Ruangan itu menjadi hening setelah ucapan Davien. Tidak ada satu pun dari mereka yang segera berbicara.Mo Yuan menatap Davien cukup lama, seolah berusaha membaca pikiran pemuda yang berdiri di hadapannya.Matanya yang tajam menyapu setiap jengkal ekspresi Davien—mulai dari cara berdiri pemuda itu yang tegap hingga lipatan kemeja hitam aneh yang dikenakannya. Namun wajah Davien terlalu tenang. Tidak ada rasa takut, tidak ada keraguan, bahkan tidak tampak sedikit pun keinginan untuk mundur di balik tatapan matanya yang sedingin cermin es abadi.Kegagalan untuk menemukan kegentaran pada diri Davien membuat ketenangan yang dipupuk Mo Yuan selama bertahun-tahun meretak tipis.Akhirnya Mo Yuan mengalihkan pandangannya kepada wanita tua di atas tempat tidur, mengamati napas teratur pasien yang dadanya kini tidak lagi bergetar histeris."Kalau begitu, izinkan kami memeriksa pasien," ujar Mo Yuan, memecah keheningan dengan nada suara yang tetap terjaga sopan."Untuk apa?" tanya Davien pendek
Read More