Ivanka menyandarkan tubuhnya di kursi penumpang dengan mata terpejam. Seharusnya, yang dirasakan adalah kelegaan, tapi ini justru kegelisahan. Pikirannya masih terus berpusat pada ekspresi Byakta yang jauh berbeda. Dia tidak lagi penuh obsesi. Dia seperti sudah pasrah dengan semua yang terjadi. “Apa dia memang mempermainkanku,” gumam Ivanka pelan. Matanya turun, ketika ponselnya kembali bergetar. Itu adalah notifikasi dari sang ayah. Semenjak dia memberi tahu akan kembali karena kontrak sudah selesai, ayahnya berubah menjadi seorang wartawan yang terus saja bertanya. ‘Kamu yakin akan menjauh dari kekuasaan mereka.’ Itu adalah pesan yang baru saja dikirim oleh Kaveri. Ivanka tidak lagi menjawab. Pria tua itu sudah hampir sepuluh kali bertanya hal yang sama. “Lebih cepat, Pak, saya sudah lelah.” Kalimat itu membuat Pak Sopir mengangguk patuh, lalu kembali memacu gasnya. Ponsel Ivanka kembali berbunyi. Namun kali ini bukan datang dari notifikasi. Melainkan suara alarm. Di
Read More