"Maksud Anda?!" Pekikan tertahan Roselina membuat Jenderal Zepriyn membuang muka, sementara Ishaq mendadak sibuk memperhatikan serat kayu di lantai kapal, pura-pura tidak mendengar apa-apa. Kaelan, sebaliknya, tampak sangat menikmati reaksi panik penasihatnya. Sang Tiran Lautan menyandarkan pinggulnya ke tepi meja dengan santai, melipat kedua lengan besarnya di depan dada. "Jangan menatapku seolah aku baru saja menyuruhmu melompat ke Palung Hitam, De Solis," ucap Kaelan dengan nada datar yang dibuat-buat. "Pikirkan logikanya. Jika kau masuk ke desa terpencil itu sebagai wanita lajang yang dikawal oleh tiga pria berwajah pembunuh, kau akan langsung dicurigai sebagai buronan atau rentenir." "Lalu kenapa harus suami istri?!" protes Roselina, wajahnya mulai memanas. "Kita bisa menyamar sebagai saudara! Atau majikan dan pengawal!" "Tidak ada majikan yang tidur di kabin kelas bawah kapal dagang bersama pengawalnya, Nyonya," sela Zepriyn dingin, jarinya menunjuk ke arah peta perb
Read more