Ketenangan di dalam kamar utama Safe House itu pecah bukan oleh suara ledakan, melainkan oleh ketukan pintu yang ritmis, dingin, dan penuh otoritas. Suara itu adalah suara yang sangat dikenal oleh Xavier, suara yang melambangkan tradisi kaku dan hukum darah klan Alexander.Xavier segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Ayla, sementara ia sendiri bangkit dan mengenakan jubah hitamnya dengan gerakan cepat yang masih sedikit kaku. Matanya yang baru saja melembut akibat percintaan, kini kembali menajam seperti mata pisau.“Siapa?” geram Xavier, meskipun ia sudah tahu jawabannya dari aroma kemenyan dan kayu tua yang merembes melalui celah pintu.“Dewan Tetua menunggumu di aula bawah, Alpha,” suara Yuan terdengar dari balik pintu, sarat dengan nada peringatan. “Mereka membawa Silas bersama mereka.”Ayla bangkit, mencoba menahan rasa pening yang menyerang kepalanya. “Silas? Ketua Dewan yang kau ceritakan itu?”“Tetaplah di sini, Ayla,” perintah Xavier sambil mengecup keningnya sekilas. “
더 보기