Teilen

Permintaan sang Raja Beruang

last update Veröffentlichungsdatum: 23.05.2026 23:21:52

Langkah kaki kelima raja Wilderheim bergema serempak di lantai marmer Aula Utama yang kini terasa dingin. Udara hangat belantara fajar telah berganti dengan embun beku yang merayap dari arah pintu gerbang.

Di tengah ruangan, berdiri sesosok pria bertubuh raksasa dengan jubah bulu putih tebal setebal salju abadi. Bahunya yang lebar dan auranya yang sekeras es menandakan kekuasaan mutlak.

“Lama tidak bersua, para penguasa belantara,” suara pria itu berat dan bergemuruh, memecah kesunyian aula.

Lu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Takdir yang Jelas

    Dua minggu telah berlalu bagai merangkak lambat di atas lantai kastil Wilderheim sejak kepulangan rombongan utara. Di dalam kamar mandinya yang luas, Elara berdiri mematung di depan cermin perak kuno, jemarinya meraba permukaan perutnya yang masih rata dan halus.Tidak ada denyut magis yang berlebih, tidak ada pendaran aura elemental dari klan belantara, dan tidak ada tanda-tanda kehamilan baru yang datang dari benih kelima rajanya yang menggempur rahimnya malam itu.Elara menghela napas panjang, membiarkan kain sutra membungkus tubuhnya sebelum berjalan ke arah jendela. "Siklus bulanku datang tepat waktu kemarin... Rahimku sepenuhnya kosong."Ia menatap langit utara yang selalu diselimuti gumpalan awan mendung kelabu di kejauhan, lalu bergumam pada kesunyian kamar."Apakah kegagalan pembuahan ini adalah pertanda mutlak dari alam semesta? Sebuah konfirmasi bahwa jalanku memang harus tertuju ke wilayah Raja Beruang untuk memberi klan es itu keturunan dan napas kehidupan yang baru?"Mem

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Keputusan Elara

    Di bawah siraman cahaya rembulan yang keperakan, Elara berdiri seorang diri mematung di dekat balkon takhta. Matanya menatap lurus ke arah langit malam yang bertabur bintang, namun pikirannya mengembara jauh melintasi dataran es utara yang dingin.Kenangan akan pusaran perak yang tiba-tiba muncul dan padam beberapa hari lalu kembali melintas di benaknya, memicu pusaran pertanyaan baru di dalam hatinya."Apakah kilatan cahaya misterius itu sebenarnya adalah sisa energi dari utara?" bisik Elara pada dirinya sendiri, jemarinya meremas pembatas batu balkon dengan bimbang."Jika ritual es milik Raja Bjorn yang pertama kali membelah ruang dimensi, bukankah itu artinya aku datang ke planet ini atas undangan tulus dari klannya? Meditasi dan keputusasaan mereka yang telah menarik jiwaku dari ambang kematian di bumi."Elara memejamkan mata, merasakan denyut hangat mawar emas di dalam dadanya. "Jika aku egois dan menutup mata atas kepunahan klan beruang, bukankah aku akan menjadi orang paling ja

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Menunggu Kepastian Terlebih Dahulu

    “Aku tidak bermaksud menolakmu sepenuhnya, Raja Bjorn,” Elara menyela cepat, menghentikan kepasrahan yang sempat membayang di wajah raksasa sang beruang kutub. Ia menoleh ke arah kelima suaminya yang masih berdiri terpaku, lalu mengembuskan napas kasar yang sarat akan beban pikiran.“Saat ini, aku membutuhkan waktu untuk mencerna semua kebenaran ini,” lanjut Elara, suaranya terdengar lelah namun tetap tegas.“Keputusan sebesar ini tidak bisa kuambil dalam hitungan detik di tengah ketegangan zirah dan hunusan pedang. Jadi, jika aku sudah memikirkan jalan keluar yang paling adil, aku bersumpah akan langsung mengirimkan kabar kepadamu di utara.”Bjorn mendongak, menatap sepasang mata Elara yang memancarkan ketulusan murni. “Berapa lama aku harus menanti, Ratu?”“Kembalilah ke wilayahmu terlebih dahulu bersama pasukanmu, Bjorn,” pinta Elara dengan kelembutan yang menenangkan.“Biarkan suasana di kastil ini mendingin. Jaga rakyatmu di sana, dan tunggulah kabar baik dariku. Aku tidak akan m

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Yang Memanggil Elara Sebenarnya

    Aula Utama seketika dilingkupi oleh keheningan yang begitu pekat saat kalung batu kuarsa di leher Bjorn memancarkan pendaran cahaya yang selaras dengan memori Elara.Raja Beruang itu menatap batuan kuno miliknya, lalu mendongak menatap Elara dengan binar mata yang seolah baru saja menemukan kepingan teka-teki yang hilang selama ribuan tahun.“Jadi... relief itu benar-benar ada di duniamu,” bisik Bjorn, suaranya bergetar hebat penuh kepasrahan yang mendalam.Ia melangkah maju satu depak, mengabaikan hunusan pedang Lucian yang kembali mengarah ke dadanya. “Dengar, Ratu Elara. Akulah yang melakukan ritual kuno itu. Akulah yang memanggil arwah betina dari sela dimensi untuk datang dan menyelamatkan wilayahku!”Pernyataan itu bak petir di siang bolong bagi kelima raja belantara. Lucian, Vrax, Kaelen, Zhen, dan Malphas langsung terdiam serempak dengan rahang mengeras.“Kau bicara apa, Beruang?!” bentak Vrax, memecah kesunyian dengan geraman harimaunya yang bergaung rendah. “Kami yang menump

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Wajah yang Tak Asing

    Pintu ganda kamar megah itu terbuka perlahan, memecah kesunyian di dalam ruangan tempat Elara mendekap kelima anaknya.Langkah kaki Lucian, Zhen, dan Malphas terasa begitu berat saat mereka berjalan menghampiri ranjang. Elara langsung menegakkan punggung, menatap raut wajah ketiga suaminya yang tampak dilingkupi mendung kecemasan.“Bagaimana pertemuannya? Siapa yang datang?” tanya Elara beruntun, matanya bergerak panik.Lucian duduk di tepi ranjang, menggenggam jemari Elara dengan sangat erat. “Dia adalah Raja Bjorn dari klan beruang kutub utara. Elara... dia datang kemari karena tahu keberadaanmu, dan dia mengajukan sebuah penawaran yang gila.”Zhen menghela napas panjang, melanjutkan kalimat Lucian dengan nada selembut mungkin.“Wilayah utara sedang sekarat karena membeku, dan kaum betina di sana juga sudah punah. Bjorn datang untuk bernegosiasi... dia ingin meminjammu selama beberapa musim agar kau bisa melahirkan keturunan betina untuk klannya, sebagai imbalan kesuburan tanah mere

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Permintaan sang Raja Beruang

    Langkah kaki kelima raja Wilderheim bergema serempak di lantai marmer Aula Utama yang kini terasa dingin. Udara hangat belantara fajar telah berganti dengan embun beku yang merayap dari arah pintu gerbang.Di tengah ruangan, berdiri sesosok pria bertubuh raksasa dengan jubah bulu putih tebal setebal salju abadi. Bahunya yang lebar dan auranya yang sekeras es menandakan kekuasaan mutlak.“Lama tidak bersua, para penguasa belantara,” suara pria itu berat dan bergemuruh, memecah kesunyian aula.Lucian maju satu langkah, tatapan matanya setajam mata pisau. “Cukup basabasisnya, Raja Bjorn. Apa yang kau inginkan sampai datang kemari tanpa pemberitahuan dan membawa sepasukan klan es menembus batas wilayah kami?”Raja Beruang Kutub itu, Bjorn, mengulas senyum tipis yang sarat akan provokasi. Ia mengelus janggutnya yang memutih karena embun beku.“Aku datang karena mencium aroma kehidupan yang sangat manis dari arah utara. Aku tahu ada seorang wanita asing di istana ini. Bahkan, kalian berlima

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Nilai Akhir

    Cahaya matahari pagi menyusup masuk melalui pintu yang hancur, menyinari pemandangan dekadensi di dalam kamar megah itu. Elara terbangun di tengah tumpukan tubuh kekar yang masih terlelap karena kelelahan.Dia menarik sehelai jubah sutra hitam milik Zhen yang tergeletak di lantai, melilitkannya ke

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Semuanya jadi yang Terbaik

    Suasana di lorong privat istana mendadak mencekam. Lucian, Malphas, Kaelath, dan Zhen berdiri di depan pintu kayu ek raksasa milik Vrax yang terkunci rapat.Indra pendengaran mereka yang tajam menangkap suara desahan Elara yang pecah dan erangan berat sang Harimau dari balik dinding.Amarah dan kec

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Sikap Dominan Vrax

    Vrax tidak lagi berjalan; dia menyeret Elara dengan satu tangan besar yang mengunci pergelangan tangannya, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Elara dengan kekuatan yang hampir mematahkan tulang.“Vrax, pelan sedikit! Kau menyakitiku!” seru Elara, kakinya tersandung-sandur mencoba mengimban

  • Tawanan Hasrat Lima Manusia Binatang   Tidak Pernah Puas

    Langit Wilderheim telah berubah menjadi ungu pekat saat matahari terbenam sepenuhnya di balik cakrawala granit. Di aula tengah istana yang luas, Elara duduk di atas kursi kebesaran yang dilapisi kulit harimau salju.Dia mengenakan gaun sutra hitam yang membalut tubuhnya dengan sangat ketat, memperl

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status