Aroma BahayaJari-jarinya hanya berjarak seinci dari kulitnya, hangatnya terasa bahkan sebelum menyentuh, sebuah janji kelembutan yang membuat Lestari menahan napas.Ia mundur selangkah, refleks, seperti menyentuh api. Sentuhan itu adalah teritori berbahaya, sebuah kemewahan yang tidak lagi ia kenal.“Pak, jangan,” bisiknya, suaranya pecah.Tora menarik tangannya kembali, tidak terlihat tersinggung, hanya matanya yang tajam menelisik wajah Lestari. “Kenapa? Kamu takut?”“Saya… saya tidak pantas.” Kata-kata itu keluar begitu saja, pengakuan paling jujur dari dasar jiwanya yang lecet. “Saya hanya… pengasuh.”“Omong kosong,” sahut Tora, nadanya rendah tapi tegas. “Kamu dengar apa yang kukatakan tadi? Kamu membawa kehangatan kembali ke rumah ini. Kehangatan itu tidak punya label harga, Lestari. Tidak punya status.”“Tapi dunia tidak melihatnya seperti itu, Pak.”“Persetan dengan dunia,” desis Tora, ada kilat frustrasi di matanya. “Sejak kapan aku peduli dengan apa kata dunia? Yang aku ped
Read more