Air mata masih membasahi pipi Marina. Tangannya yang gemetar perlahan terulur ke arah Nayla, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat."Nayla," suaranya bergetar lirih, dipenuhi harapan yang selama puluhan tahun terkubur. "Boleh ... boleh Mama memelukmu?"Di sampingnya, Wiratmadja ikut melangkah mendekat. Mata pria paruh baya itu memerah, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nayla."Nak," gumamnya serak seraya memandang lekat pada Nayla. "Kalau semua ini benar, kalau kamu memang adalah Naura, maka kembalilah pada papa dan mama. Selama ini papa memang belum yakin kalau Naura sudah meninggal. Karena itu selama bertahun-tahun, papa terus saja mencari kamu," lanjut pria paruh baya itu.Ia memohon di hadapan Nayla kini, seolah sudah tak peduli dengan nama besarnya yang selama ini sangat disegani oleh banyak tokoh penting.Namun melihat itu, Nayla justru mundur selangkah. Kepalanya terus menggeleng, sementara air mata mengalir tanpa henti."Tidak, jang
Baca selengkapnya