Pagi berikutnya di rumah keluarga Wiratmadja terasa jauh lebih lengang daripada sebelumnya. Karangan bunga mulai satu per satu dipindahkan, kursi-kursi tamu dibereskan, dan suara lantunan doa yang semalam memenuhi rumah kini berganti keheningan yang menusuk.Namun keheningan itu justru terasa lebih menyakitkan. Marina berdiri cukup lama di depan foto Arunika yang kini dihiasi karangan bunga melati putih. Jemarinya mengusap bingkai foto itu perlahan."Rumah ini jadi sepi sekali tanpa kamu, Sayang," bisiknya pelan.Tak jauh dari sana, Nayla hanya mampu memandang. Hari ini ia bersama Naufal memang sengaja datang ke rumah Wiratmadja, karena Marina masih ingin ditemani oleh Nayla.Sejak pemakaman kemarin, hati Nayla pun masih terasa kosong. Entah mengapa, setiap melihat foto Arunika, dadanya kembali dipenuhi sesak yang sulit dijelaskan."Nayla." Suara Wiratmadja membuyarkan lamunannya, membuat wanita itu menoleh cepat."Iya, Pak?""Ada yang ingin Papa tunjukkan."Nayla masih belum terbiasa
Read more