PerpisahanPerintah itu menusuk udara malam yang riuh, membelah tawa dan musik jaipong. Tubuh Lestari bergerak sebelum otaknya sempat berpikir.Satu detik yang lalu ia berada di puncak dunia, di detik berikutnya ia terlempar ke dasar jurang yang paling gelap. Tangan Tora yang tadi hangat kini terasa seperti baja, mendorongnya menjauh dari bahaya, menjauh dari Dirga.“Bawa mereka masuk, jangan keluar apa pun yang terjadi!” Tora mengulang, matanya tidak lagi menatap Lestari, tetapi terpaku pada kegelapan di batas perkebunan. Beberapa penjaga keamanan yang berjaga di sudut pesta langsung berlari ke arahnya, mengikuti arah tatapannya.Lestari tersandung, lalu berlari. Ia menerobos kerumunan orang yang masih menari, tidak menyadari ketegangan yang baru saja meledak. Ia menemukan Dian dan Lintang di dekat panggung, mencomot kue mangkuk dengan wajah belepotan cokelat.“Ayo, Sayang, kita ke paviliun,” katanya, suaranya bergetar. Ia menarik tangan kedua anak itu.“Tapi kuenya belum habis, Bu,”
Baca selengkapnya