เข้าสู่ระบบKening Kaveri berkerut. Dia kembali mundur beberapa langkah sampai akhirnya menyentuh ujung dinding. Bulir keringat sudah mengalir dari pelipisnya. Kedua tangannya terkepal. Dia langsung mengingat Bagaspati. Dia yakin kalau Bagaspati yang sudah memberi tahu semua ini. “Jawab… Ivanka mohon… jawab.” Ivanka menyeka air matanya dengan gerakan kasar. Dia mengangkat dagu dan menatap Kaveri dengan mata gelap. “Iya, Ivanka. Ayah bagian dari itu.” Tubuh Ivanka membeku. Tangan yang semula terkepal, perlahan kehilangan tenaganya. Napasnya terhenti di tenggorokan, seperti ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa embel-embel penjelasan ataupun penyesalan. Seolah semua ini memang sudah sewajarnya. “Kenapa?” tanya Ivanka. “Dia… dia juga manusia. Mereka juga manusia.” Ivanka
Ivanka menggigit bibir bawahnya. Semenjak kejadian tadi siang, dia sama sekali tidak bisa mengunjungi Byakta. Bahkan Rival sudah seperti ditelan bumi. Ivanka langsung berdiri ketika kembali mengingat tentang sang ayah. Dia meraih tas dan ponselnya, lalu pergi keluar. Berharap tidak ada lagi pengamanan yang menyulitkannya keluar dari tempat ini. “Aku harus bicara langsung sama dia,” gumamnya, tepat ketika lift terbuka. Wajah sang ayah terus terbayang di benaknya. Ivanka tidak sadar kalau semua pergerakannya masih diawasi oleh Bagaspati. Bahkan sampai dia naik taksi. Sopir taksi yang melintas juga sudah dirancang oleh Bagaspati. Pria tua itu tersenyum melihat kepolosan Ivanka. “Akhirnya aku akan tahu dimana persembunyiannya,” Sedangkan di dalam taksi, Ivanka masih menatap ke luar jendela. Dia masih tidak percaya kalau semua ini benar-benar nyata dan dilakukan oleh orang yang sangat dekat den
Langkah Ivanka terhenti di ujung lorong. Dari balik kaca tebal yang membatasi ruangan itu, dia bisa melihat sosok Byakta duduk di kursi besi, dengan beberapa alat medis terpasang di tubuhnya. Kabel-kabel menjalar dari pelipisnya, terhubung ke mesin besar yang berada tepat di belakangnya. Lampu putih menyilaukan berpadu dengan ruangan dingin tanpa kehangatan sedikitpun. Bibir kering dan wajah pucat itu sudah hampir kehilangan kesadarannya. Jantung Ivanka berdegup lebih cepat. Tangannya terangkat, menempel di permukaan kaca yang dingin. Sama dinginnya dengan perasaan yang mulai merambat di dadanya. “Byakta.” Suara itu nyaris tidak terdengar. Bahkan untuk dirinya sendiri. Di dalam sana, Byakta menunduk. Napasnya berat. Dadanya naik turun dengan ritme yang tidak stabil. Sesekali tubuhnya bergetar, seperti menahan sesuatu yang tidak terlihat. Sed
“Apa maksud Anda?” tanya Ivanka dengan suara yang mulai bergetar. Bagaspati menatapnya dalam, masih dengan senyum yang ia pertahankan. Entah kenapa, senyum itu terlihat begitu menjijikan untuk Ivanka. “Dr. Kav adalah salah satu orang yang menandatangani proyek awal chip itu.” Dunia Ivanka seperti runtuh dalam satu detik. Dia menggeleng. Dia menolak semua yang didengar. “Tidak mungkin. Ayah saya tidak mungkin terlibat dalam hal seperti itu.” Ivanka meremas kepalanya. Kenyataan yang baru dia dengar, dengan kesulitan yang dialami Byakta terus bersahutan di dalam kepalanya. “Tidak mungkin?” Bagaspati mengangkat alisnya. “Atau kamu yang tidak pernah benar-benar mengenal ayahmu sendiri?” Ivanka mundur satu langkah. Kini, kepalanya terasa penuh. Semua yang ia tahu tentang ayahn
Ivanka meremas jari-jarinya. Dia menatap pintu yang masih saja tertutup. Sejak kejadian di ruang kontrol. Tepatnya sekitar satu jam yang lalu, dia dipisahkan dari Byakta dan Rival. Dia dibiarkan seorang diri di ruangan yang belum sekalipun dia datangi. Walau masih ada di wilayah Obsidian Central, tapi Ivanka belum pernah masuk ke ruangan ini. Ruangan dengan tirai serba hitam dan ada CCTV di setiap sudutnya. Lampu gantung kecil yang kini berada tepat di atas kepalanya. Ini sudah seperti ruangan eksekusi. Tubuh Ivanka meremang ketika mendengar suara langkah kaki berat menuju ke arahnya. Dia semakin menggigit bibirnya, dan menatap pintu dengan tatapan waspada. Pintu terbuka. Bagaspati datang dengan stelah yang terlihat lebih santai dari sebelumnya. Hanya mengenakan kaos ketat yang langsung memamerkan otot-otot tubuhnya dengan sangat jelas. Pria tua itu duduk di depa
Ivanka langsung menoleh. Matanya menyipit. Ini adalah pertama kalinya dia bertemu dengan pria tua itu. Dengan gerakan sebelah tangan, Bagaspati meminta anak buahnya untuk membersihkan semua kekacauan yang dilakukan oleh putranya. Alih-alih menatap Byakta yang sudah ketakutan, Bagaspati justru menatap Rival. Pria itu sudah berdiri dengan wajah tertunduk. “Aku memintamu untuk menjaganya,” katanya dengan suara berat. “Menjaga supaya dia tidak melakukan kekacauan. Tapi lihatlah… lihatlah apa yang sudah kalian lakukan. Dua nyawa sudah melayang karena keteledoran kalian.” “Maaf, Tuan. Akan saya bereskan.” Ivanka mengernyit. Dia tidak pernah melihat Rival sepatuh ini. Bahkan di depan Byakta saja, dia masih bisa mengangkat wajahnya. Tapi di depan Bagaspati, dia seperti sudah kehilangan separuh dari nyawanya. Padahal pria tua itu belum melakukan apa-apa.







