Langit malam menggantung rendah di atas kota. Awan gelap menutup sebagian cahaya bulan, menciptakan bayangan panjang yang jatuh di setiap sudut jalan. Dunia terasa tenang di permukaan, namun dibalik itu, sesuatu sedang bergerak perlahan—dan berbahaya. Di dalam kamar Byakta, Ivanka masih belum beranjak. Tangannya masih menggenggam jemari pria itu, meskipun kini genggaman itu sudah jauh lebih lemah. Byakta masih terlelap. Napasnya stabil, tapi tubuhnya belum benar-benar pulih. Ivanka menatap wajah itu dalam diam. Ivanka menutup matanya perlahan. Kepalanya terasa berat. Dia membuka matanya kembali. Dan tatapannya sudah berubah lebih tajam. Perlahan, Ivanka melepaskan tangan Byakta—meski terasa berat. Dia berdiri, lalu melangkah keluar dari kamar itu. Begitu pintu tertutup, wajahnya langsung berubah. Tidak ada lagi air mata. Yang tersisa hanya tekad. Rival masih berdiri di lorong, tepat seperti sebelumnya. Seolah dia tidak pernah benar-benar pergi. Tatapan mereka bertemu untuk
Read More