunjukkan cela kesedihan dalam wajahnya. Dia tersenyum lebar seperti yang bisa ditampilkan, gerakannya saat melakukan tarian tetap sempurna, dan bagaimana cara dia menyapa fans yang bergemuruh memanggil namanya benar-benar sangat natural. Seolah Samudera memang disetting seperti itu di atas panggung.Namun, kenyataan di belakang panggung adalah sebuah mimpi buruk yang mengerikan.Para member Motion13 tahu persis bagaimana Samudera menyiksa dirinya sendiri sejak mereka mendarat di Tokyo dua hari yang lalu. Pria itu sama sekali tidak menyentuh makanan padat. Bekal catering kelas atas, bento premium, hingga daging sapi Hida yang disediakan pihak penyele
Sementara itu, ribuan kaki di mesin jet pribadi Bombardier Global 7500 milik keluarga Hartono. Seraphine duduk menyandar di dekat jendela jet pribadi. Tatapan matanya kosong dengan tubuhnya yang meringkuk dibalut selimut tebal yang diselimutkan oleh Bianca.Jaket milik Samudera yang semalam dibawanya kini tergeletak mengenaskan di lantai kabin, sengaja dilempar jauh oleh Seraphine karena aroma parfum suaminya yang tertinggal disana terus memicu rasa mual dan sakit di dadanya.Di atas meja lipat di hadapannya, sepiring waffle hangat dengan buah beri segar dan segelas jus jeruk yang disiapkan oleh pramugari jet sama sekali tidak disentuh. Seraphine benar-benar menolak untuk memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya sejak mereka lepas landas dari Halim Perdanakusuma.“Sera,” panggil Anya lembut, duduk di kursi kosong yang berhadapan langsung dengan Seraphine. “Lo harus makan sesuatu. Lo udah hampir enam jam nggak kemasukan makanan sama sekali. Nanti lambung lo kena, Sera.”Seraphine t
Pukul 05.45, sebuah Toyota HiAce hitam berlogi agensi World Entertainment tiba di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Pintu geser otomatis terbuka, Samudera sebagai leader turun sebagai orang pertama.Penampilannya pagi itu tampak menawan meskipun ada hal yang tidak biasa. Sebuah beanie berwarna merah ditarik sangat rendah menutupi dahi. Masker kain berwarna hitam menutup bagian bawah wajahnya. Jaket chrome hearts—pemberian Seraphine 3 hari yang lalu menyelimuti tubuh tegapnya.Di belakangnya menyusul Jauzan Shaka Aradhana, sang wakil ketua sekaligus penengah grup, disusul oleh Yosua Caleb Pramudya. Jauzan, dengan rambutnya yang agak panjang dan tatapan matanya yang tajam namun lembut, langsung menyadari ada yang salah sejak Samudera melangkah keluar dari mobil agensi.“Sam,” panggil Jauzan lirih, menyejajarkan langkah kakinya di samping Samudera saat mereka berjalan membelah barisan wartawan. “Lo oke? Masker lo kenapa tinggi banget? Mata lo kenapa merah gitu?”Samudera t
Di tempat lain, Samudera berhasil masuk ke apartemen mewah milik Seraphine menggunakan kartu akses cadangan yang diberikah oleh Seraphine saat awal pernikahan mereka. Namun, kemewahan apartemen milik Seraphine terasa begitu sunyi, gelap, dan mencekam.Dalam perjalanan kesini, Samudera berdoa dan berharap setengah mati akan menemukan sosok sang istri yang sedang duduk menangis di sofa atau bersembunyi di dalam kamar utama. Sehingga Samudera bisa memeluknya dan menjelaskan tentang semuanya.Namun, kenyataan pahit harus dihadapi oleh Samudera saat melihat apartemen mewah itu kosong melompong. Tidak ada lampu yang dinyalakan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Membuktikan bahwa tempat ini sudah lama tidak dikunjungi.“Nggak… nggak mungkin! Kamu di mana, Sera?! Kamu di mana, Sayang?!” teriak Samudera histeris. Suaranya yang berat kini terdengar serak dan pecah, menggema pilu di ruangan yang sepi itu.Samudera berlari menuju kamar utama, membuka lemari pakaian dengan kasar, memeriksa kamar ma
Deru mesin flat-six dari Porsche 911 Carrera berwarna hitam itu meraung memecah jalanan Jakarta. Seraphine mencengkeram kemudi dengan tangan yang masih gemetar. Dadanya masih bergemuruh, air matanya terus mengalir deras, sedikit mengaburkan pandangannya terhadap aspal yang basah sisa hujan yang mula mereda.Di belakangnya, lampu depan sebuah mobil Range Rover menyala terang. Seraphine tahu betul siapa pemilik mobil tersebut. Samudera. Pria itu mengejarnya tanpa memedulikan penampilannya yang hanya mengenakan kaos berwarna hitam berbalut celana panjang senada. Ia langsung melompat ke balik kemudi mobil SUV besarnya demi mengejar sang istri.Jantung Samudera berdegup kencang. Terasa ingin copot melihat bagaimana mobil Seraphine menyelinap di antara kendaraan-kendaraan lain dengan kecepatan yang sangat berbahaya.“Sialan! Bodoh! Bajingan lo, Samudera!” maki Samudera pada dirinya sendiri. Air matanya perlahan menetes membahasi pipi. “Kenapa lo harus jujur mala mini, hah?! Kenapa lo gak be
Seraphine mencengkeram dadanya yang terasa sangat sesak. “Sementara aku? Aku menjaga diri aku seumur hidup aku. Aku gak pernah biarin cowok mana pun nyentuh aku sejauh itu sebelum kita nikah. Aku ngasih semuanya buat kamu, tubuh aku, my virginity, my whole soul karena aku pikir… we were on the sampe page, Samudera!” Seraphine menatap Samudera dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa muak dan jijik yang teramat sangat. "Tapi ternyata? Kamu udah bekas orang lain! Kamu udah biasa berbagi ranjang dan kehidupan domestik sama wanita lain! Kamu... kamu menjijikkan, Samudera!" Kata "bekas" dan "menjijikkan" yang keluar dari bibir Seraphine seketika menghantam ego paling dalam dari seorang Samudera Adikara. Sebagai seorang pria alpha yang memiliki harga diri tinggi dan sangat disegani di industrinya, harga dirinya hancur berkeping-keping mendengar kata-kata kasar dari istrinya sendiri. Rahang Samudera mengeras sempurna. Urat-urat di leher dan lengan kekarnya menonjol tajam saat ia mengepalk
Uap hangat sisa air panas masih mengepul tipis saat Seraphine membuka pintu kamar mandi. Ia telah menghabiskan waktu hampir empat puluh menit di dalam sana—jauh lebih lama dari ritual mandi biasanya. Karena Seraphine harus membersihkan diri dari makeup berat ataupun hair do yang sangat nempel. Sela
Samudera menghentikan mobilnya di basement apartemen mewah di Kawasan Jakarta Selatan yang dijaga super ketat. Setelah melewati tiga lapis pemeriksaan keamanan yang membuktikan betapa mahalnya privasi Seraphine, ia akhirnya sampai di depan unit penthouse wanita itu.Pintu terbuka bahkan sebelum Sam
Lampu tidur di sudut ruangan masih menyisakan pendar jingga yang redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di langit-langit kamar. Suasana hening, hanya ada deru halus AC dan suara napas Samudera yang mulai stabil di sampingnya. Namun, bagi Seraphine Swarna Kirana, keheningan ini just
Samudera menunduk, mulai mencium istrinya. Awalnya, ciuman itu terasa seperti sebuah tantangan—kasar dan penuh tuntutan. Seraphine sempat menahan napas, tangannya mengepal di kemeja Samudera, mencoba mempertahankan benteng pertahanannya. Namun, saat lidah Samudera menyapu bibirnya, pertahanan itu r







