Kalimat ancaman itu menggantung di udara, belum sempat tuntas, namun maut sudah lebih dulu mengetuk pintu kesadaran mereka. Bagi orang awam, gerakan Davien tidak terlihat, yang ada hanyalah pergeseran bayangan yang menyatu dengan remang lorong.Dua penjaga itu bukanlah amatir. Mereka adalah serigala-serigala yang dibesarkan di medan perang, otot mereka kaku oleh latihan, dan refleks mereka setajam silet. Namun, di hadapan Davien, orang-orang itu tak ubahnya patung lilin yang menunggu leleh."Kau salah memilih lawan, anak muda!" teriak penjaga di sisi kiri sembari menarik pelatuk.Klik! Suara itu terdengar pelan, namun bagi telinga seorang praktisi tingkat tinggi, itu adalah simfoni kegagalan. Davien sudah tidak di sana. Ujung jarinya menyentuh laras senjata itu dengan kelembutan seorang pelukis, namun kekuatan yang disalurkan sanggup meremukkan baja."Senjata adalah perpanjangan dari rasa takutmu," bisik Davien dingin. "Dan rasa takutmu ... sangat berisik."Dengan satu putaran perg
Read more