"Sebaiknya, turunkan senjatamu, Rayyan. Kau tidak menginginkan Leo melihat ayahnya menjadi pembunuh tepat di depan matanya, bukan?" Suara Adrian terdengar sangat tenang dan tanpa beban. Meski Laras pistol anak buah Rayyan masih lurus ke jantung pasukannya. Ia tak bergerak sedikitpun untuk membalas provokasi tersebut. Ia justru melirik Leo yang masih mematung di antara keduanya. Wajah kecilnya tampak kebingungan dan ketakutan. Rayyan tak bergeming. Netranya menatap tajam Adrian dengan kebencian yang mendalam. Akan tetapi, pandangannya seketika melemah ketika beralih pada Leo. Dengan menarik napas panjang, Rayyan memberikan isyarat pada semua pasukan Vanguard untuk menurunkan senjata mereka. "Aku datang hanya untuk menjemput apa yang seharusnya menjadi milik ku. Bukan untuk bermain denganmu," desis Rayyan dan langkahnya perlahan maju. Adrian hanya tersenyum, justru ia melangkah mundur. Gestur itu sangat jarang ditunjukkan Adrian. "Silakan, bawa saja mereka. Tapi, ingat Rayyan. Kali
Read more