Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya. Di luar ruangan, suara para tamu undangan terdengar samar. Musik lembut terdengar mengalun, semua tampak seperti pesta bahagia. Padahal yang sedang terjadi bukanlah pernikahan yang indah, melainkan hanya sebuah transaksi. Pintu ruang rias terbuka perlahan, Ratna Prasetyo masuk dengan mata sembab, yang berusaha ia sembunyikan. "Alya," ucapnya dengan suara yang bergetar. Alya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip dengan sebuah luka. "Ibu tidak perlu merasa bersalah." Ratna langsung menggenggam tangan putrinya erat, "Ayahmu tidak punya pilihan, mereka telah membuka kembali kasus lama itu. Jika kita tidak menerima lamaran ini..." "Ayah akan kembali di penjara," Alya melanjutkan kalima
Huling Na-update : 2026-03-08 Magbasa pa