Cahaya fajar di ketinggian ini tidak datang dari ufuk, melainkan muncul sebagai pendaran mutiara yang merambat melalui gumpalan uap di bawah kaki mereka.Malphas menuntun Elara keluar dari koridor kristal, melangkah langsung menuju hamparan awan yang membentang luas tanpa batas.Saat kaki telanjang Elara menyentuh permukaan awan itu, ia terpekik pelan; rasanya tidak cair, melainkan kenyal dan dingin, seperti memijak tumpukan kapas yang dipadatkan oleh sihir kuno.“Berdiri tegak, Elara. Jangan membungkuk seolah kau sedang merangkak di tanah seperti klan Ular,” tegur Malphas, suaranya setajam silet yang membelah keheningan pagi.“Ini sulit, Malphas! Permukaannya terus bergerak, aku merasa seperti akan tenggelam setiap kali melangkah,” protes Elara, kedua tangannya terentang lebar berusaha mencari keseimbangan di atas padang uap yang labil itu.Malphas berjalan mendekat dengan langkah yang sangat stabil, seolah ia sedang menginjak lantai batu yang kokoh. Ia berdiri di depan Elara, matany
Read more