共有

100| Anindhita

作者: sidonsky
last update 公開日: 2026-04-18 19:06:15

Anindhita.

Nama itu tidak pergi begitu saja dari kepala Aruna sejak makan malam tadi. Ia justru menetap, berputar pelan di pikirannya, seperti lagu yang terus terulang tanpa diminta. Bahkan ketika malam benar-benar turun dan ia sudah berada di kamarnya, nama itu masih terasa menggantung—mengusik, memancing rasa ingin tahu yang tidak bisa ia abaikan.

Dengan gerakan cepat, Aruna menarik laptop ke pangkuannya.

Cahaya layar langsung menerangi wajahnya di tengah ruangan yang sengaja ia biarkan gela
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   138| Welcome to the Club

    Suara Gigi terdengar begitu saja, membuat Atlas menoleh dengan keningnya yang seketika bertaut. "Tante?"Namun sedetik kemudian, pandangannya beralih pada Aruna. Dan saat itu, akhirnya Atlas benar-benar paham perlawanan apa yang Aruna maksud. Membuat lelaki itu harus susah payah mengulum senyum.Gigi, Lily, dan Camelia bangkit hampir bersamaan. Terlebih saat mereka melihat Nadine dan Raka berdiri di antara Aruna dan Atlas.Aruna menahan sudut bibirnya agar tidak tertarik terlalu tinggi. Lalu berbalik dengan ekspresi pura-pura terkejut. "Tante?" katanya manis. "Tante nge-golf di sini juga?"Sebelum menjawab, Gigi merapikan rambutnya seraya tersenyum tipis. "Ngomong-ngomong... ini?""Ah!" Aruna berseru antusias, ia langsung menarik Nadine sedikit mendekat. "Nadine, ini Tante Gigi, Tante Lily, dan Tante Camelia. Tantenya Mas Atlas."Satu per satu ia memperkenalkan dengan sopan."Tante..." Nadine langsung melangkah satu langkah ke depan. Jemarinya bahkan menyentuh bagian depan rok yang ia

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   137| Keberhasilan Awal

    Tidak ada yang bisa mengalahkan senyuman sumringah Aruna di pagi yang terik itu.Sejak keluar dari dalam rumahnya, masuk ke dalam Lamborghini Veneno hitam milik Atlas, sampai mobil supercar itu melesat membelah jalanan ibu kota, senyum itu tidak pernah benar-benar hilang dari wajahnya. Bahkan beberapa kali, Atlas yang duduk di sebelahnya melirik dengan ekspresi curiga.Namun Aruna justru tampak semakin bersemangat.Jari-jarinya sibuk mengetuk paha mulusnya mengikuti irama lagu yang samar terdengar dari speaker mobil, sementara bibirnya tak berhenti membentuk senyum kecil yang sulit dijelaskan. Kacamata hitam bertengger manis di batang hidungnya, rambut panjangnya diikat ponytail rendah dengan beberapa helai sengaja dibiarkan membingkai wajah."Kamu kelihatan mencurigakan."Aruna menoleh, lalu tersenyum semakin lebar. "Terima kasih."Respon tidak nyambung yang jelas membuat Atlas mendengus pelan. Karna tentu, bukan jawaban itu yang ia harapkan.Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   136| Menyusun Rencana

    Suasana ruang meeting akhirnya mulai lengang setelah hampir dua jam penuh Aruna menghabiskan waktunya bersama tim brand, editor majalah, dan beberapa klien yang sejak tadi terus melemparkan ide untuk campaign bulan depan.Layar besar di ujung ruangan baru saja dimatikan, beberapa orang mulai membereskan laptop dan dokumen masing-masing, sementara Aruna masih duduk di kursinya dengan satu kaki menyilang santai, jemarinya memainkan pulpen di atas meja kaca.Wajahnya terlihat tenang.Namun sorot matanya, jelas sedang memikirkan sesuatu.Begitu pintu meeting tertutup dan hanya menyisakan dirinya bersama Kelly, Aruna menyandarkan tubuhnya ke kursi empuk di belakang, lalu memutar sedikit kepalanya ke arah asistennya."Gimana informasi yang aku minta tolong cariin?"Kelly yang sejak tadi berdiri sambil memegang tablet langsung mengembuskan napas panjang, seperti akhirnya mendapat izin untuk menyampaikan hasil pencariannya. Ia berjalan mendekat, membuka beberapa file yang sudah tersusun rapi,

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   135| Medan Permainan

    "Ayahmu sudah merestuinya?"Pertanyaan itu jatuh begitu saja, ringan di telinga, tapi cukup untuk membuat suasana meja makan berubah dalam sekejap.Aruna yang sedang memegang garpunya ikut menegang tanpa sadar. Bahkan Ratna yang duduk tepat di seberang sempat menghentikan gerakan tangannya.Sementara Atlas, jemarinya berhenti sesaat di atas pisau steaknya.Hanya sepersekian detik, begitu singkat sampai mungkin orang lain tidak akan menyadarinya.Namun Aruna melihat.Melihat bagaimana ruas jemari lelaki itu sempat mengencang, urat tipis di punggung tangannya sedikit menonjol, sebelum akhirnya Atlas kembali melanjutkan gerakannya seolah tidak terjadi apa-apa.Pisau itu memotong daging di piringnya dengan tenang, rapi, presisi. Dan ketika Atlas akhirnya mengangkat pandangannya, senyum kecil itu masih ada.Senyum sopan yang terlalu tenang untuk disebut biasa."Direstui atau tidak," ucapnya pelan, menatap lurus pada Gigi, "pilihan hidup saya bukan sesuatu yang bisa diganggu gugat, Tante."

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   134| Jamuan di Labirin Bahaya

    Suasana di dalam sedan hitam milik Atlas terasa jauh lebih sibuk dibanding perjalanan mereka sore tadi, sementara mesin mobil melaju halus membelah jalanan ibu kota yang mulai padat menjelang malam.Di kursi penumpang, Aruna sudah membuka tas kecil yang tadi ia minta Kelly bawakan ke rumah sakit. Isi tas itu kini memenuhi pangkuannya, lip tint, compact powder, sisir kecil, parfum travel size, dan beberapa hair pin yang berkilau terkena cahaya lampu kabin.Dengan wajah serius, Aruna menatap pantulan dirinya di cermin kecil.Sesekali ia menepuk bagian bawah matanya dengan puff, membenarkan concealer yang sedikit memudar, lalu merapikan kembali ujung rambut lurusnya yang jatuh di bahu.Di sebelahnya, Atlas duduk tenang sambil memegang cermin kecil itu agar Aruna bisa bebas menggunakan kedua tangannya.Sudah hampir lima belas menit dan Aruna belum selesai. Membuat Atlas yang sudah mulai pegal karna tak diperbolehkan bergerak, mendengus pelan."Sudah rapi."Aruna melirik sekilas, namun buk

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   133| My Fiancée

    "Tidak ada benda asing yang mengenai kulitnya."Suara Athar terdengar tenang, memenuhi ruang periksa yang dipenuhi aroma antiseptik dan cahaya putih dari lampu pemeriksaan di atas kepala mereka. Dari posisi tidurnya di atas bed pemeriksaan, Aruna langsung melirik ke arah Atlas dengan tatapan geram, jelas masih kesal karena merasa dirinya dibawa ke rumah sakit untuk sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak perlu.Di sisi lain ruangan, Athar sudah melepas masker medisnya, lalu menarik sarung tangan lateks dari kedua tangannya dengan gerakan santai. Setelah membuangnya ke tempat sampah medis, ia membenarkan posisi kacamatanya, lalu tanpa aba mengulurkan tangan ke arah Aruna.Gerakannya begitu natural, begitu biasa, seperti dokter yang memang sedang membantu pasiennya."Pelan."Aruna menerima bantuan itu tanpa banyak pikir. Jemari Athar menopang sikunya saat ia bangkit dari posisi berbaring dan duduk di tepi ranjang. Namun gerakan sederhana itu rupanya cukup untuk membuat suasana di ruan

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   12| Penyusup

    Aruna merebahkan dirinya di atas kasur double size yang hampir memenuhi setengah ruangan kamar itu. Sprei yang membungkusnya bermotif bunga-bunga kecil berwarna pastel—mawar merah muda, daun hijau pucat, dan tangkai tipis yang menjalar acak seperti taman kecil yang digambar di atas kain. Terlalu h

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   33| Studio Rekaman

    Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   32| Pertunjukan

    Pagi itu, landasan bandara masih dipenuhi sisa dingin malam yang belum sepenuhnya hilang. Langit berwarna pucat, dan suara mesin pesawat yang mendarat terdengar berat, membelah udara yang tenang. Aruna berdiri di samping mobil hitam mengilap, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuhnya. A

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   31| Tamu Tak Diundang

    Gerimis tipis mulai turun ketika sore merangkak menuju malam. Dari balik kaca besar studio, butiran air tampak berlomba jatuh, meninggalkan jejak samar yang perlahan mengaburkan pemandangan kota di luar sana. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana sendu yang entah kenap

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status