登入Sally berdiri kaku. Suara parau di luar gerbang tadi bagaikan silet yang merobek keheningan butik yang steril. Ia tidak bisa lagi berpura-pura menjadi patung porselen.Andrew baru saja hendak memanggil pelayan untuk membawakan tiara, namun Sally bergerak lebih cepat. Ia tidak peduli pada ekor gaunnya yang panjang dan menyapu lantai marmer.Dengan gerakan yang tiba-tiba, ia berbalik arah, menjauh dari cermin dan menuju jendela besar yang menghadap ke jalanan."Tunggu, Bang. Aku... aku merasa sesak. Aku butuh udara sebentar." Sally suaranya bergetar, tapi tegas."Sally, AC di sini sudah diatur dengan suhu terbaik. Jangan bertingkah. Kembali ke podium." Andrew langkah kakinya terdengar berat mendekat.Sally tidak berhenti. Tangannya menyentuh gagang pintu kaca yang berat. Ia melihat ke arah gerbang.Di sana, ia melihat keributan kecil: Vino yang ditarik paksa oleh dua satpam, dan sebuah kertas putih—surat itu—terjatuh di atas aspal, terinjak oleh sepatu bot penjaga."Berhenti! Jangan kas
Vino mengetuk kaca jendela mobil Andrew. Tok! Tok! Suaranya lemah, kalah oleh deru angin, namun getarannya sampai ke jantung Sally."Sally! Sekali saja... bicara!" Vino gerak bibirnya terbaca dari balik kaca.Sally memalingkan wajah. Ia tak sanggup melihat tangan Vino yang gemetar memegang kemudi motor sambil terus menatapnya."Abang, tolong... lebih cepat." Sally berbisik, suaranya tercekat.Andrew tersenyum tipis—sebuah senyum kemenangan yang dingin. Ia menginjak pedal gas lebih dalam. Mobil mewah itu melesat, meninggalkan motor tua Vino yang mulai kehilangan tenaga di tanjakan jembatan layang.Sosok Vino mengecil di spion, tertutup oleh kepulan asap hitam truk-truk besar.Mobil berhenti dengan halus di depan sebuah butik megah berpilar putih. Tempat itu terlihat seperti kuil, namun bagi Sally, itu adalah rumah duka bagi impiannya. Pelayan butik sudah berdiri rapi menyambut mereka.Andrew turun, lalu membukakan pintu untuk Sally dengan gerakan yang sangat sopan, namun posesif.Saat
Di atas meja makan, uap kopi Mama mengepul tipis, menari-nari di antara piring porselen yang berkilau. Cahaya pagi yang masuk lewat celah gorden tampak seperti jeruji emas yang membelah ruangan.Sally masih berdiri, tangannya memegang sandaran kursi kayu hingga sendi-sendi jarinya memutih. Ia menatap ibunya—wanita yang tampak seperti patung marmer; indah, kokoh, namun tak bergeming.“Apakah Mama pernah sekali saja... melihat ke dalam mataku? Bukan melihat masa depan yang Mama susun, tapi melihat aku?" Sally suaranya parau, memecah kesunyian yang tajam.Mama tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkirnya dengan perlahan. Denting porselen itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harapan Sally.Mama menatap lurus ke arah liontin di lehernya, bukan ke arah Sally"Aku melihatmu setiap kali aku menutup mata, Sally. Aku melihatmu kelaparan. Aku melihatmu kedinginan. Itu sudah cukup untuk membuatku berhenti peduli pada air matamu hari ini."Mama berdiri. Kursinya berderit pelan di atas
Dua nyawa. Hanya itu yang tersisa darinya. "Besarkan mereka dengan layak, jangan biarkan mereka memohon pada dunia," bisik suaminya malam itu. Janji itu bukan sekadar kalimat, itu adalah bebannya yang paling berat sekaligus kompas hidupnya.Dia sudah bersumpah pada Papa Rian dan Sally, dan dia tidak akan membiarkan kemiskinan atau kesulitan menyentuh ujung jari mereka sedikit pun.Mama meraba liontin kecil di lehernya, sebuah perhiasan tua yang menyimpan foto kecil mendiang suaminya.Ia tahu Sally memandangnya sebagai tiran. Ia tahu Rian mungkin merasa tertekan oleh ekspektasi besar yang ia pikul.Namun, setiap kali Mama melihat kemapanan Andrew, ia melihat sebuah perisai. Baginya, Andrew bukan sekadar tunangan untuk Sally, melainkan janji yang terpenuhi bahwa Sally akan memiliki pundak yang kokoh untuk bersandar—sesuatu yang hilang dari hidup Mama terlalu cepat."Papa akan bangga melihat kalian sekarang," bisik Mama hampir tak terdengar, suaranya serak oleh kerinduan yang ia kubur da
Sally masih terpaku di kursinya, sementara Mama perlahan bangkit, berjalan mengitari meja hingga berdiri tepat di belakang Sally.Mama meletakkan tangannya di bahu Sally. Sentuhan itu tidak hangat; itu adalah sebuah klaim kepemilikan."Penasihat itu bilang kalian harus saling terbuka, bukan?" Mama berbisik tepat di telinga Sally, napasnya berbau mint dan dingin.Tapi keterbukaan tanpa kendali hanyalah cara lain untuk menghancurkan masa depanmu sendiri, Sayang."Sally memejamkan mata. Di luar, hujan yang mencuci aspal terdengar semakin menderu, seolah memanggilnya untuk lari dan hilang di dalam kegelapan yang basah, jauh dari kotak porselen yang kini terasa mulai retak.Mama perlahan melepaskan tangannya, lalu berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Ia menatap lampu belakang mobil Andrew yang perlahan memudar di balik tirai hujan."Andrew pria yang baik," ucap Mama tanpa menoleh. "Dia punya kesabaran yang luas, Sally. Tapi jangan lupa, kesabaran pria juga punya b
"Aku akan makan, Ma," jawab Sally sambil mengangkat garpunya dengan tangan yang masih terasa dingin. "Tapi jangan salahkan aku jika setiap suapannya terasa seperti menelan kerikil."Sally menusuk sepotong daging wagyu di piringnya. Teksturnya lembut, namun di matanya, serat daging itu tampak seperti jalinan nasib yang dipaksakan.Sally memotong daging dengan gerakan yang terlalu presisi, menciptakan decit pelan ujung pisau pada piring.“Mahal, katanya. Mama mengukur kebahagiaan dengan harga per gram, seolah-olah emas bisa menyumbat lubang di dadaku. Dia ingin aku menelan kemewahan ini sampai aku tersedak dan lupa cara mengeja kata 'kebebasan'.” Batin Sally bergumam."Daging ini sempurna, Ma," ucap Sally lirih. Suaranya datar, nyaris seperti gumaman di dalam katedral kosong.Sally menyuapkan potongan kecil itu ke mulutnya. Ia tidak mengunyah dengan segera, membiarkan rasa gurih itu menjadi hambar di lidahnya."Tapi benarkah rasa bisa dibeli?" Sally menatap lurus ke arah lampu kristal y
Keheningan panjang menyelimuti ruangan. Rian menunduk, menatap lantai marmer yang seolah memantulkan bayangan masa lalu mereka. Ia menarik napas dalam_panjang, seolah sedang membuang seluruh beban ekspektasi yang selama ini ia pikul sendiri. Saat ia mendongak kembali, sorot matanya yang tajam perl
“Vin, aku baru saja melihat kalian di taman. Kamu tahu seberapa besar aku menghargaimu sebagai sahabat sally, tapi aku tidak bisa diam saja melihat apa yang terjadi tadi. Tolong ingat status Sally sekarang. Kita semua sedang berusaha menjaga agar keluarga ini tidak berantakan setelah kejadian ga
Mama sudah tidur, Vin. Terima kasih sudah perhatian pada Mama. Maaf ya Vin, aku baru balas pesan mu! Aku takut Mama tahu, karena jantung Mama belum stabil.” Isi Sally untuk Vino. “Aku mengerti, Sal. Maaf kalau keberadaanku malah jadi beban buatmu. Tapi aku tidak bisa tenang kalau belum tahu keada
Begitu pintu rumah terbuka, aroma masakan rumah yang hangat langsung menyambut mereka. Di meja makan, Andrew berdiri dengan senyum lebar, mengenakan kemeja yang rapi seolah tidak baru saja melewati hari yang melelahkan di kantor. Ia baru saja meletakkan mangkuk sup hangat terakhir di meja. “Se







