Ruang rapat lantai 40 Mahardika Corporation biasanya adalah tempat paling steril di seluruh gedung — kaca bening, meja mahoni panjang berkilau, dan udara yang selalu terasa terlalu dingin karena pendingin ruangan yang diatur sengaja rendah agar semua orang tetap waspada. Malam itu, ruangan itu berubah menjadi medan perang. Alya berdiri di sudut ruangan, punggungnya menempel pada dinding kaca, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa mendengar denyutnya sendiri di telinga. Di depannya, enam anggota dewan direksi duduk kaku, wajah mereka pucat, beberapa di antaranya bahkan tidak berani mengangkat pandangan dari meja. Dan di ujung meja, berdiri dengan jas hitamnya yang sedikit berantakan, dasi terlepas, kancing atas kemeja terbuka, dan darah yang mengering di sudut bibirnya, adalah Arsen. "Aku akan bertanya sekali lagi," suara Arsen rendah, nyaris berbisik, namun setiap kata terasa seperti pisau yang diasah pelan-pelan. "Siapa yang membocorkan lokasi brankas data ke Selena
Read more