Suasana dingin dan pekatnya salju tidak menyurutkan pengintaian Lintang di atas langit.Dhanang, Sadjiman, dan Limo tidak lagi berani bersuara karena aura kedatangan musuh sudah terasa.Namun sampai saat ini Lintang masih belum bergerak karena rombongan warga belum cukup jauh dari desa.“Lihat di sana tuan?” tunjuk Dhanang ke arah daratan.“Itu …?” Sadjiman mengerutkan kening.“Kwii, kwii,” ujar Limo kepada Lintang.“Benar, itulah raksasa yang selalu masuk ke dalam desa,” ungkap Lintang.“Me-mengapa mereka tidak berwujud? Aku hanya dapat melihat jejak dari tapak kakinya saja tuan?” tanya Sadjiman.“Mereka pengguna Aji halimunan,” jelas Lintang.“Tunggulah di sini, aku akan menemui mereka. Ingat! Tetap waspada karena musuh sudah mengetahui keberadaan kita,” pinta Lintang.“Ba-baik tuan,” Dhanang dan Sadjiman mengangguk secara bersamaan.“Kau terus pantau kepala desa Limo. Jika dia terlihat, mengamuklah!” ujar Lintang kepada Limo.“Kwii,” Limo sangat bersemangat.“Hahaha, dasar tengik,”
Mehr lesen