“Mulai sekarang, tolong lupakan Naura, ya.”“Apa?" Marina dan Wiratmadja sama-sama membelalak. Senyum yang sebelumnya menghiasi wajah mereka pun perlahan menghilang.“Apa maksudmu, Nak?” tanya Wiratmadja dengan suara bergetar.Nayla menarik napas panjang. Air matanya masih membasahi pipi, tetapi tatapannya mulai menunjukkan keteguhan.“Naura sudah nggak ada, Pa," jawabnya pelan.Jawaban itu membuat Marina menggeleng cepat. Ia menangkup wajah cantik Nayla, memaksa gadis itu untuk menatap matanya.“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kamu ada di sini. Kamu adalah Naura putri kami.”“Tidak, Ma.” Nayla mengusap air matanya. “Naura memang nama yang Mama dan Papa berikan kepadaku saat lahir. Tapi selama hampir seluruh hidupku, aku hidup sebagai Nayla.”Marina terdiam. Ia dan suaminya saling berpandangan.“selama ini aku dibesarkan oleh Mama Ina dan Papa Raharja. Mereka yang merawatku, mengajariku berjalan, menemaniku ketika sakit, dan memelukku ketika aku takut. Kini aku tahu bahwa mereka b
Read more