“Jadi Anda mengikuti saya?” tanya Ivanka dingin. Dia menepis tangan Kaveri, lalu berjalan mendekati Bagaspati yang sudah tersenyum untuknya. Ivanka memiringkan wajahnya. Menatap Bagaspati lebih lekat lagi. “Seharusnya… Anda memberi saya waktu untuk bicara dengannya lebih dulu,” sambung Ivanka. Kedua tangannya sudah terlipat di depan dada. Bagaspati terkekeh. Dia kembali menyalakan rokoknya, lalu menghembuskannya tepat di wajah Ivanka. “Waktu hanya untuk orang yang punya kesempatan,” bisiknya. Tangan kekar itu menyentuh dagu Ivanka, perlahan. “Tapi kamu… waktumu sudah habis. Kamu sudah banyak membuat masalah, dan sekarang saatnya kamu membereskannya.” Mustahil Ivanka tidak merasa tertekan dengan sikap Bagaspati yang begitu dingin. Tapi dia tetap berusaha tegar. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk membawa Byakta kembali. Kembali menjadi manusia normal, bila perlu. Dia tidak ingin menang
Read more