Mendengar permintaan itu, raut wajah Kolonel Satria langsung berubah. Rahangnya mengeras, dan sorot matanya yang biasanya tajam kini tampak bergumul dengan gejolak batin yang luar biasa. Itu adalah aset negara yang sangat dijaga ketat, sebuah rahasia yang bahkan hanya segelintir petinggi militer yang mengetahui keberadaannya. Namun, saat dirinya teringat akan sosok Jenderal Haryo yang terbaring lemah, logika Satria mulai luruh. Di matanya, nyawa Jenderal Haryo jauh lebih berharga daripada sebongkah batu meteorit, seberapa pun langkanya benda itu.Setelah dia berpikir dalam diam untuk beberapa saat, Satria akhirnya bicara, "Tunggu sebentar, aku harus bicara dulu dengan seseorang." Tanpa menunggu jawaban dari Davien yang masih duduk tenang dengan tatapan misteriusnya, dia pergi menjauh dari sana dan melangkah cepat keluar menuju balkon yang sunyi.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Satria merogoh saku seragamnya, lalu langsung menelepon seseorang melalui jalur komunikasi terenkripsi
Read more