Partager

94| Serangan Tajam

Auteur: sidonsky
last update Date de publication: 2026-04-16 22:08:41

"Anda mau mempermainkan saya?!"

Suasana langsung jatuh ke dalam keheningan yang menyesakkan.

Atlas melemparkan tablet di tangannya ke atas meja dengan suara yang cukup keras untuk membuat jantung siapa pun berdegup lebih cepat.

"Jelaskan kepada saya," lanjutnya, suaranya masih rendah tapi sarat tekanan, "bagaimana bisa terjadi pembengkakan biaya hampir tiga puluh persen tanpa laporan rinci? Di sini tertulis pengeluaran tambahan untuk material, tenaga kerja, hingga logistik... tapi tidak ada sat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   187| Kotak Cincin

    Suasana kantor Heartline di lantai paling atas gedung pencakar langit itu masih dipenuhi kesibukan meskipun hari sudah menjelang sore. Beberapa orang dari tim keuangan masih sibuk melakukan panggilan dengan calon investor, sementara bagian legal mondar-mandir membawa berkas yang terus bertambah. Krisis yang menimpa Heartline belum juga menemukan jalan keluar. Satu per satu investor menarik diri, membuat perusahaan harus menahan napas lebih lama dari biasanya. Untuk sementara, Atlas bahkan turun tangan menggunakan dananya sendiri untuk memastikan kebutuhan operasional kantor tetap berjalan. Entah sudah kopi keberapa yang diminumnya hari ini, lelaki itu bahkan tidak lagi mengingat rasanya. Yang ia tahu, setiap tegukan hanya membantu menjaga matanya tetap terbuka di tengah tekanan yang tidak kunjung berhenti.Namun, di antara seluruh angka, laporan, dan suara orang-orang yang terus berdiskusi di sekelilingnya, ada satu hal yang justru terasa mengganggu pikirannya sejak beberapa jam te

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   186| Meninggalkan Kenangan

    Tidak ada yang mengetahui pertemuan Aruna dan Wicaksono beberapa hari lalu, terlebih Atlas itu sendiri.Keputusan itu tidak langsung diambil dalam satu malam. Aruna tidak tiba-tiba memutuskan Atlas begitu saja. Ia melakukannya perlahan, seperti seseorang yang mencabut jarum berkarat dari kulitnya, harus sedikit demi sedikit agar lukanya tidak menganga terlalu dalam.Mulanya, Aruna membatalkan janji makan malam mereka dengan alasan ada jadwal mendadak. Lalu, ia menolak saat Atlas menawarkan untuk menjemputnya, beralasan cuaca sedang buruk dan lebih baik lelaki itu tetap di kantor. Ketika Atlas mengirim pesan bahwa ia ingin singgah ke rumah, Aruna membalas dengan kata-kata singkat: Aku udah istirahat, Mas. Besok aja. Setiap kali Atlas mencoba menembus jarak yang mulai Aruna bangun, gadis itu selalu menemukan alasan baru, dinding baru, hingga ruang di antara mereka terasa begitu luas dan sepi.Hingga sore ini.Di ruang tengah rumah yang kini terasa hampa, Aruna duduk kaku di sofa. Mata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   185| Harga Sebuah Perpisahan

    Siang itu, sebuah ruangan privat di salah satu restoran mewah di pusat kota tampak begitu tenang. Aruna duduk sendiri di salah satu sisi meja panjang yang telah dipesannya sejak satu jam lalu. Secangkir teh hangat di hadapannya sudah kehilangan uap, sama seperti makanan yang bahkan belum sempat ia sentuh sedikit pun. Jari-jarinya terus menggenggam ponsel, sementara layar di hadapannya dipenuhi deretan berita yang tak berhenti bermunculan sejak pagi.[EKSKLUSIF: NAMA WICAKSONO IKUT TERSERET DALAM DUGAAN PENGGELAPAN PAJAK]Aruna mengerutkan dahinya. Ia membuka berita itu dengan napas tertahan, membaca setiap kalimat demi kalimat yang membuat wajahnya semakin pucat. Meski isi beritanya belum memiliki bukti kuat, opini publik sudah lebih dulu menjatuhkan vonis. Di kolom komentar, ribuan orang menyeret nama keluarga Wicaksono ke dalam pusaran masalah yang sama. Beberapa menyebut Heartline hanyalah perusahaan yang dibangun di atas kebohongan, sementara yang lain menuding keluarga itu se

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   184| Downfall Era

    Butuh waktu cukup lama sampai Aruna benar-benar tenang. Semua tirai rumah ditutup rapat, suara kerumunan di luar memang masih terdengar sesekali, tetapi setidaknya ia tidak perlu melihat mereka secara langsung. Kini Aruna duduk meringkuk di sofa ruang tamu, di tangannya terdapat secangkir cokelat hangat yang dibuatkan Amanda, sementara ponselnya masih menempel di telinga."Iya, Tante Amanda di sini," ucap Aruna pelan ke ponselnya.Suara Atlas terdengar dari seberang, nada bicaranya terdengar lelah tapi tetap berusaha tenang."Mas Atlas nggak usah khawatir," kata Aruna lagi, melirik Amanda yang sedang duduk di kursi sebelah. Wanita itu membalas dengan senyum kecil. "Iya. Hati-hati."Beberapa detik kemudian panggilan terputus. Aruna meletakkan ponselnya di atas meja kaca. Amanda lalu mendorong secangkir teh hangat ke depan dirinya sendiri sebelum kembali menatap Aruna."Jadi," katanya pelan, "kontrak itu bohong?"Pertanyaan tembakan itu membuat Aruna menunduk, dengan jemarinya yang sali

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   183| Pelukan Dalam Kegelapan

    Aruna tidak tidur malam itu. Sejak pesan anonim itu kembali masuk ke ponselnya, ia hanya meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Lampu kamar sudah lama dimatikan, menyisakan cahaya temaram dari layar ponsel yang sejak tadi tak pernah benar-benar ia lepaskan dari genggamannya. Matanya terus kembali pada kalimat yang sama.Membiarkan Atlas tenggelam di kapalnya sendiri. Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan menggores bagian paling sensitif dalam hatinya, karena jauh di dalam dirinya, di tempat yang paling enggan ia akui, Aruna tahu kenapa kalimat itu begitu menyakitkan. Karena sebagian dirinya takut itu benar.Sejak kontrak mereka bocor, semua hal buruk seolah datang bertubi-tubi. Nama Atlas diseret ke mana-mana, Heartline kehilangan kepercayaan publik, investor mulai mempertanyakan kredibilitas perusahaan, saham bergerak tidak stabil, dan media menyerang tanpa henti. Dan dirinya? Dirinya hanya menjadi pusat badai itu. Aruna memejamkan mata

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   182| Limbo

    Malam sudah turun ketika Aruna akhirnya sampai di kediamannya. Tubuhnya terasa lelah, bukan hanya karena jadwal yang padat, tetapi juga karena semua hal yang terjadi hari ini seperti menghantamnya tanpa jeda.Van yang membawanya berhenti perlahan di depan rumah. Pintu otomatis bergeser terbuka dengan suara lirih, dan Aruna menghela napas panjang sebelum melangkah turun.Namun baru beberapa langkah menjauh dari mobil, sorot lampu terang tiba-tiba menyapu halaman rumahnya dari arah belakang. Aruna refleks memutar tubuh, dan sebuah Lamborghini hitam berhenti tepat beberapa meter di belakang van miliknya. Jantungnya berdegup.Pintu mobil sport itu terbuka, dan Atlas turun dari sana. Dengan jas gelap yang masih melekat rapi di tubuhnya, wajah tegang, serta langkah cepat yang sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi Aruna untuk bereaksi."Mas Atlas?"Belum sempat Aruna mengucapkan apa pun lagi, Atlas sudah sampai di hadapannya. Lelaki itu langsung menarik tubuh Aruna ke dalam pelukan, e

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   159| Datangnya Masa Lalu

    Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit ballroom memantulkan cahaya keemasan ke segala arah, membuat seluruh ruangan malam itu tampak seperti potongan dunia lain yang terlalu sempurna untuk disebut nyata. Begitu Aruna menginjakkan kakinya ke dalam ballroom hotel bintang tujuh yang

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   155| Jalan Masuk

    Sudah tiga hari sejak kepulangannya dari Kyoto, dan selama tiga hari itu juga Aruna belum bertemu Atlas sama sekali. Setelah mereka kembali ke Ibu kota, lelaki itu harus terbang lebih dahulu karena sebuah pekerjaan mendadak yang, menurut asistennya, tidak bisa ditunda bahkan satu jam pun. Aruna s

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   151| He's Awake

    "Tapi saya mau."Ucapnya, lalu kembali menciumi Atlas. Kali ini tak memberikan waktu untuk Atlas melayangkan protesnya, bibir Aruna mendarat di dada lelaki itu, lidahnya menyapu, dan giliran Aruna yang menjilat puting Atlas.Efeknya seketika.Tubuh Atlas menegang seluruhnya, otot-otot di perutnya b

  • Pak, Jangan! Nanti Ketahuan!   150| Tapi Saya Mau

    "Saya... belum pernah."Tiga kata itu jatuh di antara mereka seperti batu yang dijatuhkan ke kolam yang tenang.Riaknya terasa seketika.Atlas berhenti. Benar-benar berhenti. Tangannya tak bergerak lagi, tubuhnya tak menekan lagi, dan matanya yang tadinya gelap dan lapar kini berubah perlahan menja

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status