"Bagus," sahut Davien datar. "Tetua Garra, kau dan anggota elit Kelompok Pembunuh Bayangan menyebar di batas timur. Tugas kalian bukan menerobos masuk, melainkan memotong jalur melarikan diri bagi anggota Teratai Hitam yang panik."Tetua Garra membungkuk dalam-dalam. "Aku mengerti, Tuan Muda! Tidak akan ada satu pun tikus dari Teratai Hitam yang lolos dari sisi timur!""Pergilah," perintah Davien.Dengan satu gerakan tangan, Tetua Garra memimpin belasan prajurit elit dan segera menghilang ke dalam pekatnya semak-semak, bergerak senyap bagaikan siluet malam.Davien menarik nafas panjang. Di dalam tubuhnya, aliran hawa murni mengalir deras, menyesuaikan frekuensi energinya dengan gejolak alam di sekitarnya. Dia merogoh Lencana Pedang Agung di balik saku jaketnya. Giok putih itu mulai bergetar halus, menandakan waktu yang dijanjikan makin mendekat.Waktu bergerak merayap. Garis tipis fajar perlahan menembus awan hitam di ufuk timur.Tiba-tiba, sebuah pendar cahaya keemasan membumbung ti
Read more