Huza Ergen langsung berbalik. Tanpa membuang waktu sedikit pun, dia menerobos keramaian arena rumah bordil. Langkahnya cepat, meskipun tubuhnya masih sempoyongan akibat arak. “Guli Neya!” teriaknya, nyaris tak terdengar diredam keramaian. Hanya saja, beberapa wanita Ling Long yang sedang duduk di sekitar meja segera menoleh. “Tuan?” “Cari siapa?” “Wanita yang tadi bersamamu?” Suara mereka dominan lemah lembut, tapi tidak satu pun pertanyaan itu dijawab. Huza Ergen terus berjalan. Tatapannya bergerak ke segala arah, menyisir setiap sudut ruangan. Dia berjalan ke dekat panggung, menyibak tirai, mencari di antara meja-meja, bahkan ke arah tangga yang mengarah ke lantai atas. Tidak ada. “Guli Neya!” Dia kembali memanggil. Seorang pelayan yang sedang membawa nampan segera menghampirinya. “Tuan, apa Anda sedang mencari seseorang?” “Wanita yang tadi bersamaku. Ke mana dia pergi?” Huza Ergen tak sabar ingin tahu jawabannya. Wanita itu berpikir sejenak. Lalu, menjawab, “Seperti
Read more