Aku tetap kembali ke ruang perawatan, Karena keras kepala adalah kebiasaan.Karena kalau aku berhenti bergerak, aku mungkin akan hancur.Karena penyembuhan adalah satu-satunya bahasa yang pernah kupercayai.Ruangan itu berbau sama. Seprai bersih, rempah-rempah yang dihancurkan, sedikit aroma antiseptik alkohol. Sinar matahari menyaring melalui jendela tinggi, debu-debu melayang malas di udara. Untuk sesaat, bahuku rileks.Normal.Aku bisa melakukan hal normal.“Kiara,” kata seseorang, terkejut.Aku mengangguk tanpa melihat ke atas, sudah meraih baskom. Tanganku mengenal pekerjaan ini. Mereka mengingatnya meskipun bagian tubuhku yang lain tidak. Aku membilasnya, mengeringkannya, mengikat kembali lengan bajuku dengan efisien.Sebuah erangan memecah keheningan ruangan.Sakit.Sakit yang nyata. Jenis sakit yang tidak peduli dengan politik, ikatan, atau penghinaan.Bagus.Sesuatu yang bisa kup
Baca selengkapnya