Di sudut paling gelap Markas Komando Sayap Utara, sebuah perkamen hitam baru saja digulung. Letnan Zeno meneteskan lilin merah di atasnya, lalu menekan stempel tanpa lambang. Mata hitam pemuda itu menatap dingin ke luar jendela, memperhatikan badai salju yang mulai menebal di langit Ocean. "Burung gagak pembawa pesan sudah disiapkan, Jenderal," lapor Zeno pelan, menyerahkan gulungan itu kepada Jenderal Vaelia yang duduk di kursi kebesarannya. Vaelia menerima perkamen itu dengan senyum yang sangat kejam. "Bagus. Black Hound tidak pernah gagal mencium bau darah," gumam sang Panglima Bayangan. Vaelia menyandarkan punggungnya, memutar gelas anggur di tangannya. Kekalahannya di ruang sidang kemarin masih membakar harga dirinya, tapi ia tahu cara memutarbalikkan keadaan. Nikmatilah panggung sandiwaramu minggu ini, Manusia, batin Vaelia penuh kebencian. Kaelan mungkin melindungimu di dalam dinding es ini, tapi Kaelan tidak akan bisa menyelamatkanmu saat lehermu digorok di tengah
Read more