Di tengah savana yang seolah-olah tidak berujung, di antara rumput ilalang setinggi perut kuda, suara puluhan pasang kaki kuda mengguncang tanah. Pada barisan paling depan, Huza Ergen memacu kudanya secepat angin. Jubah bulu khas suku Tiele berkibar liar di belakang tubuhnya. Rambut panjang pria itu bergerak mengikuti terpaan angin, sementara wajahnya sangar, dingin, tetapi jika diperhatikan lebih teliti, sudut bibirnya justru sedikit terangkat. Di sebelahnya, Ashile Sun memacu kudanya tak kalah cepat. Wajah pria itu sama kerasnya, tatapannya lurus ke depan. Di belakang mereka, puluhan pria suku Tiele ikut memacu kuda masing-masing. Beberapa membawa busur, sebagian lainnya membawa pedang melengkung. Suasana mereka sama sekali tidak tampak seperti pasukan yang hendak pergi berperang. Namun, lebih mirip sekelompok pemburu yang sedang menuju perburuan paling menarik dalam hidup mereka. “HA!” Huza Ergen kembali menghentakkan kedua tumitnya ke sisi tubuh kuda. Kudanya melesat se
Read more