مشاركة

Satu Langkah di Depan

مؤلف: Mentari Senja
last update تاريخ النشر: 2026-07-10 09:00:39

Malam itu, Arsen, Alya, dan Dante berkumpul di ruang kerja pribadi di lantai atas Mahardika Mansion.

Di atas meja terbentur berkas-berkas baru yang berhasil dikumpulkan tim penyelidik Arsen, bukti percakapan, perjanjian rahasia, dan rekaman transaksi yang menghubungkan Selena dengan kelompok usaha saingan yang baru saja mencoba mengacaukan rapat.

"Dia merencanakan ini sejak lama," ucap Dante sambil menunjuk lembar perjanjian kerja sama tertanggal dua bulan lalu. "Dia berja
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ancaman Terakhir

    Pesan itu datang tiga hari kemudian, dikirim langsung ke ponsel pribadi Alya, nomor yang seharusnya hanya diketahui oleh Arsen, Dante, dan segelintir orang kepercayaan di mansion. Kamu cantik sekali di foto itu, Nyonya Mahardika. Sayang sekali kalau harus rusak. Terlampir satu foto: Alya sedang berjalan keluar dari butik dekat Senayan, tiga hari lalu, saat ia diam-diam meminta izin keluar sebentar tanpa pengawalan penuh. Tangannya gemetar memegang ponsel. Ia langsung berlari ke ruang kerja Arsen, hampir menabrak salah satu penjaga di lorong. "Arsen!" Pria itu mendongak dari layar laptopnya, ekspresi berubah waspada begitu melihat wajah Alya yang pucat. "Ada apa?" Alya menyodorkan ponselnya tanpa berkata apa-apa. Arsen membaca pesan itu, rahangnya mengeras seketika, matanya menggelap seperti badai yang siap meledak. "Kapan ini masuk?" "Baru saja." Arsen langsung menekan interkom, memanggil Dante

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Tidak Akan Lari

    Berita itu menyebar lebih cepat dari yang siapa pun kira. Layar televisi di ruang keluarga Mahardika Mansion menyala sejak pagi, menampilkan wajah Arsen dalam sorotan kamera wartawan yang berdesakan di depan gedung Mahardika Corporation. Judul berita berganti-ganti, tapi intinya sama: rahasia yang selama ini dikubur rapat, kini terbongkar ke publik. Alya berdiri di ambang pintu, menatap layar itu dengan dada sesak. Ia sudah tahu ini akan terjadi. Arsen sendiri yang bilang, malam sebelum semuanya meledak, bahwa ia akan membiarkan dunia tahu siapa dirinya sebenarnya, bukan lagi bersembunyi di balik topeng pengusaha sukses. "Kamu nggak perlu nonton itu," suara Dante terdengar dari belakangnya. Pria itu baru datang, jasnya masih basah oleh gerimis pagi. "Bakal bikin kepala pusing doang." "Aku cuma mau tahu seberapa buruk," jawab Alya pelan. "Buruk," Dante tidak berbasa-basi. "Tapi Bos udah siapin ini dari lama. Dia bukan tipe yang main t

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aku Akan Melindungimu!

    Perjalanan ke Bandung terasa seperti mimpi buruk yang bergerak terlalu lambat. Mobil hitam Arsen melaju kencang di tol yang nyaris kosong tengah malam, dikawal dua kendaraan Dante di depan dan belakang. Alya duduk di kursi penumpang, tangannya mencengkeram ponsel, mencoba menghubungi ibunya untuk kesekian kali. Tidak ada jawaban. "Kenapa nggak diangkat," gumamnya, suara panik mulai merayap masuk meski ia berusaha menahannya. "Bisa jadi sinyal terputus," kata Arsen, tapi nada suaranya tidak cukup meyakinkan bahkan untuk dirinya sendiri. Tangannya di setir mengencang, buku-buku jarinya memutih. "Atau bisa jadi..." "Jangan," potong Arsen tegas, sekilas menoleh padanya. "Jangan pikirkan yang terburuk sebelum kita sampai di sana." Alya menahan napas, menelan ketakutan yang mengancam meledak jadi air mata. Ia menatap keluar jendela, kegelapan jalan tol yang berkelebat cepat, dan mencoba mengingat kembali kata-kata Arsen semalam.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Malam Pengakuan

    Ruang rapat Mahardika Corporation masih berbau darah dan tinta printer. Alya berdiri di ambang pintu, memandangi kekacauan yang tersisa dari pertemuan dewan direksi tadi siang, kertas berserakan, satu kursi terguling, dan noda merah kering di sudut meja kaca yang belum sempat dibersihkan. Ia tahu persis apa yang terjadi di sana. Satu orang kepercayaan Selena tewas sebelum sempat membuka mulut. "Kamu seharusnya istirahat," suara Arsen datang dari belakang, berat dan pelan, seperti biasa saat ia lelah tapi menolak mengakuinya. Alya berbalik. Arsen berdiri dengan jas yang sudah dilepas, kemeja putihnya kusut, dan ada bercak darah kering di pergelangan tangan kanan yang belum sempat ia cuci. Bukan darahnya sendiri. "Aku nggak bisa tidur selama ada mayat di ruang rapat kantor kita, Arsen." "Sudah dibereskan." Ia melangkah mendekat, matanya menelusuri wajah Alya seolah mencari retakan yang bisa ia perbaiki. "Yang belum dibereskan adalah kepalamu. Kamu mikirin sesuatu." Alya tidak menj

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Kejatuhan Sang Pengkhianat

    Pagi itu, gedung Mahardika Corporation dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ruang rapat utama di lantai 50, biasanya digunakan untuk acara-acara besar, telah disiapkan untuk rapat pemegang saham darurat yang akan menentukan nasib perusahaan, dan mungkin juga nyawa orang-orang di dalamnya. Alya berdiri di samping Arsen di ruang tunggu sebelum rapat dimulai, mengenakan setelan formal yang dipilihkan khusus untuk hari ini, sesuatu yang memancarkan kekuatan dan ketenangan meski hatinya berdebar kencang. "Kau siap?" Arsen bertanya, tangannya menggenggam tangan Alya erat. "Selama kau di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," Alya menjawab dengan tekad yang membara di matanya. Dante mendekat, membawa map berisi seluruh dokumen bukti yang telah mereka kumpulkan. "Semuanya sudah siap, Tuan. Joko sudah berada di ruangan sebelah, siap memberikan kesaksian jika diperlukan. Tim hukum juga sudah bersiaga." "Bagaimana kondisi Se

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Selena Terpojok

    Pagi itu, ponsel Alya berdering tepat jam tujuh, nomor tidak dikenal yang sama seperti sebelumnya. Ia melirik ke arah Arsen yang sedang bersiap-siap di ruang ganti, kemudian menjawab panggilan itu dengan suara pelan. "Alya," suara Selena terdengar tegang, jauh berbeda dari ketenangan yang ia tunjukkan kemarin. "Aku sudah membuat keputusan. Aku ingin bekerja sama dengan kalian, tapi aku butuh perlindungan segera. Reza mulai curiga bahwa aku ragu-ragu, dan aku takut dia akan bertindak lebih cepat dari rencana." "Di mana kau sekarang?" Alya bertanya, jantungnya berdebar kencang. "Aku di apartemen pribadiku di kawasan Kemang. Tapi Alya, aku pikir aku sedang diawasi. Ada mobil yang sudah parkir di depan gedung sejak semalam, dan aku yakin itu bukan kebetulan." Alya segera memberi isyarat pada Arsen yang langsung mendekat begitu melihat ekspresi seriusnya. "Tunggu, Selena. Aku akan memberitahu Arsen sekarang. Kami akan mengirim bantuan segera."

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Ruang Kerja yang Terkunci

    Malam turun lebih cepat di dalam Mahardika Mansion, atau mungkin hanya perasaan Alya saja. Sejak percakapannya dengan Arsen sore tadi, suasana rumah itu terasa semakin menekan. Dinding tinggi yang berwarna gelap, lorong panjang tanpa suara, dan tatapan para penjaga yang seolah tidak pernah benar-b

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Aturan Sang Tuan Rumah

    Mansion itu terlalu sunyi, bukan sunyi yang menenangkan. Melainkan sunyi yang seolah setiap sudutnya menyimpan rahasia, yang siap menelan siapa saja yang lengah. Alya berdiri di tengah ruang utama, ia memeluk lengannya sendiri. Lantai marmer dingin, memantulkan bayangannya yang begitu terasa asin

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Mansion yang Terlalu Sunyi

    Hujan masih turun, ketika mobil hitam itu meluncur meninggalkan gerbang Mahardika Mansion. Dari jendela kamar di lantai dua, Alya Kirana Prasetyo berdiri diam memandangi lampu mobil itu yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan. Ia tahu siapa yang berada di dalam mobil itu.

  • Terperangkap Nafsu Sang Predator   Pernikahan Tanpa Pilihan

    Hujan turun deras di kota Jakarta, Alya Kirana Prasetyo berdiri di depan cermin ruang rias, yang terasa sunyi bagi hari pernikahannya sendiri. Gaun putih yang melekat di tubuhnya terlihat begitu indah, mahal, dan sempurna. Tangannya gemetar saat menyentuh veil tipis yang menutupi sebagian wajahnya

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status