Kubah kaca Observatorium Langit bergetar pelan, bukan oleh angin, melainkan oleh resonansi magis dari hujan meteor yang meluncur turun dari angkasa.Di luar sana, ribuan garis cahaya putih menyapu kegelapan, menciptakan pemandangan yang seolah-olah semesta sedang merayakan keberadaan mereka berdua di puncak tertinggi Aethelgard.Udara di dalam observatorium terasa tipis namun sangat tajam, dipenuhi dengan sisa-sisa energi sihir yang ditinggalkan oleh ramuan para sesepuh kemarin.Malphas berdiri di tengah ruangan, memandang keluar dengan tangan terlipat di belakang punggung. Saat Elara masuk, dia tidak menoleh, namun sayap peraknya sedikit bergetar, sebuah sinyal bahwa dia sudah merasakan kehadiran wanitanya.“Mereka sudah mulai jatuh, Elara. Seolah-olah langit sendiri sedang meruntuhkan keindahan hanya untuk menghibur kita sebelum kau turun kembali ke daratan,” suara Malphas terdengar rendah, nyaris seperti bisikan angin malam.Elara mendekat, berdiri tepat di belakang Malphas dan men
Read more