“Astaga, ada aja masalahnya.” Ivanka meremas kepalanya dengan mata yang masih menatap layar pipih di depannya. Sudah hampir empat kali dia membuat dokumen untuk meeting nanti sore, tapi semuanya selalu gagal. Raut wajah Byakta tadi malam, terus terbayang di kepalanya. Ivanka meletakkan wajahnya di atas meja, seraya mendengus kasar. Dia tidak tahu kalau semua pergerakannya di ruang kerja, selalu terpantau oleh Byakta. Ivanka meremas ujung roknya pelan. Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat tatapan dingin pria itu tadi. Tatapan yang untuk pertama kalinya tidak lagi menahannya. Ivanka terkekeh hambar. “Padahal aku yang mulai,” bisiknya. “Tapi aku nggak nyangka, bakal sesakit ini rasanya.” Ivanka memejamkan mata sejenak. “Kamu memang harus menjauh dariku, Byakta.” Baru beberapa detik dia memejamkan mata, ponselnya tiba-tiba kembali bergetar. Ivanka tidak langsung membukanya. Dia tidak yakin kalau pesan itu datang untuk menghiburnya. Dengan gerakan ragu, Ivanka akhirn
Read more