Setelah Lampu PadamBab 53Sore itu, di teras belakang yang menghadap langsung ke hamparan hijau kebun kopi, keluarga kecil itu duduk bersama. Tora baru saja selesai memeriksa beberapa laporan, Lestari meletakkan cangkir teh hangat di meja, sementara Lintang dan Dian sedang asyik menggambar di buku sketsa mereka.“Lihat, Bu,” kata Lintang tiba-tiba, jarinya menunjuk ke arah undakan batu di tepi teras. “Bunganya mekar lagi.”Semua mata mengikuti arah telunjuknya. Di sana, di antara celah sempit dua bongkah batu yang keras, setangkai bunga liar berwarna ungu cerah tumbuh dengan angkuh. Daunnya hijau menyejuk-kan, kelopaknya terbuka menyambut hangatnya sinar matahari.“bagus ya...!” seru Dian. “Tapi kok bisa? Di situ, kan, tidak ada tanahnya. Batunya keras begitu.”Lestari tersenyum, senyum yang kini selalu menghiasi wajahnya. Ia menarik kedua putrinya untuk duduk lebih dekat. “Justru karena ada retakannya, sayang,” jawabnya lembut. “Karena batunya pernah pecah, pernah terluka, makanya
Baca selengkapnya