“Apa? Itu nggak mungkin, Din!” Nayla menggeleng cepat."Aku mohon, Nay. Cuma kamu yang bisa aku mintain tolong saat ini,” rengek Dini sambil terus menangis di kaki Nayla."Astaga, Dini!” Nayla benar-benar kehilangan kata-kata. Ia sampai memijat pelipisnya sendiri karena terasa berdenyut.“Aku serius, Nay. Tolong aku,” pinta Dini lagi.“Tapi dia sudah menikah. Bagaimana mungkin kamu ingin dia kembali, Din?”“Tapi dia ayah dari anakku, Nay! Bagaimana nasib anakku nanti kalau lahir tanpa ayah, dan bagaimana nasib aku kalau punya anak tanpa ada suami? Tolong, Nayla, tolong!” mohon Dini dengan sangat memelas.Ia bahkan sudah tak peduli mau dicap seperti apa oleh Nayla. Yang jelas, saat ini ia sangat membutuhkan bantuan Nayla.“Aku nggak bisa ikut campur, Din." “Nayla, tolong.”“Aku nggak bisa janji apa-apa.”"Cuma kamu yang bisa nolongin aku, Nay.” Dini masih ingin memohon lagi.Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah dalam florist, menuju ke depan menghampiri mereka berdua
Read more