Namun saat lihat tubuhnya kini terbalut perban putih, Joana urungkan niat untuk berdebat dengannya.“Aku tadi pulang.”Kalau bukan karena dengar Surya jatuh, Joana nggak mungkin datang ke rumah sakit semalam ini.Tatapan mata hitam Surya menatap lurus ke arahnya. “Kamu habis nangis?”Jantung Joana seketika bergetar. Dia nggak nyangka, sorot mata pria itu setajam itu, sekali lihat saja, sudah tahu dia baru saja nangis. Namun gimana mungkin Joana akui itu di hadapan Surya?“Nggak!”Joana coba sangkal dengan canggung, lalu buru-buru alihkan topik.“Kamu belum minum obat, kan? Ayo cepat minum.”Joana ambil obat dari meja di samping tempat tidur, keluarkan beberapa butir, lalu letakkan itu di telapak tangannya. Kemudian Joana sodorkan itu ke Surya. Surya katupkan bibir tipisnya, tetap diam, hanya menatapnya tanpa berkedip. Dia bahkan nggak mau lirik obat yang disodorkan itu.Sejak awal Surya sudah tahu, wanita itu pasti habis nangis. Entah kenapa, dalam hatinya muncul rasa perih, sekaligus
Read more