Home / Mafia / Obsesi Sang Penguasa / 75. Keputusan Final Ivanka

Share

75. Keputusan Final Ivanka

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-04-02 08:03:26

“Katakan sesuatu, Ayah!” Suara Ivanka yang melengking, langsung membuat Kaveri menatapnya dalam. “Jadi ini alasan Ayah mengorbankan Rendra?”

Kaveri mengatupkan rahangnya. Wajahnya semakin pucat pasi.

“Iya,” katanya pelan. “Sistem itu saling terhubung. Kalau kita menarik satu pusat kendali secara paksa, maka bisa terjadi kegagalan sinkronisasi.”

“Kegagalan seperti apa?” tanya Ivanka dengan suara yang mulai bergetar. “Lalu apa tujuan A
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Obsesi Sang Penguasa   77. Yang Baru Aku Tahu

    “Dia koma… Ivanka.”Ucapan Rival masih menggantung diudara. Ivanka masih membeku di tempatnya. Dia baru saja pergi sebentar, tapi kondisi pria itu bahkan sudah sampai separah ini. Ivanka menggeleng. Dia kembali mengingat betapa gagahnya Byakta ketika mereka pertama kali bertemu. Pria itu seperti tidak bisa disentuh sembarangan orang. Tapi sekarang, semua kondisinya jadi berbalik dengan sangat cepat.Pria dingin yang dulu selalu membuatnya muak, yang selama ini ia anggap sebagai biang masalah di kehidupannya. Kini sudah seperti mayat hidup, yang terbaring dengan ventilator dan alat medis yang tidak semuanya dia ketahui. Bahkan di bagian kepalanya ada banyak sekali kabel-kabel asing yang menempel.Jemari Ivanka yang bergetar, perlahan menyentuh kening Byakta yang sedikit berkedut. Pria itu seperti sudah tahu kalau Ivanka sedang ada di sampingnya. Ivanka sedikit membungkuk. “Aku disini,” bisiknya tepat di telinga Byakta. Tak kuasa menahan haru, air mata Ivanka jatuh tepat di kening By

  • Obsesi Sang Penguasa   76. Pesan Terakhir Byakta

    “Rival!” teriakan dokter dari kamar Byakta, membuat Rival yang baru saja hendak memejamkan mata langsung bangun. Dia berdiri, lalu berlari menuju kamar. Tubuhnya menegang saat melihat tubuh Byakta yang kembali mengejang dengan mata terpejam. Garis di monitor bergerak sangat cepat. Bunyinya yang sangat memilukan membuat bulu kuduk Rival berdiri secara bersamaan. “Ada apa?” tanya Rival dengan suara tertahan. Dia melangkah cepat, lalu memegang tangan Byakta yang kini meremas selimutnya tanpa sadar. “Tuan… Tuan besar mana?” Dokter itu kembali menatap Rival. Wajahnya tegang dan pucat pasi. Keringat di pelipisnya mulai mengalir. “Rival… Tuan mana?” Rival mengerjap cepat. Dia menatap Byakta yang masih mengejang. Lalu menggeleng samar. “Aku tidak tahu,” sahutnya. “Aku sudah mencarinya, tapi beliau tidak ada.” Rival sedikit membungkuk. Dia memegang puncak kepala Byakta dan juga tangannya. “Dok, lakukan apapun supaya kejangnya hilang. Tolong!” Tanpa diminta, sebenarnya dokter itu masih

  • Obsesi Sang Penguasa   74. Saling Terhubung

    “Jadi Anda mengikuti saya?” tanya Ivanka dingin. Dia menepis tangan Kaveri, lalu berjalan mendekati Bagaspati yang sudah tersenyum untuknya. Ivanka memiringkan wajahnya. Menatap Bagaspati lebih lekat lagi. “Seharusnya… Anda memberi saya waktu untuk bicara dengannya lebih dulu,” sambung Ivanka. Kedua tangannya sudah terlipat di depan dada. Bagaspati terkekeh. Dia kembali menyalakan rokoknya, lalu menghembuskannya tepat di wajah Ivanka. “Waktu hanya untuk orang yang punya kesempatan,” bisiknya. Tangan kekar itu menyentuh dagu Ivanka, perlahan. “Tapi kamu… waktumu sudah habis. Kamu sudah banyak membuat masalah, dan sekarang saatnya kamu membereskannya.” Mustahil Ivanka tidak merasa tertekan dengan sikap Bagaspati yang begitu dingin. Tapi dia tetap berusaha tegar. Dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, untuk membawa Byakta kembali. Kembali menjadi manusia normal, bila perlu. Dia tidak ingin menang

  • Obsesi Sang Penguasa   75. Keputusan Final Ivanka

    “Katakan sesuatu, Ayah!” Suara Ivanka yang melengking, langsung membuat Kaveri menatapnya dalam. “Jadi ini alasan Ayah mengorbankan Rendra?” Kaveri mengatupkan rahangnya. Wajahnya semakin pucat pasi. “Iya,” katanya pelan. “Sistem itu saling terhubung. Kalau kita menarik satu pusat kendali secara paksa, maka bisa terjadi kegagalan sinkronisasi.” “Kegagalan seperti apa?” tanya Ivanka dengan suara yang mulai bergetar. “Lalu apa tujuan Ayah mengutus Rendra?" Kaveri tidak langsung menjawab. Dia menatap Bagaspati sebentar. Dia sudah punya cara untuk memutus sistem itu agar tidak saling terkait. Namun rasanya, kalau Bagaspati mengetahui semua itu, hanya akan membuat perjuangannya sia-sia selama ini. Bagaspati dan Arkanza sama saja. Mereka terlalu obsesi pada kekuasaan. Kaveri menatap Ivanka sedikit lebih lama. Matanya berkedut, seolah memberi isyarat pada Ivanka untuk tidak membaha

  • Obsesi Sang Penguasa   73. Tentang Rendra

    Kening Kaveri berkerut. Dia kembali mundur beberapa langkah sampai akhirnya menyentuh ujung dinding. Bulir keringat sudah mengalir dari pelipisnya. Kedua tangannya terkepal. Dia langsung mengingat Bagaspati. Dia yakin kalau Bagaspati yang sudah memberi tahu semua ini. “Jawab… Ivanka mohon… jawab.” Ivanka menyeka air matanya dengan gerakan kasar. Dia mengangkat dagu dan menatap Kaveri dengan mata gelap. “Iya, Ivanka. Ayah bagian dari itu.” Tubuh Ivanka membeku. Tangan yang semula terkepal, perlahan kehilangan tenaganya. Napasnya terhenti di tenggorokan, seperti ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Kalimat itu jatuh begitu saja. Tanpa embel-embel penjelasan ataupun penyesalan. Seolah semua ini memang sudah sewajarnya. “Kenapa?” tanya Ivanka. “Dia… dia juga manusia. Mereka juga manusia.” Ivanka

  • Obsesi Sang Penguasa   72. Mencari Kebenaran

    Ivanka menggigit bibir bawahnya. Semenjak kejadian tadi siang, dia sama sekali tidak bisa mengunjungi Byakta. Bahkan Rival sudah seperti ditelan bumi. Ivanka langsung berdiri ketika kembali mengingat tentang sang ayah. Dia meraih tas dan ponselnya, lalu pergi keluar. Berharap tidak ada lagi pengamanan yang menyulitkannya keluar dari tempat ini. “Aku harus bicara langsung sama dia,” gumamnya, tepat ketika lift terbuka. Wajah sang ayah terus terbayang di benaknya. Ivanka tidak sadar kalau semua pergerakannya masih diawasi oleh Bagaspati. Bahkan sampai dia naik taksi. Sopir taksi yang melintas juga sudah dirancang oleh Bagaspati. Pria tua itu tersenyum melihat kepolosan Ivanka. “Akhirnya aku akan tahu dimana persembunyiannya,” Sedangkan di dalam taksi, Ivanka masih menatap ke luar jendela. Dia masih tidak percaya kalau semua ini benar-benar nyata dan dilakukan oleh orang yang sangat dekat den

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status