INICIAR SESIÓNWaktu bergerak serupa roda yang dipaksa berputar di atas jalur berbatu. Sembilan bulan berlalu di dalam benteng utara yang dijaga lebih ketat daripada gudang persenjataan utama klan.Setiap hari bagi Xavier adalah sebuah ujian ketahanan mental; ia menyaksikan bagaimana tubuh Ayla bertahan di batas kemanusiaannya, bertarung melawan pasang surut energi perak yang kian dominan. Namun, pagi itu, ketenangan semu mereka pecah oleh erangan yang datang dari dasar rahim sang Luna.Ayla mencengkeram besi ranjang medis hingga logam tebal itu melengkung di bawah tekanan tangannya. Keringat dingin membanjiri pelipisnya, melunturkan pendaran perak yang fajar ini muncul lebih pekat dari biasanya di sekitar matanya.“Xavier... sekarang,” rintih Ayla, napasnya terputus-putus oleh kontraksi yang menghantam seperti ombak badai. “Dia... dia ingin keluar.”Xavier yang sedang memeriksa perimeter langsung melesat, berlutut di samping ranjang dalam waktu kurang dari satu detik.Wajahnya pias, ketakutan yang
Telapak tangan besar Xavier yang semula gemetar kini menempel sepenuhnya di atas permukaan perut Ayla yang menegang. Detik itu juga, keheningan kamar mandi dan sisa-sisa aroma kemenyan di luar dinding seolah lenyap dari kesadarannya.Kulit di bawah jemarinya tidak lagi terasa seperti jaringan tubuh manusia biasa; ada struktur magis yang berdenyut, mengalirkan hawa hangat yang langsung menyengat ujung-ujung saraf sang Alpha.BUM!Sebuah hentakan keras dari dalam rahim Ayla menghantam telapak tangan Xavier. Itu bukan sekadar pergerakan janin biasa, melainkan sebuah ledakan energi murni yang begitu pekat hingga gelombang kejutnya merambat naik ke lengan Xavier, menembus dadanya, dan menghempaskan kesadarannya ke dalam dimensi spiritual klan yang terdalam.Xavier terengah-engah, matanya membelalak lebar saat benteng emosionalnya runtuh seketika. Ia tidak terpental secara fisik, namun jiwanya dipaksa mundur oleh otoritas yang sangat besar dari sesosok makhluk yang bahkan belum lahir.“Xavi
Di balik tirai-tirai tebal yang menutup rapat seluruh akses cahaya, atmosfer kamar terasa pengap oleh keputusasaan. Xavier masih berlutut di sisi ranjang, bahunya yang lebar naik-turun dalam ritme napas yang tidak beraturan.Pikirannya tersesat di dalam labirin kegelapan yang paling dalam, sebuah rencana terlarang yang jika terendus oleh klan, akan memicu perang saudara yang tak terhindarkan.Melihat suaminya tenggelam begitu dalam ke dalam kegilaan batinnya sendiri, Ayla mengumpulkan sisa-sisa kekuatan yang masih tertinggal di sumsum tulangnya.Setiap gerakan kecil terasa seperti seribu jarum perak yang menusuk persendiannya, namun ia menolak untuk terus terpuruk menjadi sosok yang tidak berdaya.“Xavier...” panggil Ayla, suaranya sangat lirih, hampir tidak melebihi desau angin malam, namun memiliki frekuensi yang langsung memotong seluruh pasokan amarah di kepala sang Alpha.Xavier tidak bergerak. Ia takut jika ia mendongak, ia hanya akan melihat kematian yang kian dekat di wajah is
Lantai batu di lorong sayap utara Safe House bergetar pelan saat Yuan melangkah dengan kepala tertunduk. Di tangannya, sebuah nampan perak berisi potongan daging segar berlumur madu hutan dan sup sumsum, makanan terbaik yang bisa disediakan klan untuk memulihkan energi terasa begitu berat.Bau perak yang menyengat dari balik pintu kamar utama sudah bisa tercium dari jarak sepuluh meter, sebuah tanda bahwa kondisi di dalam sana kian kritis.Yuan menarik napas dalam-dalam sebelum mendorong pintu ek tebal itu dengan sikunya. “Alpha, aku membawa—”Brak!Sebelum Yuan sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata manusia. Nampan perak di tangannya terlempar, hancur menghantam dinding hingga supnya terciprat ke mana-mana.Tubuh besar Yuan terangkat dari lantai, punggungnya dihantamkan ke dinding batu dengan kekuatan yang membuat struktur bangunan itu mengerang.Cengkeraman tangan Xavier di tenggorokan Yuan terasa seperti c
Keheningan di dalam kamar itu begitu pekat hingga suara jarum jam yang berdetak di dinding terdengar seperti dentuman palu godam. Xavier duduk mematung di kursi kayu di samping ranjang, menolak untuk bergeser bahkan satu inci pun sejak fajar menyingsing.Penampilan sang Alpha kini berantakan; rambutnya kusut, janggut tipis mulai tumbuh di rahangnya, dan kemeja hitam yang dikenakannya tampak kusut.Namun, yang paling mengerikan adalah matanya. Kilat emas yang biasanya melambangkan otoritas mutlak kini redup, digantikan oleh kekosongan yang kelam akibat depresi yang menyeret jiwanya ke dasar jurang.Di atas meja kerja di sudut ruangan, tumpukan dokumen klan dan laporan intelijen dari Yuan dibiarkan menumpuk hingga berdebu.Xavier telah melepaskan semua tanggung jawabnya sebagai pemimpin. Baginya, seluruh wilayah kekuasaan klan Alexander tidak ada artinya jika pusat dunianya sedang sekarat di atas ranjang medis ini.Ia menggenggam tangan kiri Ayla, membungkus jemari kurus itu dengan kedu
Ruang utama di sayap utara Safe House kini lebih menyerupai unit perawatan intensif daripada sebuah kamar tidur mewah. Tirai beludru dipasang berlapis untuk menghalau setiap tetes cahaya matahari yang kini terasa menyakitkan bagi indra Ayla yang kian sensitif.Di atas ranjang, Ayla tampak menyusut; tulang pipinya menonjol tajam dan kulitnya yang semula cerah kini sepucat marmer, hampir transparan hingga pembuluh darah birunya terlihat seperti jaring laba-laba yang rapuh.Xavier duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan Ayla yang terasa seringan tulang burung. Ia menyaksikan dengan hati hancur bagaimana wanita yang ia cintai perlahan memudar. Di depan mereka, semangkuk kaldu nutrisi tingkat tinggi masih utuh, permukaannya mendingin tanpa disentuh.“Hanya tiga sendok, Ayla. Kumohon,” bisik Xavier, suaranya parau oleh kurang tidur dan rasa cemas yang menggerogoti jiwanya.Ayla mencoba menggeleng, namun gerakan itu saja membuatnya memejamkan mata menahan pening. “Baunya... seperti besi, X
“Ikutlah denganku, Ayla. Xavier tidak akan pernah menceritakan siapa dia sebenarnya padamu,” ucap pria bermata merah bernama Julian, sambil melangkah maju dengan tenang di atas balkon.Ayla mundur hingga tumitnya menyentuh bingkai pintu kaca. “Aku tidak mengenalmu. Pergi dari sini!” usirnya dengan
“Kubilang jangan masuk, sialan!” pekik Xavier kemudian menindih Ayla dan memancarkan panas yang sanggup menghanguskan kulit.Ayla terpaku, punggungnya menghantam marmer keras sementara napas berat Xavier menerpa wajahnya. Ini bukan lagi pria yang duduk di balik meja mahoni kantor.Rahang Xavier mel
Mobil Bentley hitam itu berhenti dengan sentakan kasar di basement pribadi penthouse. Xavier tidak langsung mematikan mesin.Tangannya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan kulit jok kulit itu berderit di bawah tekanannya.Ayla melirik dari kursi penumpang, dadanya m
Sore itu, gedung Alexander Group mulai lengang, namun atmosfer di dalam lift privat menuju lobi parkir terasa seberat timah.Xavier Alexander berdiri di sudut, rahangnya mengeras, sementara matanya tak lepas dari pantulan Ayla di dinding lift yang mengilat.Ayla berdiri di depan, sembari meremas ta







