Surat dari penjaraTangannya yang memegang amplop itu tidak gemetar karena takut, melainkan karena getaran aneh yang menjalar dari masa lalu. Di hadapannya, Tora, Ratih, dan Arini membeku, seolah nama yang tertulis di sudut amplop itu adalah mantra yang menghentikan waktu di ruang keluarga yang megah ini.“Jangan dibaca,” kata Tora cepat, suaranya rendah dan tajam. Ia melangkah maju, tangannya terulur untuk mengambil surat itu. “Bakar saja. Apapun isinya, itu racun.”Lestari tidak melepaskan genggamannya. Ia menggeleng pelan, matanya tidak lepas dari tulisan tangan yang jelek itu. “Tidak, Mas. Aku harus baca.”“Untuk apa, Tari?” desak Tora, nadanya sarat akan frustrasi dan kekhawatiran. “Tidak ada hal baik yang bisa datang darinya.”“Justru karena itu,” jawab Lestari, akhirnya mengangkat wajahnya dan menatap Tora. Sorot matanya bukan lagi sorot wanita yang ketakutan. Ada ketenangan yang dingin di sana, ketenangan yang lahir dari badai yang telah ia lewati.“Aku harus tahu. Aku harus h
Baca selengkapnya