LOGINPagi itu datang dengan cara yang terlalu menyenangkan untuk disebut biasa.Sejak Aruna membuka mata dan berguling kecil di atas kasur luas yang masih menyimpan wangi khas Atlas, senyumnya tak kunjung hilang. Aroma itu seperti tertinggal di bantal, di seprai, bahkan di udara yang ia hirup perlahan.Hangat, familiar, dan entah kenapa... menenangkan.Ia menatap langit-langit kamar beberapa detik lebih lama dari biasanya, lalu menutup mata lagi hanya untuk memastikan bahwa semua ini nyata. Bahwa ia benar-benar kembali ke rumah ini. Bahwa semalam bukan mimpi.Bahwa sekarang... ia berada di ruang yang sama dengan lelaki yang perlahan mengacaukan ritme hidupnya.Dengan napas ringan, Aruna bangkit. Kakinya menyentuh lantai dingin sebelum ia mengenakan sandal bulu warna pink kesayangannya. Langkahnya ringan, hampir seperti melayang, saat ia berjalan menuju kamar mandi dan mulai bersiap.Make-up tipis ia poleskan di depan cermin, cukup untuk membuat wajahnya terlihat segar tanpa berlebihan. Ram
Kadang, kejadian buruk dan baik memang datang dalam satu waktu yang bersamaan. Seolah semesta memiliki caranya sendiri untuk menyeimbangkan segalanya, memberi sedikit kebahagiaan, lalu menyelipkan kegelisahan di sela-selanya. Di satu sisi, semuanya tampak berjalan sesuai rencana, bahkan nyaris sempurna. Namun di sisi lain, ada sesuatu yang diam-diam bergeser, membuat semuanya terasa rapuh jika disentuh terlalu dalam.Aruna berdiri di depan rumah itu, menatap bangunan besar yang pernah ia tinggalkan dengan langkah berat. Ingatan itu masih terlalu jelas. Bagaimana waktu itu ia melangkah pergi dengan dada sesak, menahan perasaan yang bahkan tak sempat ia akui sepenuhnya. Pintu itu tertutup di belakangnya, seolah menandai bahwa ia bukan bagian dari dunia itu.Namun sekarang, ia kembali.Dua koper besar berada di sampingnya, roda kecilnya berdecit pelan saat dua orang pengawal Atlas menyeretnya melewati halaman yang rapi dan terlalu sempurna untuk terlihat nyata.Langkahnya tidak lagi se
"Jadi, kalian sudah menjadi pasangan kekasih betulan, sekarang?"Suara itu muncul tiba-tiba dari ponsel Aruna, memecah keheningan yang masih menggantung setelah kejadian beberapa detik lalu. Nada bicaranya santai, bahkan cenderung ringan, tapi justru itu yang membuatnya terasa jauh lebih mengganggu.Sontak, mata Aruna membulat sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara dahinya mengernyit dalam kebingungan dan ketakutan yang datang bersamaan. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali ia membuka panggilan—atau bagaimana bisa ada seseorang di ujung sana yang mendengar cukup banyak untuk menyimpulkan hal seperti itu.Dalam hitungan detik, Atlas menyadari perubahan ekspresi itu.Tanpa bertanya, tangannya bergerak cepat mengambil ponsel dari tangan Aruna yang masih kaku. Layarnya masih menyala, menampilkan nomor tak dikenal. Rahangnya mengeras saat ia langsung menempelkan ponsel itu ke telinganya."Jadi ini, Pak Atlas yang terkenal itu?"Nada suara di seberang terdengar penuh mi
Tak ada gerakan mundur dari Atlas setelah lima belas detik menempelkan bibirnya pada bibir Aruna.Lima belas detik yang terasa seperti lima belas menit. Limabelas detik di mana di luar sana, sebuah kamera paparazzi masih memantau, siap mencernakan apa pun yang mereka tangkap menjadi bahan pemuasan rasa ingin tahu publik.Kedua mata lelaki itu juga masih terbuka. Sama dengan miliknya.Dan itu yang membuat Aruna tidak bisa berpikir jernih. Mata Atlas tidak pernah sehitam ini, bukan dalam arti warna, melainkan dalam arti bobot. Seolah ada gravitasi tambahan yang tertarik di dalam kedua manik itu.Sorot lampu jalanan yang menembus kaca mobil memantul di iris hitam Atlas, menciptakan kilatan kecil yang membuat Aruna lupa bahwa di luar sana, reputasinya sedang dijadikan santapan.Awalnya hanya sebuah kecupan. Tapi Atlas tidak mundur.Dan detik-detik itu berubah dari sekadar akting menjadi sesuatu yang Aruna tidak punya nama untuknya.Aruna mengerjap.Seolah baru tersadar dari suatu, Aruna m
"Wow!"Suara Athar menggema di lapangan, diikuti pantulan bola tenis yang terakhir kali memantul di sisi lapangan Atlas sebelum akhirnya keluar garis. Skor di papan kecil di pinggir lapangan menunjukkan angka akhir set itu. Dalam permainan tenis, siapa yang lebih dulu mencapai enam poin dengan selisih minimal dua angka, dialah yang memenangkan set, dan kali ini, Athar berhasil mengamankan kemenangan itu dengan pukulan forehand yang tajam dan sulit dijangkau.Ia menurunkan raketnya dengan napas yang masih memburu, dada naik turun setelah rally panjang yang baru saja terjadi. Keringat membasahi pelipisnya, menetes hingga ke rahang, sementara senyum puas terukir jelas di wajahnya.Di seberangnya, Atlas berdiri dengan postur tetap tegap meski napasnya tak kalah berat. Ia memutar raket di tangannya sebentar sebelum akhirnya tersenyum tipis, senyum tipis khasnya yang jarang benar-benar terbuka.Keduanya berjalan mendekat ke net, lalu saling menepuk tangan dalam salaman singkat. Tak ada kat
Aruna tidak benar-benar tidur malam itu.Matanya memang sempat terpejam, tubuhnya sempat beristirahat, tapi pikirannya... tidak pernah benar-benar diam. Nama itu terus berputar di kepalanya, wajah itu terus muncul tanpa diminta, dan yang paling menyebalkan, cara Atlas bereaksi ketika nama itu disebut, terus terulang seperti potongan adegan yang tak bisa ia hentikan.Menyebalkan.Tapi juga... menyakitkan, dengan cara yang tidak ia duga.Aruna membalikkan tubuhnya di atas ranjang ketika matahari mulai muncul, menatap langit-langit kamar yang perlahan terang. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri.Semua orang punya masa lalu, kan?Bahkan dirinya juga punya.Ia dan Agasa... lebih dari setengah dekade bersama. Itu bukan waktu yang sebentar. Tapi sekarang? Ia bahkan tidak bisa lagi mengingat dengan jelas bagaimana rasanya mencintai lelaki itu. Yang tersisa hanya kesal, jengkel, dan sedikit rasa malas kalau namanya kembali muncul.Cepat-cepat ia menggeleng, seolah bi
Beberapa hari terakhir terasa seperti berjalan di atas garis tipis yang tak terlihat. Aruna mencoba kembali ke rutinitasnya, bangun pagi, membaca naskah, menghadiri meeting, tertawa di depan kamera, semua dilakukan dengan rapi, nyaris tanpa cela. Dari luar, tak ada yang berubah. Ia tetap Aruna yan
Sejak pagi, Aruna sudah tidak bisa diam.Kakinya bergerak gelisah bahkan saat ia masih duduk di depan meja rias, membiarkan kuas demi kuas menyentuh wajahnya. Tabia beberapa kali menegur pelan, meminta Aruna untuk tidak terlalu banyak bergerak karena eyeliner-nya hampir melenceng, namun yang ditang
Rekaman selesai lebih cepat dari yang diperkirakan. Suara terakhir Aruna yang lembut dan profesional masih menggema samar di kepalanya, bahkan setelah headphone dilepas dan pintu ruang kedap suara itu terbuka kembali. Ia melangkah keluar dengan napas yang sedikit lebih ringan, meskipun pikirannya
Sejak kebodohan di bandara beberapa waktu lalu, Aruna seperti memaksakan dirinya untuk kembali berpijak pada realita. Ia berulang kali mengingatkan diri sendiri bahwa apa yang terjadi antara dirinya dan Atlas bukanlah sesuatu yang nyata—bukan hubungan yang bisa ia genggam, bukan perasaan yang bole







